Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (7/1/2026).
Melansir data Refinitiv, rupiah dibuka pada posisi Rp16.750/US$ atau terdepresiasi tipis 0,03%. Di penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah harus mengakui kekuatan dolar AS dengan pelemahan 0,06% dan bertengger di level Rp16.745/US$.
Sementara itu, per pukul 09.00 WIB indeks dolar AS (DXY) tengah mengalami koreksi tipis 0,04% di level 98,540 setelah di perdagangan kemarin, DXY menguat hingga 0,32% atau naik ke posisi 98,626.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya dinamika pergerakan dolar AS di pasar global. Dolar AS tercatat menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada perdagangan kemarin, Selasa (7/1/2026).
Investor masih menanti rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut terkait arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Ketegangan geopolitik akibat penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh Amerika Serikat pada akhir pekan lalu dinilai hanya berdampak sementara terhadap pasar keuangan global, termasuk pasar mata uang. Risiko eskalasi geopolitik sejauh ini belum memicu pergeseran signifikan ke aset aman.
"Fokus utama pasar adalah bagaimana reaksi awal terhadap kabar Venezuela dan potensi eskalasinya. Namun sejauh ini kami belum melihat sentimen risk-off yang berarti, dan itu cukup menenangkan karena isu tersebut tampaknya diperlakukan secara terisolasi," ujar Direktur Klarity FX, Amo Sahota dikutip dari Reuters.
Pasar juga masih berada dalam fase penyesuaian setelah periode libur panjang, dengan ketidakpastian yang cukup tinggi terkait kondisi pasar tenaga kerja AS. Investor kini menanti rilis laporan ADP, data job openings, hingga laporan ketenagakerjaan utama yang akan dirilis pada akhir pekan ini.
Di sisi lain, pasar juga mencermati perbedaan pandangan di internal The Federal Reserve (The Fed) terkait arah suku bunga ke depan. Presiden Fed Richmond Tom Barkin menilai kebijakan suku bunga perlu disesuaikan secara hati-hati dengan perkembangan data ekonomi, mengingat risiko terhadap target inflasi dan ketenagakerjaan.
Sementara itu, Gubernur The Fed Stephen Miran menyatakan bank sentral AS perlu memangkas suku bunga secara lebih agresif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Adapun Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari memperingatkan adanya risiko kenaikan tingkat pengangguran ke depan.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pasar masih memproyeksikan sekitar 82% peluang suku bunga The Fed akan ditahan pada pertemuan FOMC berikutnya pada 27-28 Januari mendatang.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)







