Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
28 July 2026 13:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah terpantau masih ambruk di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Posisinya semakin rawan melanjutkan pelemahan sehingga berpotensi menambah beban perusahaan yang memiliki banyak utang dalam mata uang dolar AS.
Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026), rupiah berada di posisi Rp18.000/US$.
Posisi ini menandai pelemahan rupiah di tengah sentimen domestik setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo diumumkan pada Senin pagi.
Untuk sementara, tugas Gubernur BI dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti. Pengunduran diri tersebut dikonfirmasi pemerintah dan Bank Indonesia karena alasan pribadi.
Selain sentimen dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari berbagai sentimen negatif di pasar global, mulai dari ketidakpastian geopolitik, potensi kenaikan inflasi, hingga arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik.
Kondisi ini membebankan biaya besar kepada pengusaha atau perusahaan yang menjalankan bisnis berbasis impor. Beban untuk memasok bahan baku dapat melambung lebih tinggi akibat selisih kurs.
Perusahaan lain yang cenderung dirugikan ketika rupiah melemah adalah perusahaan yang memiliki utang atau kewajiban berdenominasi dolar AS dan mata uang asing lainnya.
Berikut beberapa emiten yang rawan buntung ketika rupiah melemah, beserta perbandingan nilai kewajibannya ketika rupiah berada di level Rp17.110/US$ dan saat mencapai Rp18.000/US$.
1. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjadi salah satu emiten yang terekspos dampak fluktuasi nilai tukar rupiah.
Melansir laporan keuangan hingga akhir 2025, ICBP memiliki total liabilitas mata uang asing per 31 Desember 2025 sekitar Rp48,60 triliun dengan penyesuaian kurs Rp17.110/US$. Nilainya meningkat menjadi sekitar Rp51,09 triliun ketika dihitung menggunakan kurs Rp18.000/US$.
Komponen terbesar berasal dari Obligasi Global senilai US$2,75 miliar, yang nilainya meningkat dari sekitar Rp47,05 triliun menjadi Rp49,50 triliun.
Kewajiban dolar AS lainnya, termasuk utang usaha, tercatat sebesar US$46,41 juta atau setara Rp794,07 miliar pada kurs Rp17.110/US$. Pada kurs Rp18.000/US$, nilainya meningkat menjadi Rp835,38 miliar.
Sisa liabilitas dalam mata uang lain, seperti riyal Arab Saudi, lira Turki, dan yen Jepang, memiliki total nilai kumulatif sekitar Rp754,70 miliar.
Hingga periode laporan tersebut, tidak terdapat kebijakan lindung nilai atau hedging formal yang diterapkan untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
2. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Selanjutnya terdapat induk usaha ICBP, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), yang juga memiliki eksposur terhadap fluktuasi rupiah.
Total liabilitas mata uang asing INDF per 31 Desember 2025 mencapai sekitar Rp56,66 triliun menggunakan penyesuaian kurs Rp17.110/US$. Nilainya meningkat menjadi sekitar Rp59,66 triliun pada kurs Rp18.000/US$.
Porsi terbesar berasal dari kewajiban jangka panjang, termasuk Obligasi Global dan pinjaman bank, senilai US$2,84 miliar. Nilainya meningkat dari sekitar Rp48,52 triliun menjadi Rp51,12 triliun.
Selain itu, terdapat utang bank jangka pendek senilai US$384,93 juta atau setara Rp6,58 triliun menjadi Rp6,93 triliun.
Utang usaha dan kewajiban operasional lainnya dalam dolar AS sebesar US$55,04 juta juga meningkat dari sekitar Rp941,73 miliar menjadi Rp990,72 miliar.
Kewajiban dalam mata uang non-USD, seperti yen Jepang, riyal Arab Saudi, dan lira Turki, memiliki nilai kumulatif sekitar Rp620 miliar.
Perusahaan tercatat tidak memiliki kebijakan hedging formal atas risiko fluktuasi nilai tukar tersebut pada periode laporan terkait.
3. PT Modernland Realty Tbk (MDLN)
Emiten properti PT Modernland Realty Tbk (MDLN) menjadi perusahaan berikutnya yang terekspos kondisi fluktuasi rupiah.
Hingga akhir 2025, MDLN memiliki total liabilitas valuta asing sekitar Rp5,28 triliun dengan penyesuaian kurs Rp17.110/US$. Nilainya meningkat menjadi sekitar Rp5,56 triliun ketika dihitung menggunakan kurs Rp18.000/US$.
Seluruh kewajiban tersebut berada dalam denominasi dolar AS. Porsi terbesar berasal dari utang obligasi senilai US$274,51 juta atau setara Rp4,70 triliun menjadi Rp4,94 triliun. Obligasi tersebut akan jatuh tempo pada April 2027.
Komponen utang lainnya mencakup pinjaman sindikasi sebesar US$31,30 juta atau setara Rp535,54 miliar menjadi Rp563,40 miliar. Pinjaman tersebut akan jatuh tempo pada Januari 2027.
Selain itu, MDLN memiliki beban akrual senilai US$3,05 juta yang nilainya meningkat dari sekitar Rp52,19 miliar menjadi Rp54,90 miliar.
Untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar, perusahaan menggunakan instrumen derivatif berupa kontrak forward mata uang serta melakukan pengawasan rutin terhadap kondisi ekonomi.
Dari sektor telekomunikasi, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mencatat total liabilitas valuta asing per akhir 2025 sekitar Rp1,15 triliun pada kurs Rp17.110/US$. Nilainya meningkat menjadi sekitar Rp1,21 triliun pada kurs Rp18.000/US$.
Liabilitas tersebut terutama berasal dari utang usaha kepada pemasok senilai US$67,12 juta, yang nilainya meningkat dari sekitar Rp1,15 triliun menjadi Rp1,21 triliun.
Selain itu, terdapat beban akrual sebesar US$220.000 atau setara Rp3,76 miliar menjadi Rp3,96 miliar.
Berbeda dengan periode sebelumnya, perusahaan tidak lagi mencatat pinjaman bank jangka panjang maupun obligasi dalam mata uang asing pada akhir 2025.
Eksposur risiko nilai tukar saat ini terutama bersumber dari kewajiban pembayaran kepada pemasok untuk kebutuhan belanja modal. Untuk memitigasi risiko tersebut, manajemen melakukan pengawasan dan evaluasi rutin melalui fungsi treasury sesuai dengan kebijakan yang telah disetujui direksi.
5. PT Harum Energy Tbk (HRUM)
Untuk sektor energi, PT Harum Energy Tbk (HRUM) mencatat total liabilitas dalam denominasi dolar AS sekitar Rp24,58 triliun menggunakan penyesuaian kurs Rp17.110/US$.
Jika dihitung menggunakan kurs Rp18.000/US$, nilainya meningkat menjadi sekitar Rp25,87 triliun atau setara kurang lebih US$1,44 miliar.
HRUM menggunakan dolar AS sebagai mata uang fungsional dan penyajian laporan keuangannya. Dengan demikian, nilai tersebut merepresentasikan keseluruhan porsi utang dalam dolar AS yang dimiliki grup perusahaan.
Komponen terbesar berasal dari utang kepada pemegang saham nonpengendali entitas anak senilai US$628,97 juta. Nilainya meningkat dari sekitar Rp10,76 triliun menjadi Rp11,32 triliun.
Komponen utama lainnya adalah fasilitas utang bank jangka panjang, termasuk bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun, senilai US$616,67 juta. Nilainya meningkat dari sekitar Rp10,55 triliun menjadi Rp11,10 triliun.
Sisa liabilitas dalam dolar AS mencakup sejumlah pos operasional seperti utang usaha, utang lain-lain, beban akrual, dan kewajiban pajak. Totalnya mencapai sekitar US$191,31 juta atau setara Rp3,27 triliun menjadi Rp3,44 triliun.
Untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar, manajemen menerapkan kebijakan penyeimbangan arus kas atau natural hedging dengan menyelaraskan penerimaan dan pembayaran dari aktivitas operasi serta pendanaan dalam mata uang yang sama.
6. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)
Sebagai salah satu emiten farmasi terbesar, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memiliki total liabilitas valuta asing sekitar Rp1,83 triliun menggunakan penyesuaian kurs Rp17.110/US$.
Pada kurs Rp18.000/US$, total liabilitas valuta asing tersebut meningkat menjadi sekitar Rp1,90 triliun.
Kewajiban ini didominasi denominasi dolar AS dengan total US$75,26 juta. Nilainya meningkat dari sekitar Rp1,28 triliun menjadi Rp1,35 triliun.
Komponen utamanya terdiri atas utang usaha dan utang lain-lain senilai US$65,27 juta atau setara Rp1,12 triliun menjadi Rp1,17 triliun.
Selain itu, terdapat pinjaman konversi senilai US$8,52 juta atau setara Rp145,82 miliar menjadi Rp153,36 miliar, serta beban akrual sebesar US$1,38 juta atau setara Rp23,57 miliar menjadi Rp24,84 miliar.
Liabilitas sewa sebesar sekitar US$80.000 juga meningkat dari sekitar Rp1,41 miliar menjadi Rp1,44 miliar.
Kewajiban dalam mata uang non-USD, seperti euro, peso Filipina, yuan China, dan baht Thailand, memiliki nilai kumulatif sekitar Rp541,90 miliar.
Untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar, perusahaan tidak mengimplementasikan kebijakan lindung nilai atau hedging formal. Mitigasi dilakukan dengan merencanakan pembelian valuta asing yang cukup untuk kebutuhan impor, melakukan pemantauan pasar secara intensif, serta mengatur waktu pembelian secara tepat.
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk maupun sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya berada di tangan pembaca sehingga kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541724/original/004752700_1774880357-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-07.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511046/original/065039300_1771865641-IMG_0879.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541708/original/058501100_1774879682-20260330AA_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-2.jpg)






:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541732/original/088533500_1774880557-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-06.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5540048/original/067038200_1774678268-WhatsApp_Image_2026-03-28_at_13.00.11.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541744/original/066090300_1774887404-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-23.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4912760/original/076904200_1723110050-BRI_Liga_1_-_Ilustrasi_Persita_Tangerang_BRI_Liga_1_Musim_2024_2025_copy.jpg)
