Perang di Mana-mana, Bank Dunia Sebut Utang Banyak Negara Meledak!

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Dunia atau World Bank memperkirakan terjadinya tekanan fiskal di banyak negara imbas dari berkecamuknya konflik di berbagai belahan dunia dalam satu dekade terakhir.

Peperangan menurut Bank Dunia terbukti telah memperlambat laju pertumbuhan dan akhirnya menggerus pendapatan negara. Diperburuk dengan makin besarnya kebutuhan belanja pertahanan maupun pemulihan pasca perang hingga harus mendorong kebutuhan utang makin tinggi.

Dalam Global Economic Porspect (GEP) edisi Januari 2025, Bank Dunia memperkirakan, terjadinya percepatan laju pertumbuhan utang beberapa tahun mendatang di negara-negara ekonomi berkembang atau emerging markets and developing economies (EMDEs) maupun negara maju alias advanced economies.

"Tekanan fiskal di berbagai negara dapat muncul akibat meningkatnya belanja untuk pertahanan, operasi perdamaian, dan kebutuhan bantuan bagi para pengungsi," dikutip dari GEP edisi terbaru itu, Kamis (15/1/2026).

Untuk kategori EMDEs yang terdiri dari 154 negara, Bank Dunia memperkirakan, rata-rata rasio utang publik nya telah merangkak naik dari 69,1% terhadap PDB pada 2024 menjadi 72,2% pada 2025. Lalu, akan berlanjut menjadi 75,4% terhadap PDB pada 2026, dan 77,5% pada 2027.

Sementara itu, tingkat utang kategori ekonomi maju yang terdiri dari 38 negara, telah merangkak naik dari 109,2% terhadap PDB pada 2024, menjadi 110,4% terhadap PDB pada 2025. Lalu, menjadi 111,9% pada 2026 dan ke level 113,7% terhadap PDB pada 2027.

Level utang itu menurut catatan Bank Dunia tak pernah terjadi untuk kategori EMDEs, sebab dari era 1990-2022, level tertinggi tingkat utang untuk EMDEs di level 66,5% PDB pada 1990. Sedangkan advanced economies memang sempat menyentuh level tertinggi pada 2020 di level 122,3% PDB.

Bank Dunia menegaskan, dekade 2020-an memang telah ditandai oleh peningkatan ketegangan geopolitik yang signifikan secara global serta meningkatnya konflik bersenjata.

Akumulasi berbagai guncangan-seperti invasi Rusia ke Ukraina dan konflik di Timur Tengah-telah mengganggu hubungan perdagangan dan memicu ketidakpastian geopolitik.

Kembali meningkatnya konflik besar yang sedang berlangsung atau ketidakpastian yang berkepanjangan mengenai perkembangannya menurut Bank Dunia akan memperbesar hambatan terhadap aktivitas ekonomi di negara-negara yang terdampak, dan berpotensi juga di tingkat global.

"Selain itu, perkembangan di Republik Bolivarian Venezuela menambah sumber ketidakpastian, meskipun masih terlalu dini untuk memastikan implikasi pastinya," tulis mereka dalam GEP edisi Januari 2026.

Bank Dunia menegaskan, di negara-negara berkembang dan pasar negara berkembang (EMDEs), konflik dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar dan bersifat jangka panjang.

Mereka menyebut, estimasi empiris menunjukkan konflik dengan intensitas menengah hingga tinggi berkaitan dengan penurunan rata-rata PDB per kapita sekitar 13% setelah lima tahun di negara-negara yang terlibat langsung.

Konflik juga dapat menimbulkan dampak lintas batas yang signifikan, dengan menekan pertumbuhan di negara-negara tetangganya melalui penurunan investasi swasta di kawasan serta berkurangnya arus perdagangan akibat gangguan jaringan transportasi dan permintaan.

"Di luar dampak regional tersebut, ketegangan geopolitik yang melibatkan perekonomian besar dan terhubung secara global dapat menimbulkan limpahan lintas negara yang besar, sebagaimana tercermin dari lonjakan harga komoditas global serta meningkatnya kekhawatiran terhadap ketahanan pangan dan energi setelah invasi Rusia ke Ukraina," kata Bank Dunia dalam laporan terbarunya.

(arj/mij)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |