Saat Alis Jadi Simbol Status: Sejarah Panjang Kosmetik Peradaban China

1 hour ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

16 February 2026 14:20

Jakarta, CNBC Indonesia- Sejarah rias wajah perempuan di China berjalan seiring dengan perubahan struktur sosial dan teknologi material.

Ketertarikan pada kecantikan sudah tercatat sejak periode awal peradaban, jauh sebelum kosmetik menjadi industri. Dalam masyarakat kuno, riasan berfungsi sebagai cara merawat tubuh sekaligus penanda norma estetika yang hidup pada zamannya.

Riasan Tiongkok kuno lebih menekankan bentuk alis dibandingkan tampilan mata. Dengan sapuan lembut perona pada pipi dan di bawah mata, gaya riasan ini pun dikenal sebagai "Riasan Bawah Mata."

Dalam tata rias China, alis merupakan penanda penting status sosial, zaman, dan bahkan kepribadian seseorang. Alis selalu menempati posisi utama dalam estetika wajah China, dan setiap bentuknya memiliki nama tersendiri.

Begitu pentingnya, menggambar alis bahkan menjadi bagian yang paling rumit dalam rangkaian tata rias Dinasti Tang.

Periode Zhou menjadi titik awal sistematisasi kosmetik.

Dinasti Zhou membuka babak baru dalam sejarah rias wajah di China. Pada periode inilah praktik kecantikan mulai lebih terstruktur dan berkembang menjadi bagian dari budaya istana maupun masyarakat.

Penggunaan rias alis, bibir, dan wajah sudah dikenal, dengan palet warna terbatas hitam dan putih. Bedak, krim wajah, lip gloss, hingga wewangian mulai diproduksi dari bahan alami.

Lemak hewan dan minyak biji tanaman digunakan sebagai pelembap, sementara bahan beraroma dipakai untuk perawatan rambut.
Kesederhanaan visual era ini berangkat dari keterbatasan teknologi sekaligus preferensi estetika yang menekankan kebersihan dan kerapian.

Kosmetik pada masa Dinasti Zhou mencakup produk yang disebut "Zhi" (脂).

Zhi merujuk pada lemak hewan atau minyak dari biji tanaman yang diolah untuk keperluan kecantikan.

  • Lip zhi digunakan sebagai pewarna bibir atau cikal bakal lipstik.

  • Face zhi berfungsi sebagai pelembap wajah untuk menjaga kelembutan kulit.

Penggunaan bahan alami ini menunjukkan bahwa bahkan pada tahap awal peradaban, masyarakat China telah memiliki pemahaman mengenai perawatan kulit berbasis material organik.

Riasan ZhouFoto: Pexels
Riasan Zhou

Memasuki Qin dan Han , Teknik Rias Berkembang Lebih Jauh.

Bedak berbasis timbal dan timah diproduksi melalui proses kimia, menandai kemajuan pengetahuan material. Lapisan dasar wajah mengandalkan bedak putih dan merah, dengan pewarna merah berasal dari mineral seperti cinnabar dan tumbuhan safflower.

Alis digambar memakai grafit yang dihaluskan, sementara lip grease berbahan air dan cinnabar berfungsi menjaga kelembapan bibir. Kompleksitas riasan meningkat karena kosmetik mulai dipakai berlapis dan mengikuti urutan tertentu.

Perempuan pada masa Dinasti Han sering mengenakan riasan yang dikenal sebagai tampilan "bedak putih dan dai hitam (pigmen hijau kehitaman yang digunakan untuk menggambar alis)."

Karena perbedaan status sosial, masyarakat kelas bawah umumnya menggunakan "kosmetik alami," seperti butiran beras yang digiling halus sebagai alas bedak. Metode ini tentu lebih sehat dibandingkan metode yang lebih populer, tetapi efek memutihkannya tidak terlalu terlihat.

Sementara itu, perempuan dari kalangan sosial lebih tinggi menggunakan bedak putih berbahan dasar timbal, yang memberikan efek pemutih kuat, namun secara alami bersifat beracun seperti yang kita ketahui. Bedak ini dibuat dari bahan seperti timbal dan timah, yang diolah secara kimia lalu diubah menjadi bubuk.

Setelah wajah tampak putih, bagian terpenting berikutnya adalah menggambar alis. Untuk menggunakan dai hitam, pigmen tersebut harus terlebih dahulu dilarutkan dalam air sebelum diaplikasikan.

Pada era Wei, Jin, serta Dinasti Selatan dan Utara, variasi rias wajah menjadi semakin beragam.

Wajah putih tanpa perona pipi lazim di lingkungan istana. Dekorasi dahi muncul melalui pigmen kuning, sementara pipi dihias dengan pola merah miring berbentuk bulan sabit atau bekas luka. Huadian, ornamen kecil di antara alis, populer dengan motif bunga plum. Perubahan ini mencerminkan kebebasan ekspresi yang lebih luas dalam estetika wajah.

Terfokus pada ragam bentuk alisFoto: Florasis
Terfokus pada ragam bentuk alis

Dinasti Tang

Kesederhanaan kembali dominan di masa Sui, sebelum berubah drastis pada era Tang.

Pertumbuhan ekonomi dan interaksi lintas budaya membawa pengaruh asing ke dalam gaya rias. Teknik kosmetik mencapai puncaknya, dengan tahapan rias wajah yang rinci dan penggunaan warna merah yang intens. Variasi bentuk alis bertambah hingga belasan model, menandakan riasan telah menjadi ruang eksplorasi identitas visual..

Dinasti Tang merupakan periode yang sangat terbuka dalam sejarah China, karena masyarakat Tang lebih terbuka dan berani dalam riasan mereka dibandingkan generasi sebelumnya.
Salah satu drama China yang menampilkan riasan ala Dinasti Tang dengan sangat jelas adalah Flourished Peony.

Flourished PeonyFoto: IMDB
Flourished Peony

Jika masyarakat Dinasti Han menyukai "Riasan Putih", maka masyarakat Dinasti Tang jauh lebih menyukai warna merah. "Riasan Merah" menjadi favorit para wanita Tang. Mereka lebih menyukai riasan wajah yang anggun dan mewah, sehingga perona pipi (rouge) menjadi produk kosmetik paling populer. Tren riasan yang paling mendefinisikan Dinasti Tang adalah penggunaan perona merah pada area wajah yang luas, menciptakan tampilan yang kaya dan megah.

Selama Dinasti Tang, teknik tata rias juga berkembang hingga mencapai puncak yang belum pernah terjadi sebelumnya. Urutan tata rias wajah wanita Dinasti Tang secara umum dapat dibagi sebagai berikut: bedak timbal, perona pipi, alis, hiasan tempel, titik hias wajah dan sapuan merah miring, serta lipstik. Karena riasan merah yang kuat sangat populer saat itu, variasinya pun beragam dari segi warna dan ukuran. Bentuk alis pun berkembang menjadi sekitar lima belas gaya yang berbeda.

Untuk menonjolkan kontur wajah dan membuat wajah terlihat lebih kemerahan, wanita memilih satu atau beberapa bagian seperti dahi, kelopak mata, pipi, dan dagu untuk diberi perona merah.

Wanita Dinasti Tang mengikuti langkah-langkah tertentu saat merias wajah.

Tujuh langkah tersebut adalah:

  1. Membubuhkan bedak pada wajah
  2. Memberi perona pada pipi
  3. Menggambar alis
  4. Menghias dahi dengan ornamen yang disebut Huadian
  5. Memberi hiasan pada pipi yang disebut Mianye
  6. Melukis pelipis dengan bentuk bulan sabit yang disebut Xiehong
  7. Mewarnai bibir

Huadian hadir dalam berbagai warna (merah, hijau, kuning - namun kebanyakan merah), bentuk (bunga/kelopak, hewan seperti burung atau ikan, dan lainnya), serta bahan (cat, kertas, emas, mutiara, kelopak bunga, tulang ikan, kerang, bulu, dan sebagainya). Tanda ini biasanya hanya dikenakan oleh wanita istana dan perempuan berpangkat tinggi.

Flourished PeonyFoto: IMDB
Flourished Peony

Mianye merupakan Huadian yang dilukis atau ditempel di sudut mulut untuk menciptakan efek lesung pipi, dengan berbagai bentuk seperti koin, buah persik, burung, dan bunga.

Xiehong adalah bentuk lain dari Huadian berupa desain bulan sabit yang dilukis di pelipis

Pada pertengahan hingga akhir Dinasti Tang, akibat gejolak nasional dan sosial, kehidupan wanita tidak lagi sebebas saat masa kejayaan. Riasan pun perlahan berubah.

Riasan merah masih dominan, tetapi beberapa wanita tampil lebih berani dan inovatif dalam mode serta eksperimen tata rias. Mereka mencoba elemen yang lebih eksotis dan menciptakan tampilan yang fantastis. Gaya paling menonjol pada akhir Dinasti Tang adalah riasan Shishi (时世妆, shí shì zhuāng).

Ini merupakan versi yang lebih dilebih-lebihkan dari riasan Ti, dengan pipi yang lebih merah, bibir dicat hitam atau merah gelap, dan alis yang digambar tajam. Citra keseluruhannya adalah alis hitam, wajah berwarna oker, dan bibir hitam yang kontras dengan riasan lembut sebelumnya.

Dinasti Song menandai pergeseran selera. Rias wajah bergerak ke arah natural dan ringan. Warna dasar tetap bertumpu pada putih dan merah, namun tampil lebih tipis. Tinta hitam menggantikan dai sebagai alat menggambar alis, sejalan dengan preferensi estetika yang lebih tenang.

Dinasti Song

Pada masa Ming dan Qing, riasan semakin halus. Beragam bedak dikembangkan sesuai musim, termasuk bubuk berbahan bunga dan tanaman. Ideal kecantikan Qing menekankan alis melengkung, mata ramping, dan bibir tipis. Menjelang akhir dinasti, kebiasaan rias merah yang telah berlangsung ribuan tahun mulai ditinggalkan.

Memasuki awal Republik China, estetika rias masih mengikuti pola akhir Qing, namun pengaruh Barat membuka cara pandang baru.

Bahkan dengan riasan yang ringan, tata rias para perempuan Dinasti Song tetap memancarkan kesan anggun dan berkelas. Para wanita bangsawan istana menjadi yang pertama menggunakan mutiara sebagai hiasan dalam riasan mereka, dan mereka memanfaatkan mutiara untuk memperindah Mianye.

The Double, drama China yang mengambil latar belakang Dinasti Song, termasuk riasanFoto: IMDB
The Double, drama China yang mengambil latar belakang Dinasti Song, termasuk riasan

Dinasti Ming

Estetika riasan Dinasti Ming mirip dengan Dinasti Song, tetap mengusung riasan ringan, namun dengan ciri yang lebih natural dan tidak sengaja menonjolkan kesan feminin secara berlebihan. Secara keseluruhan, warna kulit dalam riasan wanita Ming tampak lebih cerah dibandingkan riasan putih dinasti-dinasti sebelumnya, dengan penggunaan perona secukupnya untuk memberikan kesan lebih sehat.

Para gadis Dinasti Ming juga menyukai teknik "highlight", yaitu membubuhkan bedak putih yang lebih jelas pada dahi, hidung, dan rahang. Bahkan bisa dikatakan bahwa riasan Dinasti Ming mulai mendekati praktik tata rias modern.

Legend of Dragon Pearl, drama China dengan latar belakang Dinasti ming, termasuk riasanFoto: IMDB
Legend of Dragon Pearl, drama China dengan latar belakang Dinasti ming, termasuk riasan

Riasan wajah Dinasti Ming mengejar efek "light makeup without makeup" (tampilan natural seolah tanpa riasan). Perbedaan terbesar dibandingkan dinasti sebelumnya terletak pada bentuk alis yang lebih alami, meskipun tetap tipis dan panjang. Riasan bibir Dinasti Ming juga lebih mendekati warna nude, yaitu meniru warna alami bibir.

Gaya "Peach Blossom Makeup" dan Jiuyun yang muncul pada Dinasti Tang kembali sangat menonjol pada Dinasti Ming. Perona pada masa ini sangat melimpah dan mulai menyerupai blush modern.

Dinasti Qing 

Riasan Dinasti Qing mungkin menjadi yang paling familiar bagi kita saat ini, karena kamera sudah digunakan pada akhir periode Dinasti Qing.

Pada awal Dinasti Qing, wanita menganjurkan alis melengkung, mata yang tampak lebih tipis, dan bibir tipis. Menjelang akhir Dinasti Qing, wanita mulai meninggalkan kebiasaan riasan tebal dan mengakhiri tradisi riasan merah yang telah berlangsung lebih dari dua ribu tahun.

Riasan Dinasti Qing pada dasarnya mengikuti gaya Dinasti Ming, yaitu sederhana dan natural, dengan lapisan bedak tipis pada wajah.

Yang paling khas dari dua aliran utama riasan Dinasti Qing adalah gaya riasan bibir. Salah satunya adalah bibir atas dicat penuh sementara bibir bawah hanya diberi sedikit perona di bagian tengah - gaya ini lebih populer di kalangan istana. Gaya lainnya adalah menambahkan perona langsung di bagian tengah bibir atas dan bawah, dicat menyerupai kelopak bunga.

ilustrasi kekaisaran ChinaFoto: Pixabay
ilustrasi kekaisaran China

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
| | | |