Jakarta, CNBC Indonesia - Cara mengenali orang dengan kecenderungan narsistik ternyata tak melulu dari sikap atau gaya bicara. Penelitian terbaru menemukan, petunjuknya bisa muncul dari hal sederhana yang sering luput diperhatikan yaitu dari bentuk alis.
Studi ini menunjukkan, orang bisa menilai tingkat narsisme hanya dari tampilan wajah, bahkan saat ekspresi netral. Salah satu fitur yang paling "berbicara" adalah alis, terutama yang terlihat tebal, tegas, dan terawat.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kesan pertama secara visual memainkan peran besar dalam membaca kepribadian seseorang. Dalam konteks ini, alis bukan sekadar bagian estetika wajah, tapi juga sinyal sosial yang kuat.
Mengutip IFL Science, narsistik sendiri biasanya merujuk pada individu yang merasa dirinya lebih unggul dibanding orang lain. Dalam konteks psikologis, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan kepribadian, di mana seseorang terus mencari pengakuan dan kekaguman, namun minim empati terhadap orang lain.
Istilah ini berasal dari kisah Yunani kuno tentang Narcissus, sosok yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Dalam praktiknya, individu dengan kecenderungan narsistik tinggi biasanya memiliki tingkat "cinta diri" yang sangat dominan.
Meski kerap terlihat percaya diri, menawan, dan menyenangkan, mereka juga cenderung menunjukkan perilaku egois serta gemar memamerkan kemampuan atau penampilan.
Penelitian dari University of Toronto yang dipublikasikan dalam Journal of Personality menemukan, individu dengan bentuk alis yang lebih mencolok cenderung menunjukkan ciri narsistik lebih kuat.
Untuk sampai pada kesimpulan ini, peneliti memotret hampir 40 mahasiswa dengan ekspresi wajah netral. Mereka kemudian diminta menjalani tes psikologis Narcissistic Personality Inventory guna mengukur tingkat narsisme.
Foto-foto tersebut lalu ditunjukkan kepada kelompok peserta lain, yang diminta menebak tingkat narsisme hanya berdasarkan tampilan wajah.
Hasilnya, peserta cukup akurat dalam menilai, dan alis menjadi salah satu faktor utama. Ketebalan serta kerapian alis sering digunakan sebagai indikator dalam penilaian tersebut.
Peneliti juga menguji ulang dengan memodifikasi bentuk alis pada foto. Ketika alis narsistik diganti menjadi lebih biasa, tingkat persepsi narsisme pun ikut menurun, dan sebaliknya.
Temuan ini menunjukkan, alis memiliki peran penting dalam komunikasi nonverbal. Meski mekanisme pastinya belum dijelaskan, peneliti menilai alis adalah bagian wajah yang sangat sensitif dalam menyampaikan identitas dan kesan sosial.
Penelitian tersebut juga mencatat individu dengan narsisme tinggi cenderung lebih memperhatikan penampilan. Mereka umumnya mengenakan pakaian yang lebih modis, terlihat rapi, dan berusaha tampil menarik untuk mendapatkan perhatian serta kekaguman.
(hsy/hsy)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425451/original/060959200_1764227597-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Persija_vs_PSIM_Jogja__1_.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277129/original/053973300_1751984892-persib.jpeg)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5416895/original/041798400_1763475083-20251118BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mali-1.JPG)