Pemerintah Ungkap RI Dilirik Masuk Ekosistem AI Dunia

14 hours ago 15

Jakarta, CNBC Indonesia - Kecerdasan buatan (AI) menjadi kiblat perkembangan teknologi dunia. Hal ini memiliki konsekuensi terhadap permintaan energi yang besar untuk mendukung ekosistem AI, seperti komputer dan pusat data (data center).

Kebutuhan akan energi tersebut membuat para perusahaan raksasa AI melirik Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang merupakan ladang energi.

Deputi Promosi Penanaman Modal dan Hilirisasi Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan mengungkapkan ketertarikan perusahaan AI terhadap potensi energi di Indonesia untuk menopang pusat data.

"Yang saya bisa katakan pasti adalah ketertarikannya ada," ucapnya kepada wartawan saat ditemui di Wisma Danantara pada Jumat (9/1/2026).

Meskipun demikian, Nurul masih menutup rapat-rapat perusahaan AI mana saja yang memiliki ketertarikan berinvestasi di Indonesia.

Badan Energi Internasional (IEA) mengungkapkan konsumsi listrik untuk pusat data diperkirakan mencapai sekitar 415 terawatt jam (TWh), atau sekitar 1,5% dari konsumsi listrik global pada 2024. Konsumsi tersebut telah tumbuh sebesar 12% per tahun selama lima tahun terakhir.

IEA pun menyebut kebutuhan listrik tersebut akan berlipat ganda pada 2030 atau memakan porsi 3% dari keseluruhan total konsumsi listrik dunia.

"Skenario Dasar kami menemukan bahwa konsumsi listrik global untuk pusat data diproyeksikan akan berlipat ganda hingga mencapai sekitar 945 TWh pada tahun 2030, yang mewakili kurang dari 3% dari total konsumsi listrik global pada tahun 2030," ungkap laporan IEA dikutip Jumat (9/1/2026).

"Dari tahun 2024 hingga 2030, konsumsi listrik pusat data tumbuh sekitar 15% per tahun, lebih dari empat kali lebih cepat daripada pertumbuhan total konsumsi listrik dari semua sektor lainnya," sambungnya.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |