Purbaya, Rosan dan Airlangga Soroti IHSG, Minta BEI Evaluasi Kabar MSCI

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah pejabat penting buka suara terkait pelemahan signifikan yang dialami IHSG pada perdagangan hari ini dan sepakat meminta Bursa Efek Indonesia untuk segera mengevaluasi permintaan dari penyedia layanan indeks global Morgan Stanley Capital Index (MSCI).

Diketahui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hari ini, Rabu (28/1/2026). Indeks anjlok 7,35% ke level 8.320,56 atau terkoreksi 659,67 poin pada penutupan perdagangan hari ini. Bahkan pada level terendahnya IHSG sempat ambruk lebih dari 8% dan dilakukan perhentian perdagangan sementara (trading halt) oleh otoritas bursa.

Adapun IHSG ambruk merespons pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes. Bahkan perdagangan bursa sempat dihentikan sementara (trading halt) akibat penurunan signifikan IHSG

Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto meminta kepada otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan evaluasi terkait dengan kendala yang dikeluhkan oleh penyedia layanan indeks acuan global MSCI.

Terkait alasan pelemahan indeks secara signifikan, Airlangga tidak menafikan peran besar MSCI, namun ikut memberikan catatan penting kepada otoritas bursa.

"Pertama ada teknikal MSCI, kedua tentu dari BEI bursa itu perlu untuk melakukan evaluasi mengenai apa yang diminta MSCI," jelas Airlangga, Rabu (28/1/2026).

Terkait transparansi pemegang saham free float di Bursa, Airlangga menilai hal tersebut merupakan persyaratan bagi seluruh penyelenggara pasar modal dan perlu dilakukan peningkatan dengan mekanisme yang sudah menjadi praktik utama di banyak negara.

Sementara itu secara terpisah, Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Perkasa Roeslani menilai laporan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) harus segera ditindaklanjuti yang merupakan penyebab Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) trading halt.

"Kita ketahui MSCI adalah acuan dari para investor dunia pada saat dia berinvestasi di negara-negara. Nah itu tentunya kita harus segera tindak lanjuti mengenai masukan dari MSCI," ungkap Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1/2026)

Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menilai masih adanya persoalan serius pada transparansi dan penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes, meski Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan perbaikan minor.

Menurut Rosan, fundamental perusahaan di Indonesia sangat baik sehingga situasi yang terjadi sekarang tidak berlangsung lama. "Kalau fundamental dari perusahaan-perusahaan kita ini sangat baik," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal situasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang jatuh sejak pembukaan pagi tadi, dan mengingatkan agar investor tidak perlu panik.

"Nggak usah takut," kata Purbaya saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Menurutnya, jatuhnya harga saham saat ini lebih disebabkan faktor teknis setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menilai masih adanya persoalan serius pada transparansi dan penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes, meski Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan perbaikan minor.

"Jadi ini hanya shock sesaat, jadi pasti perusahaan-perusahaan itu akan bisa menyesuaikan MSCI dan bisa masuk ke indeksnya MSCI maupun saham yang boleh diinvestasi oleh perusahaan-perusahaan asing global," tegas Purbaya di Istana Negara, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Oleh sebab itu, ia menegaskan kepada para investor domestik maupun global bahwa dalam waktu dekat kinerja saham Indonesia akan kembali menghijau ke depannya dan terus menguat, Maka, ia tak segan menyatakan bahawa saat ini sebetulnya waktu yang tepat bagi investor untuk membeli kembali saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Dan kita tahu itu akan diperbaiki dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sebelum bulan Mei harusnya sekarang it's a good time to buy," tegas Purbaya.

Penyebab IHSG Anjlok

Adapun IHSG ambruk merespons pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes.

Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

MSCI menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan. Namun, banyak investor menyampaikan kekhawatiran signifikan atas kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.

Menurut MSCI, persoalan mendasar masih berkaitan dengan keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga wajar. Oleh karena itu, MSCI menilai dibutuhkan informasi kepemilikan saham yang lebih rinci dan dapat diandalkan, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham, guna mendukung penilaian free float yang lebih robust.

"Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment untuk sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera," sebagaimana disampaikan dalam pengumuman di situs resminya.

Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko perputaran indeks dan risiko investabilitas sembari menunggu adanya perbaikan transparansi dari otoritas pasar terkait.

Dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares (NOS) hasil peninjauan indeks maupun aksi korporasi. Selain itu, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta menahan migrasi naik antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Atas kejadian ini, terdapat kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes. Bahkan, MSCI membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market, dengan tetap melalui proses konsultasi pasar.

Komitmen BEI, KSEI & OJK

Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan akan terus berkomitmen untuk memperkuat koordinasi dengan perusahaan penyedia indeks pasar saham global MSCI Inc. (MSCI) terkait pengumuman hasil konsultasi terkait penilaian free float saham-saham Indonesia di indeks bergengsi dunia.

Menindaklanjuti pengumuman MSCI, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan otoritas bursa saham RI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya yaitu PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan MSCI.

"Kami memandang masukan yang disampaikan MSCI adalah bagian penting dalam upaya berkelanjutan untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia. Kami memahami bahwa pembobotan MSCI memiliki peran strategis bagi pasar keuangan global serta menjadi salah satu referensi utama bagi investor," ujar Corporate Secretary Kautsar Primadi lewat keterangan resmi, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (28/1/2026).

Sejalan dengan hal tersebut, BEI menyebut akan berkomitmen untuk mengupayakan yang terbaik dalam rangka meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI. Komitmen tersebut akan diwujudkan melalui penguatan transparansi data pasar, termasuk penyediaan informasi yang lebih akurat dan andal, sesuai dengan praktik terbaik secara global dan ekspektasi pemangku kepentingan global.

"Sebagai bagian dari langkah konkret yang telah dilakukan, BEI telah menyampaikan pengumuman data free-float secara komprehensif melalui website resmi BEI sejak 2 Januari 2026, serta akan disampaikan secara rutin setiap bulannya," ungkap Kautsar.

Selanjutnya, BEI bersama SRO dan OJK akan terus berkoordinasi dengan MSCI guna memastikan keselarasan pemahaman serta implementasi peningkatan transparansi informasi. Melalui koordinasi yang berkesinambungan tersebut, BEI merasa optimistis dapat terus memperkuat daya saing Pasar Modal Indonesia di tingkat global, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap Pasar Modal nasional.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |