Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Tembus Rp16.810

16 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (9/1/2026).

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.810/US$, atau terdepresiasi sebesar 0,15%. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Kamis (8/1/2026), rupiah ditutup melemah 0,09% di posisi Rp16.785/US$.

Sementara itu, hingga pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) terpantau bergerak stabil di level 98,940, setelah pada perdagangan sebelumnya menguat 0,25% dan ditutup di kisaran 98,934.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya penguatan dolar AS di pasar global.

Hal ini menunjukkan masih tingginya minat pelaku pasar terhadap aset berdenominasi dolar AS, yang dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang lainnya, terutama mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah.

Dolar AS menguat seiring pelaku pasar menantikan rilis laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (nonfarm payrolls/NFP) terbaru. Data tersebut dinilai krusial untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS, terutama setelah periode ketidakpastian akibat gangguan aktivitas pemerintahan sebelumnya.

Selain NFP, pasar juga mencermati perkembangan data klaim pengangguran mingguan yang menunjukkan kenaikan tipis jumlah pengajuan tunjangan pengangguran, serta dinamika tingkat pengangguran yang dinilai berpotensi menjadi penentu utama arah kebijakan suku bunga ke depan.

Di sisi lain, pelaku pasar global juga mewaspadai potensi sentimen tambahan dari putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat terkait kewenangan Presiden AS dalam menerapkan tarif perdagangan berbasis status darurat. Putusan tersebut berpotensi mempengaruhi arah kebijakan perdagangan AS dan menambah ketidakpastian di pasar global.

Ekspektasi pasar suku bunga saat ini menunjukkan peluang yang semakin besar bagi bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan FOMC akhir Januari mendatang. Kondisi ini turut menopang penguatan dolar AS dapat memberikan tekanan bagi rupiah.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |