Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
27 April 2026 08:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Muncul dinamika baru dari internasionalisasi mata uang Tiongkok, khususnya yuan offshore (CNH), yang mulai mengambil peran strategis dalam sistem perdagangan dan pembiayaan lintas negara. Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan baru sekaligus membuka peluang pembiayaan alternatif bagi arsitektur keuangan global.
China juga semakin aktif mempromosikan mata uang yuan sebagai alat investasi hingga pembayaran ataupun memberi pinjaman utang. Perusahaan China bahkan kini gencar didorong untuk menerbitkan surat utang global berdenominasi yuan di negara lain.
Upaya ini merupakan bagian dari strategi panjang China dalam dedolarisasi serta menggeser peran besar Amerika Serikat (AS) dalam tataran global.
Upaya gencar China sedikit demi sedikit membuahkan hasil.
Pangsa cadangan devisa dunia yang berdenominasi dolar AS perlahan turun menjadi 56,77% pada kuartal keempat 2025. Porsi ini berada di titik terendahnya sejak pertengahan era 1990-an.
Sebaliknya, pangsa yuan Tiongkok dalam cadangan devisa global perlahan merangkak naik menjadi 1,95% pada periode yang sama. Meskipun dominasi dolar masih kuat, tekanan terhadap sistem petrodollar mulai terlihat.
Menyikapi pergeseran struktural ini, negara berkembang dipandang tidak bisa lagi sekadar pasrah pada satu sumber likuiditas. Jika ingin mengejar target pertumbuhan ekonomi yang progresif hingga 8%, persoalan beban pendanaan harus segera diselesaikan melalui penciptaan arsitektur pembiayaan baru, salah satunya melalui pemanfaatan instrumen CNH.
Perbedaan Biaya Dana dan Momentum Dim Sum Bonds
Pergeseran menuju pendanaan alternatif ini tidak hanya didorong oleh dinamika cadangan devisa global, tetapi juga oleh realitas efisiensi biaya dana (cost of fund). Terdapat perbedaan kebijakan suku bunga yang cukup mencolok antara bank sentral Amerika Serikat dan bank sentral Tiongkok.
Ketika suku bunga acuan dolar AS tertahan di level yang relatif tinggi, biaya pinjaman berdenominasi yuan justru menawarkan tingkat kupon yang jauh lebih efisien bagi pihak penerbit.
Selisih imbal hasil inilah yang menjadi katalis utama melonjaknya volume penerbitan obligasi offshore RMB, atau yang di pasar modal global dikenal sebagai Dim Sum bonds, sepanjang dua tahun terakhir.
Peluang efisiensi biaya pembiayaan CNH ini telah direspons dengan sangat agresif oleh korporasi multinasional. Berbagai perusahaan teknologi asal Tiongkok berlomba menerbitkan surat utang berdenominasi Yuan di pasar offshore guna menyerap likuiditas internasional tanpa harus menanggung beban bunga dolar yang mahal.
Menariknya, langkah ekspansif ini dieksekusi secara ketat di bawah kerangka hukum pasar modal internasional, utamanya menggunakan pedoman Regulation S dan Rule 144A.
Penggunaan regulasi tersebut menjadi penegas yang sangat penting. Aturan ini secara hukum memastikan bahwa penawaran dan penjualan obligasi memang dirancang secara spesifik untuk menyasar basis investor institusi di luar daratan Tiongkok (non-China).
Dalam skema Regulation S, emisi bahkan difokuskan mutlak untuk transaksi offshore di luar yurisdiksi Amerika Serikat. Langkah taktis yang terikat aturan ketat ini sekaligus membuktikan besarnya kepercayaan institusi global terhadap ekosistem pendanaan luar negeri, karena dana yang masuk benar-benar merupakan likuiditas murni dari pemodal asing. Berikut adalah rincian emisi obligasi dari berbagai korporasi raksasa tersebut.
Meituan
Perusahaan raksasa layanan pengiriman dan platform e-commerce, Meituan, mencetak sejarah pada penghujung tahun 2025 dengan merilis obligasi perdana dalam denominasi CNY di pasar offshore.
Meituan sukses menghimpun likuiditas sebesar CNY 7,08 miliar yang terbagi dalam dua seri jatuh tempo. Penawaran ini mengalami oversubscription yang didorong oleh minat manajer investasi internasional dari Eropa dan Asia Tenggara yang sedang mencari diversifikasi instrumen pasar berkembang di luar kendali dolar AS.
Alibaba Group Holding Limited
Pada akhir 2024, Alibaba melakukan penawaran surat utang denominasi RMB senilai RMB 17 miliar secara eksklusif menggunakan aturan Regulation S. Aturan ini secara spesifik melarang penjualan instrumen di wilayah Amerika Serikat, sehingga seluruh serapan dana murni berasal dari investor lintas negara di luar yurisdiksi AS.
Porsi penyerapan terbesar dicatatkan oleh dana pensiun dan pengelola kekayaan yang beroperasi dari Singapura serta kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA).
Baidu Inc.
Perusahaan teknologi kecerdasan buatan, Baidu Inc., menerbitkan obligasi CNY senilai CNY 10 miliar pada kuartal pertama tahun 2025. Manajemen Baidu mengarahkan emisi ini untuk menyerap likuiditas dari entitas finansial Barat yang mencari imbal hasil lebih optimal.
Alokasi pesanan secara signifikan mengalir kepada bank-bank privat multinasional dan institusi dari negara persemakmuran yang terhubung dengan sistem kliring global.
Tencent Holdings Ltd.
Tencent Holdings merampungkan penerbitan instrumen offshore berdenominasi CNY dengan total nilai CNY 9 miliar pada pertengahan 2025. Perusahaan teknologi ini secara taktis menawarkan opsi tenor yang sangat panjang guna menyesuaikan dengan profil risiko investor institusi global.
Surat utang bertenor tiga puluh tahun milik Tencent secara khusus diserap oleh dana abadi (Sovereign Wealth Fund) asal Timur Tengah dan lembaga pengelola dana pensiun dari benua Eropa.
Kuaishou Technology
Mengikuti jejak para kompetitornya, Kuaishou Technology turut menyerap pendanaan internasional melalui penerbitan obligasi dalam denominasi RMB senilai RMB 3,5 miliar pada awal 2026.
Instrumen yang dialokasikan untuk mendanai infrastruktur kecerdasan buatan perusahaan ini dibeli secara agresif oleh manajer investasi pengelola reksa dana pasar berkembang yang memiliki basis operasional utama di luar kawasan daratan Tiongkok.
Dominasi Institusi Global dan Peluang Pembiayaan Alternatif
Tingginya serapan atas obligasi korporasi Tiongkok di pasar luar negeri mematahkan asumsi bahwa instrumen CNH ini hanya dibeli oleh pemodal domestik Tiongkok.
Faktanya, integrasi infrastruktur kliring internasional memungkinkan manajer investasi global, dana pensiun Eropa, hingga lembaga pengelola kekayaan dari Timur Tengah untuk memborong aset tersebut secara masif tanpa harus memiliki entitas di daratan Tiongkok.
Dominasi pemodal asing ini menjadi bukti kuat bahwa pasar CNH menyediakan likuiditas global yang nyata. Di tengah ketatnya pasokan dolar AS, keberhasilan pendanaan berbasis CNH oleh berbagai korporasi raksasa tersebut menegaskan bahwa arsitektur pembiayaan multipolar telah terbentuk dan sangat potensial dimanfaatkan sebagai sumber pendanaan baru.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5145677/original/009587200_1740728790-20250228BL_HTS_Ratu_Tisha_20.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427463/original/032259100_1764389259-Tomas_Trucha_2.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429073/original/001791400_1764572941-John_Herdman.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5457703/original/089294400_1767016757-20251229IQ_Persija_vs_Bhayankara_FC-3.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4400289/original/016439100_1681829426-000_334Q8WU.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5455820/original/092741900_1766735258-1000332649.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5457680/original/088321900_1767015163-20251229IQ_Persija_vs_Bhayankara_FC-4.jpg)