Potret Malapetaka Menghantam Negeri, Sapi-Kambing Mati Bergelimpangan

2 hours ago 2
Bangkai sapi yang mati akibat kekeringan yang semakin parah karena gagalnya musim hujan, berserakan di pemukiman desa dekat kota Magadi di sepanjang perbatasan Kenya-Tanzania, di Kajiado, Kenya, 5 Februari 2026. (REUTERS/Thomas Mukoya)

Bangkai sapi yang mati akibat kekeringan, diperparah gagalnya musim hujan, tampak berserakan di permukiman desa dekat Magadi, di sepanjang perbatasan Kenya-Tanzania, Kabupaten Kajiado, Kenya, Kamis (5/2/2026). Puluhan sapi dan kambing ditemukan tergeletak di sekitar rumah Maria Katanga, menjadi gambaran nyata dampak kekeringan yang kian parah dan menghantui komunitas penggembala di wilayah tersebut. (REUTERS/Thomas Mukoya)

Bangkai sapi yang mati akibat kekeringan yang semakin parah karena gagalnya musim hujan, berserakan di pemukiman desa dekat kota Magadi di sepanjang perbatasan Kenya-Tanzania, di Kajiado, Kenya, 5 Februari 2026. (REUTERS/Thomas Mukoya)

Katanga, penggembala Maasai berusia 24 tahun, mengatakan musim kemarau telah memusnahkan lebih dari 100 ekor sapi dan 300 ekor kambing sejak Agustus. Kondisi tersebut membuat ternak yang tersisa semakin lemah hingga tidak lagi mampu menghasilkan susu untuk kebutuhan keluarga. (REUTERS/Thomas Mukoya)

Bangkai sapi yang mati akibat kekeringan yang semakin parah karena gagalnya musim hujan, berserakan di pemukiman desa dekat kota Magadi di sepanjang perbatasan Kenya-Tanzania, di Kajiado, Kenya, 5 Februari 2026. (REUTERS/Thomas Mukoya)

Kenya sebelumnya pernah dilanda kekeringan besar, termasuk pada 2022 ketika kegagalan hujan bersejarah menewaskan jutaan ternak dan mendorong keluarga penggembala di wilayah utara serta timur laut mengalami kelaparan akut. Namun kini, akibat guncangan iklim yang semakin sering terjadi, dampak kekeringan mulai menyebar ke daerah yang selama ini lebih tahan, termasuk Kajiado. (REUTERS/Thomas Mukoya)

Bangkai sapi yang mati akibat kekeringan yang semakin parah karena gagalnya musim hujan, berserakan di pemukiman desa dekat kota Magadi di sepanjang perbatasan Kenya-Tanzania, di Kajiado, Kenya, 5 Februari 2026. (REUTERS/Thomas Mukoya)

Selain menewaskan ternak, kekeringan juga menyebabkan nilai jual hewan ternak merosot tajam. Anak tiri Katanga, Emmanuel Loshipae (19), mengatakan keluarganya terpaksa menjual ternak dengan harga jauh lebih rendah. (REUTERS/Thomas Mukoya)

Bangkai sapi yang mati akibat kekeringan yang semakin parah karena gagalnya musim hujan, berserakan di pemukiman desa dekat kota Magadi di sepanjang perbatasan Kenya-Tanzania, di Kajiado, Kenya, 5 Februari 2026. (REUTERS/Thomas Mukoya)

“Seekor sapi yang sebelumnya dijual 60.000 hingga 70.000 shilling sebelum kekeringan, sekarang hanya 5.000 shilling. Kami menjual hanya untuk membeli pakan,” katanya. (REUTERS/Thomas Mukoya)

Bangkai sapi yang mati akibat kekeringan yang semakin parah karena gagalnya musim hujan, berserakan di pemukiman desa dekat kota Magadi di sepanjang perbatasan Kenya-Tanzania, di Kajiado, Kenya, 5 Februari 2026. (REUTERS/Thomas Mukoya)

Administrator lokal Lemaiyan Samuel Kureko mengatakan para penggembala kini harus menempuh jarak lebih jauh demi mencari padang rumput dan air, bahkan beberapa di antaranya menyeberang hingga ke Tanzania. Otoritas Manajemen Kekeringan Nasional Kenya juga memperingatkan bahwa kekeringan berulang meningkatkan persaingan sumber daya yang menipis serta memperbesar risiko konflik. (REUTERS/Thomas Mukoya)

Read Entire Article
| | | |