Proyek Energi 'Andalan' Prabowo Butuh Investasi Rp 1.306 Triliun

8 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana penambahan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) membutuhkan investasi sekitar US$70-73 miliar atau mencapai hingga 1.306 triliun (asumsi kurs Rp17.895,94 per dolar AS).

Proyek listrik hijau yang menjadi andalan pemerintahan Presiden Prabowo itu ditargetkan bisa selesai dalam waktu tiga tahun.

Semula, Bahlil menyebut pengembangan PLTS 100 GW tersebut merupakan bagian dari langkah nyata pemerintah untuk mengejar target net zero emission (NZE) Indonesia, di tengah perubahan komitmen sejumlah negara terhadap Paris Agreement.

"Forum ini menurut saya sangat penting untuk menyampaikan ini. Sekalipun negara-negara lain keluar daripada Paris Agreement untuk net zero emission dengan menggantikan fosil mereka kepada energi baru terbarukan, Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kita bahwa Indonesia, sekalipun negara yang hebat-hebat itu keluar, Indonesia tetap akan konsisten untuk memenuhi target net zero emission kita di 2050 sampai dengan 2060," kata Bahlil dalam acara MKI Electricity Connect 2026, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, komitmen tersebut juga tidak berhenti pada target, tetapi diterjemahkan pemerintah ke dalam sejumlah program konkret. Salah satunya melalui revisi dan implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

"Caranya apa? Di RUPTL kita-kita dorong 70% adalah energi baru terbarukan dan kita menambah 100 gigawatt PLTS," kata dia.

Ia kemudian memerinci bahwa berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM, pembangunan PLTS dengan total kapasitas 100 GW membutuhkan investasi sekitar US$70 miliar hingga US$73 miliar.

"Ini total investasi yang ada. Ini bukan bukan pasar kecil, Bapak Ibu semua. Ini pasar yang sangat besar. Nah, untuk bisa kita melakukan ini, maka harus ada kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pengusaha," katanya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan program PLTS 100 GW merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat kemandirian dan swasembada energi Indonesia.

Presiden mengatakan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya energi yang harus dimanfaatkan secara optimal, mulai dari tenaga surya, panas bumi, gas, hingga minyak. Pemanfaatan seluruh potensi tersebut harus dilakukan secara terpadu untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

"Intinya 100 gigawatt kita akan benar-benar menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki kita sendiri! Kita tidak akan takut perkembangan apa pun di bagian mana pun dunia," ujar Presiden saat meluncurkan dan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking Program PLTS 100 GWp di Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa, 25 Agustus 2026.

Menurut Presiden, pengembangan energi surya harus berjalan seiring dengan optimalisasi berbagai sumber energi yang dimiliki Indonesia. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap energi dari luar negeri.

"Dengan 100 gigawatt, dengan geothermal yang kita punya, dengan ladang-ladang gas yang kita sudah ketemukan, dengan lifting minyak yang harus naik terus, kita tidak boleh impor lagi 1 barel pun minyak!" tegas Presiden.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |