RI Baru Sah Swasembada, Petani Minta Jangan Buru-Buru Ekspor Beras

6 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pemerintah untuk mengekspor beras mendapat tanggapan dari kalangan petani. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Serikat Petani Indonesia (DPP-SPI) Henry Saragih, mengatakan ekspor pada prinsipnya boleh dilakukan, namun pemerintah diminta tidak terburu-buru lantaran Indonesia baru saja memasuki fase produksi yang disebut melebihi kebutuhan atau swasembada beras pada 2025 kemarin.

"Ya menurut kita silahkan diekspor, tapi harus diingat, Indonesia yang baru swasembada, baru katakanlah produksinya melebihi dari tingkat kebutuhannya kan baru tahun 2025. Sedangkan tahun-tahun sebelumnya itu kan itu impornya begitu banyak," kata Henry kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026).

Henry menilai, ekspor beras sebaiknya tidak dilakukan secara gegabah karena Indonesia baru saja melakukan impor besar dalam beberapa tahun terakhir.

"Jadi, sebaiknya menurut kita Indonesia tidak perlu terlalu gesa-gesa untuk mengekspor. Karena, pertama, Indonesia masih baru saja melakukan impor besar, baru tahun 2023-2024 itu termasuk impor yang besar sepanjang masa," ujarnya.

Selain itu, Henry menyoroti faktor pendorong produksi beras pada 2025. Menurutnya, produksi yang melebihi kebutuhan pada tahun lalu lebih banyak dipengaruhi oleh peningkatan luas lahan sawah dan kondisi musim yang baik, bukan karena lonjakan produktivitas akibat teknologi.

"Nah yang kedua, produksi padi/gabah yang melebihi tingkat kebutuhan berasnya tahun 2025 kemarin ini, itu lebih dari kenaikannya akibat dari luas sawah, lahan sawah yang meningkat jumlahnya. Bukan karena tingkat teknologi, tingkat produksinya yang meningkat, tapi luas lahannya yang meningkat, dan juga musim yang bagus," ucap dia.

Ia pun mengingatkan adanya risiko penurunan produksi pada 2026, terutama karena kondisi iklim yang sulit diprediksi dan banjir yang terjadi di banyak wilayah.

"Jadi kita khawatir di tahun 2026 ini, di tengah banjir yang banyak terjadi di mana-mana, iklim yang belum bisa kita ramalkan, bisa saja produksi kita menurun," kata Henry.

Karena itu, Henry menilai langkah yang lebih tepat saat ini adalah memperkuat cadangan pangan terlebih dahulu. Ia mengingatkan, jangan sampai Indonesia mengekspor beras pada 2026 namun kembali melakukan impor pada tahun berikutnya.

"Jadi, menurut kita lebih bagus kita sebagai bangsa, sebagai negara yang besar sekarang ini memikirkan cadangan pangan kita dulu. Jangan nanti kita ekspor di tahun ini, eh 2027 nanti impor lagi. Karena itu sudah pernah kejadian kan kalau kita lihat di masa-masa sebelumnya," ujarnya.

Henry menilai swasembada yang terjadi pada 2025 masih terlalu dini untuk langsung diikuti kebijakan ekspor, karena baru pertama kalinya produksi melebihi kebutuhan.

"Karena pertama kalinya di tahun 2025 ini aja yang produksinya melebihi dari tingkat kebutuhan," kata Henry.

Ia pun berharap pemerintah fokus memastikan swasembada pangan berjalan berkelanjutan, sebelum membuka keran ekspor.

"Iya, kalau ada 3 tahun ini dia berturut-turut produksi gabahnya, lebih tinggi dari tingkat kebutuhan kita, baru kita bisa ekspor. Jadi lebih bagus sekarang ini, pemerintah mempermanenkan produksinya itu betul-betul bisa berlimpah, dan memperbaiki penyimpanannya, stok gabah nasionalnya," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyampaikan keyakinannya, Indonesia berpeluang mengekspor beras pada tahun ini. Keyakinan tersebut disampaikan langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto, dengan catatan serapan beras oleh Perum Bulog berjalan optimal dalam beberapa bulan ke depan.

Pernyataan itu diutarakan Amran dalam acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan yang digelar di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2025).

Ia menegaskan, dalam proses penyerapan beras di tahun ini pihaknya tidak meminta perlakuan khusus, melainkan berharap kinerja Bulog dalam menyerap hasil panen petani tetap konsisten seperti tahun sebelumnya.

"Tapi beras kalau bisa. Izin Bapak Presiden, yang penting Bulog serapannya 3 bulan ke depan sama saja seperti 2025. Aku tidak minta lebih, sama saja. Hampir pasti kita lakukan ekspor tahun ini dan itu sejarah pertama Indonesia," tutur Amran.
 

Presiden Prabowo Subianto saat melakukan seremonial dalam Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan, Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026). (Tangkapan layar Youtube/Setpres RI)Foto: Presiden Prabowo Subianto saat melakukan seremonial dalam Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan, Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026). (Tangkapan layar Youtube/Setpres RI)
Presiden Prabowo Subianto saat melakukan seremonial dalam Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan, Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026). (Tangkapan layar Youtube/Setpres RI)

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |