Rupiah-Yen Menguat Hadapi Dolar AS, Ringgit-Baht Justru Tumbang

7 hours ago 3

Review Sepekan

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

12 September 2026 12:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia berhasil menguat dalam melawan pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini, tak terkecuali rupiah.

Walaupun, pada perdagangan terakhir pekan ini, mata uang garuda mesti ditutup melemah dari Greenback.

Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,23% ke posisi Rp17.585/US$ pada Jumat (11/9/2026).

Kendati demikian, rupiah masih menguat sebesar 0,26% dalam sepekan ini yang sekaligus memperpanjang tren positif penguatan rupiah dalam enam pekan tanpa pelemahan.

Sepanjang perdagangan pekan ini pun, rupiah bahkan sempat ditutup di posisi Rp17.500/US$ pada Rabu (9/9/2026), yang menjadi level terkuat dalam 17 pekan terakhir atau sejak 15 Mei 2026.

Yen Terbang, Ringgit Justru Tertekan

Penguatan nilai tukar juga terjadi di banyak negara asia lainnya. Yen Jepang menjadi mata uang Asia dengan penguatan paling tajam sepanjang pekan ini. Mata uang tersebut terapresiasi 1,73%.

Yen bahkan sempat menyentuh posisi terkuatnya terhadap dolar AS dalam tujuh bulan terakhir pada awal pekan.

Penguatan tersebut didorong oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ. Pasar memperkirakan bank sentral Jepang akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% pada pertemuan pekan depan.

Ekspektasi tersebut semakin kuat setelah inflasi harga grosir Jepang bertahan tinggi. Kondisi itu membuka ruang bagi BOJ untuk kembali memperketat kebijakan moneternya.

Penguatan yen juga didukung oleh perubahan posisi investor. Pelaku pasar mulai mengurangi transaksi yen carry trade, yaitu strategi meminjam yen dengan biaya rendah untuk ditempatkan pada aset negara lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Ketika suku bunga Jepang diperkirakan naik dan yen menguat, biaya untuk menutup pinjaman menjadi lebih mahal. Investor kemudian membeli kembali yen untuk menutup posisi tersebut sehingga mendorong mata uang Jepang semakin kuat.

Selain itu, pemerintah Jepang dan AS terus menjaga komunikasi mengenai stabilitas pasar valuta asing setelah sebelumnya melakukan intervensi untuk menopang yen. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan kebijakan kedua negara terhadap pasar valuta asing tidak berubah.

Mata uang Asia lain yang menguat adalah dong Vietnam sebesar 0,51%, rupiah 0,26%, won Korea Selatan 0,20%, yuan China 0,04%, dan peso Filipina 0,02%.

Sebaliknya, ringgit Malaysia menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terdalam pada pekan ini. Ringgit terdepresiasi 0,67%.

The Fed dan Lonjakan Harga Minyak Membayangi Mata Uang Asia

Pergerakan mata uang Asia yang beragam sepanjang pekan ini dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan suku bunga AS, lonjakan harga minyak, perang AS-Iran, hingga proyeksi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ).

Indeks dolar AS (DXY) sebenarnya melemah tipis 0,05% sepanjang pekan. Namun, tekanan dari dolar kembali meningkat menjelang akhir pekan setelah data inflasi AS memperbesar peluang kenaikan suku bunga The Fed.

Inflasi konsumen AS naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,1% pada Juli.

Data tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 86% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat pada 15-16 September 2026. Peluang itu meningkat dari 72% sebelum data inflasi dirilis.

Selain kebijakan The Fed, lonjakan harga minyak turut membayangi mata uang Asia. Harga minyak mentah Brent melesat 8,65% sepanjang pekan dan bertahan di atas US$100 per barel akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak dapat menambah beban impor dan meningkatkan kebutuhan dolar bagi negara-negara Asia yang bergantung pada pasokan energi dari luar negeri. Tekanan tersebut ikut menahan penguatan sejumlah mata uang kawasan meskipun dolar AS melemah secara mingguan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
| | | |