Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
19 January 2026 16:50
Jakarta, CNBC Indonesia- Pertanian Greenland bukan anomali iklim, Greenland bertani dengan sistem yang bertahan karena desain sosial dan kebijakan.
Akar sistem ini bisa ditelusuri lebih dari seribu tahun lalu, saat pemukim Norse yang dipimpin Erik the Red membawa budaya petani Nordik ke Greenland Selatan.
Sejak awal, modelnya peternakan berbasis domba, pemanfaatan padang rumput musim panas, serta tanaman pangan tahan dingin. Pola ini tidak pernah benar-benar hilang, hanya berganti pengelola dan instrumen.
Melansir dari FAO, jejak pertanian Norse masih terlihat dalam bentuk kandang batu, kanal irigasi, dan lipatan ternak di Greenland Selatan dan fjord Nuuk.
Setelah koloni Norse menghilang pada abad ke-15, praktik pertanian baru hidup kembali pada akhir abad ke-18, lalu mengalami akselerasi serius pada awal 1900-an dengan masuknya domba dari Kepulauan Faroe dan Islandia. Hingga kini, sekitar 99% lahan budidaya Greenland digunakan untuk produksi rumput dan pakan hijau, sementara hanya sekitar 1% untuk tanaman pangan seperti kentang.
Foto: REUTERS/Marko Djurica
People attend a protest against U.S. President Donald Trump's demand that the Arctic island be ceded to the U.S., calling for it to be allowed to determine its own future, in Nuuk, Greenland, January 17, 2026. REUTERS/Marko Djurica TPX IMAGES OF THE DAY
Musim panas digunakan untuk produksi maksimal, musim dingin ditopang cadangan pakan. Domba digembalakan di padang gunung selama musim hangat, sementara lahan dekat pemukiman dipanen sebagai pakan musim dingin. Ini adalah replikasi hampir utuh dari sistem Norse abad pertengahan, dengan adaptasi teknologi modern seperti pupuk kimia, irigasi, dan pakan tambahan.
Komoditas tanamannya sangat selektif. Kentang menjadi tanaman utama karena toleran terhadap suhu rendah dan musim tanam pendek. Sayuran lain hanya berperan marginal. Bahkan hingga kini, negara secara aktif mengatur pasar kentang.
Pembelian kentang yang diserap oleh perusahaan pangan negara Neqi A/S menunjukkan bahwa hasil panen tidak dilepas ke pasar bebas, melainkan masuk skema penyerapan terjamin.
Petani tidak bersaing pada volume atau harga global. Mereka beroperasi dalam sistem yang sudah pasti.
Negara sebagai Penyangga Sistem Viking Modern
Warisan Viking tidak bertahan karena romantisme sejarah.
Dukungan usaha pertanian Greenland, dalam ribuan kroner, menunjukkan pola yang konsisten,
Subsidi berbasis induk domba menempati porsi signifikan dan stabil dari tahun ke tahun. Ia mengunci domba sebagai komoditas inti pertanian Greenland, sama seperti pada era Norse ketika wol dan susu menjadi fondasi ekonomi.
Dengan subsidi induk, negara memastikan ukuran kawanan tetap terkendali, produktif, dan layak secara ekonomi.
Sementara itu, pinjaman tanpa bunga dan subsidi input mengurangi risiko gagal bertahan pada musim dingin ekstrem. Anggaran konsultasi pertanian yang relatif datar menunjukkan pengetahuan dianggap sebagai infrastruktur, sebagai investasi dan bukan proyek jangka pendek.
Jumlah peternakan memang menurun, tetapi luas lahan meningkat mencerminkan konsolidasi, bukan kemunduran.
Farm yang bertahan menjadi lebih besar, sering dikombinasikan dengan pendapatan tambahan dari pariwisata, perikanan, atau konstruksi.
Perubahan iklim membuka peluang, tapi tidak otomatis mengubah sistem.
Model perkembangan suhu rata-rata tahunan Greenland Selatan menurut Danish Meteorological Institute menunjukkan tren pemanasan jangka panjang.
Namun, ada pula masalah kekeringan musim panas, tanah berbutir kasar yang sulit menyimpan air, serta kebutuhan irigasi dan pengapuran yang mahal.
Alih-alih ekspansi agresif tanaman baru, Greenland memilih pendekatan konservatif. Kentang dan pakan tetap prioritas. Eksperimen sayuran dan buah dilakukan dalam skala terbatas, sering kali melalui rumah kaca, termasuk fasilitas indoor di Nuuk.
Sistem pertanian Greenland tidak bergerak menuju diversifikasi besar-besaran. Ia tetap berbasis peternakan, dengan tanaman sebagai penopang, bukan pusat.
Dari Ladang ke Piring, Sistem Pangan yang Konsisten
Narasi ini berlanjut ke budaya makan.
Daging domba, rusa kutub, dan musk ox mendominasi pangan lokal karena tersedia tanpa rantai logistik panjang.
Sebaliknya, sayuran impor membawa jejak karbon besar. Inilah sebabnya, dalam konteks Greenland, konsumsi daging lokal sering kali lebih rasional secara ekologis dibanding sayuran impor.
Sistem pertanian Greenland hari ini bukan proyek modern yang terputus dari masa lalu. Dengan negara menggantikan peran komunitas Norse sebagai penyangga risiko. Domba tetap menjadi pusat, kentang menjadi tanaman kunci, dan pasar tidak dibiarkan bekerja sendiri.
Dalam iklim ekstrem, pertanian tidak bertahan karena efisiensi pasar. Ia bertahan karena desain.
Greendland Jadi Rebutan
Greenland menjadi sorotan tajam sepanjang Januari.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah berulang kali melontarkan ambisinya untuk mengambil alih kendali atas wilayah otonom milik Denmark tersebut. Trump berargumen bahwa penguasaan atas Greenland merupakan hal vital bagi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.
Namun, langkah ini ditentang keras oleh Denmark dan pemerintah lokal Greenland yang menegaskan kedaulatan mereka.
Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa terkait masalah di Greenland makin memanas. Trump mengumumkan pada hari Sabtu (17/1/2026) bahwa delapan sekutu Eropa akan menghadapi peningkatan tarif, dimulai dari 10% pada 1 Februari 2026 dan naik menjadi 25% pada 1 Juni 2025. Hal ini bakal terjadi jika kesepakatan tidak tercapai, sehingga Washington dapat membeli wilayah Greenland yang berstatus semi-otonom dan menjadi bagian dari Kerajaan Denmark.
Uni Eropa (UE) mempertimbangkan langkah balasan atas ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengenakan tarif impor terhadap negara-negara Eropa yang menolak rencananya mencaplok Greenland. Sejumlah pejabat Eropa bahkan menyebut ancaman tersebut sebagai bentuk "pemerasan".
Para pemimpin Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia dalam pernyataan bersama menegaskan bahwa ancaman tarif AS berpotensi merusak hubungan transatlantik.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5165907/original/040062200_1742202626-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5342106/original/027230600_1757384899-Timnas_Indonesia_vs_Lebanon_-20.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5248785/original/070439600_1749619357-000_49TH2TP.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5144845/original/022421200_1740645722-Timnas_Indonesia_-_Trio_Calon_Pemain_Naturalisasi_Timnas_copy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362971/original/078040500_1758878372-Persita_Tangerang_Vs_Persib_Bandung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362119/original/035085500_1758837955-Calvin-Verdonk-Europa-League.jpg)