RI Butuh Banyak Daging Tapi Peternak Sapi Rakyat Hadapi Persoalan Ini

1 hour ago 2

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

12 January 2026 15:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), usaha peternakan sapi potong rakyat di Indonesia justru menghadapi tekanan struktural dalam beberapa tahun terakhir.

Data Survei Struktur Ongkos Usaha Peternakan Sapi Potong yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya perubahan pada kinerja produksi, struktur biaya, hingga pendapatan peternak perorangan sepanjang periode 2017-2024.

Produksi Per Ekor Menyusut, Skala Usaha Peternak Masih Terbatas

Berdasarkan survei tersebut, rata-rata nilai produksi per ekor sapi potong turun sekitar 27,5%, dari Rp4,54 juta pada 2017 menjadi Rp3,29 juta pada 2024.

Penurunan ini terjadi meskipun produksi masih didominasi oleh penjualan bobot ternak hidup. Kontribusi komponen tersebut terhadap total produksi tercatat melemah, mencerminkan keterbatasan skala usaha peternak rakyat yang belum mampu mengembangkan diversifikasi produk bernilai tambah.

Biaya Produksi Turun, Upah Pekerja  "Menguap"

Di sisi lain, struktur biaya produksi mengalami pergeseran yang cukup tajam. Total biaya produksi per ekor turun dari Rp1,67 juta pada 2017 menjadi Rp716 ribu pada 2024, terutama dipicu oleh perubahan pada komponen upah pekerja.

Jika pada 2017 upah tenaga kerja menyerap 61,83% dari total biaya produksi atau sekitar Rp1,03 juta per ekor, pada 2024 porsinya anjlok menjadi hanya 9,90% atau sekitar Rp70,9 ribu per ekor. Penurunan ini kecil kemungkinannya didorong oleh adopsi teknologi, mengingat nilai produksi per ekor justru menurun. Sebaliknya, kondisi tersebut mencerminkan semakin kuatnya ketergantungan peternakan sapi potong rakyat pada tenaga kerja keluarga yang tidak dibayar.

Tekanan Beralih ke Input: Pakan, BBM, dan Lahan Kian Mahal

Sementara itu, tekanan justru datang dari sisi input. Biaya pakan tercatat naik sekitar 13,5%, dengan pakan hijauan dan konsentrat menjadi komponen utama.

Kenaikan biaya juga terjadi pada bahan bakar dan pelumas, yang porsinya melonjak dari 4,81% menjadi 15,07%, serta biaya lahan, khususnya pada komponen perkiraan sewa lahan milik sendiri. Selain itu, jasa peternakan turut meningkat, mengindikasikan mulai bertambahnya penggunaan layanan eksternal, meski masih dalam skala terbatas.

Pendapatan Nominal Turun, Daya Beli Peternak Tergerus Tajam

Kombinasi menurunnya nilai produksi dan meningkatnya tekanan biaya input tersebut pada akhirnya berdampak langsung pada pendapatan bersih peternak.

Secara nominal, pendapatan per ekor turun sekitar 10,4%, dari Rp2,87 juta pada 2017 menjadi Rp2,57 juta pada 2024.

Namun, jika dilihat dari perspektif daya beli, penurunan ini jauh lebih signifikan. Pendapatan dari satu ekor sapi potong yang pada 2017 setara hampir lima gram emas, dengan harga sekitar Rp600 ribu per gram, pada 2024 hanya setara sekitar dua gram emas, ketika harga emas telah melonjak ke kisaran Rp1,2 juta per gram. Angka ini menunjukan merosotnya daya beli peternak rakyat hingga sekitar 60%. Kondisi ini menegaskan rapuhnya ekosistem peternakan sapi potong rakyat dalam menjaga nilai ekonomi usahanya.

Harga Sapi Naik Musiman, Stabilitas Pendapatan Tetap Rapuh

Di tengah tekanan tersebut, pergerakan harga produsen sapi potong sepanjang 2024 menunjukkan pola musiman yang kuat.

BPS mencatat, rata-rata harga produsen sapi potong nasional mencapai Rp19,01 juta per ekor, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp18,51 juta per ekor. Harga terus meningkat sejak awal tahun dan mencapai puncaknya pada Juni 2024 sebesar Rp19,62 juta per ekor, seiring meningkatnya permintaan menjelang Hari Raya Idul Adha.

Namun, setelah periode puncak tersebut, harga produsen cenderung melemah. Sepanjang Juli hingga November 2024, harga sapi potong turun dengan rata-rata penurunan sekitar 0,35% per bulan, sebelum kembali naik tipis menjadi Rp19,12 juta per ekor pada Desember 2024 menjelang Natal dan Tahun Baru. Fluktuasi ini menunjukkan bahwa meskipun harga sapi potong relatif tinggi secara tahunan, stabilitasnya masih rapuh dan sangat dipengaruhi oleh siklus permintaan musiman.

Tanpa Perbaikan Struktur, Tekanan Ekosistem Berlanjut

Bagi peternak rakyat, kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian pendapatan, terutama karena kenaikan harga jual tidak selalu sejalan dengan lonjakan biaya produksi yang mereka tanggung. Tanpa perbaikan struktural pada sisi produktivitas dan nilai tambah, tekanan terhadap ekosistem peternakan sapi potong rakyat berpotensi terus berlanjut.

(mae/mae)

Read Entire Article
| | | |