Purbaya: Harga Minyak US$150/Barel Trump Sudah Jatuh, Bukan RI

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai konflik di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang membuat harga minyak dunia bergejolak tak akan berakhir pada resesi ekonomi.

Ia mengatakan, pimpinan negara yang menjadi motor perang saja sudah tertekan saat ini, sehingga berencana mengambil langkah untuk membuat harga minyak kembali stabil. Pimpinan negara itu ialah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Coba anda lihat. Sekarang saja Amerika sudah kelabakan kan? 100 dolar aja di sana BBM-nya naik hampir 100%, rakyatnya mulai marah. Makanya si Trump langkahnya agak berbeda kan? Bisa sampai 150? Jatuh Trump sudah. Bukan kita yang jatuh, tapi di sana," papar Purbaya di kantornya, Jakarta, Rabu (25/3/2026).

Sedangkan bagi Indonesia, ia sebut masih mampu menjaga stabilitas ekonomi domestik, meskipun harga minyak kerap naik tinggi di atas asumsi makro APBN 2026 sebesar US$ 70 per barel. "Kalau kita masih bisa jaga di sini," kata Purbaya.

Oleh sebab itu, Purbaya tampak geram merespons pernyataan sejumlah pengamat ekonomi yang kerap menyebut perekonomian Indonesia akan mengalami resesi dalam beberapa bulan ke depan.

Menurutnya, pernyataan itu bukan bentuk kritik kepada pemerintah, melainkan sebatas menciptakan sentimen buruk atau ketakutan di tengah-tengah masyarakat.

"Saya enggak anti kritik, enggak apa-apa. Tapi jangan bilang begini: 2 bulan lagi ekonomi Indonesia akan hancur. Akan resesi," kata Purbaya.

Apalagi, sentimen yang dibangun itu tidak didasarkan pada perhitungan ekonomi yang benar. Purbaya mengatakan, ekonom yang menyebut ekonomi RI hancur dalam dua bulan itu hanya mempertimbangkan kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.

"Alasannya karena harga minyak akan 200 dolar per barrel, rupiah akan berapa puluh ribu, ya kalau itu ya iya kalau harga minyak 200 dolar per barrel semua dunia resesi, tenang saja, enggak usah pusing," kata Purbaya.

"Jadi asumsinya nggak masuk akal. Jadi itu bukan ekonom yang betul," tegasnya.

Purbaya mengatakan bila ekonom itu memperhitungkan faktor risiko secara benar, maka akan mempertimbangkan seluruh estimasi risiko, mulai dari data historis, hingga kebijakan pemerintah yang selama ini telah dibuat dalam merespons tekanan global.

"Jadi itu hitungannya. Kalau ekonom itu seperti itu, jangan asbun. Kalau enggak ngerti, sekolah lagi, apalagi yang profesor itu, enggak pernah sekolah kok," ungkapnya.

(arj/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |