Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
16 February 2026 13:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Memahami sejarah Tiongkok ibarat membaca laporan keuangan perusahaan raksasa yang telah beroperasi selama 5.000 tahun. Ada siklus bullish di mana ekspansi dan kemakmuran terjadi, dan ada siklus bearish yang diwarnai perpecahan dan perang.
Bagi para pengamat geopolitik dan sejarawan, pola kepemimpinan masa lalu ini adalah kunci untuk membedah karakter Tiongkok modern. Setiap dinasti meninggalkan jejak fundamental, mulai dari filosofi birokrasi, inovasi teknologi, hingga klaim wilayah yang masih relevan hingga hari ini.
Berikut adalah pembaruan daftar 8 dinasti "Blue Chip" dalam sejarah Tiongkok, yang telah disusun ulang berdasarkan dampak strategis, kemajuan peradaban, dan stabilitas ekonomi mereka.
1. Dinasti Tang (618 - 907 M): Puncak Kosmopolitanisme Dunia
Jika ada satu masa di mana Tiongkok benar-benar menjadi pusat gravitasi dunia, itulah era Dinasti Tang. Didirikan di atas puing-puing Dinasti Sui, Tang membawa peradaban Tiongkok ke tingkat kemakmuran dan pengaruh internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada abad ke-7 dan ke-8, ibu kota Chang'an (sekarang Xi'an) bertransformasi menjadi kota metropolitan global dengan populasi mencapai satu juta jiwa.
Kota ini adalah titik akhir dari Jalur Sutra, tempat bertemunya pedagang, sarjana, dan pemuka agama dari Persia, Arab, India, hingga Jepang. Keterbukaan terhadap budaya asing ini menjadikan masyarakat Tang sangat toleran, beragam, dan percaya diri.
Stabilitas politik di awal dinasti memungkinkan seni dan sastra berkembang pesat. Ini adalah zaman keemasan puisi Tiongkok, di mana penyair legendaris seperti Li Bai dan Du Fu menciptakan karya-karya abadi yang masih menjadi standar kurikulum sastra hingga hari ini.
Namun, masa keemasan ini mengalami titik balik drastis pada tahun 755 M akibat Pemberontakan An Lushan. Perang saudara yang berlangsung selama delapan tahun ini melemahkan kekuasaan pusat dan merusak ekonomi, meskipun dinasti ini masih mampu bertahan satu setengah abad lagi dalam kondisi yang lebih terdesentralisasi.
Foto: Jalur Sutra. (Dok. Malang International School)
2. Dinasti Han (202 SM - 220 M): Pembentuk Identitas Bangsa
Dinasti Han sering disandingkan dengan Kekaisaran Romawi di Barat karena stabilitas, durasi, dan dampak strukturalnya yang masif. Di sinilah fondasi birokrasi kekaisaran benar-benar ditancapkan.
Kaisar Gaozu mendirikan Han dengan mempertahankan sistem sentralisasi pendahulunya namun melunakkan hukum-hukum yang terlalu kejam, menciptakan model pemerintahan yang jauh lebih berkelanjutan.
Pencapaian terbesar Dinasti Han adalah pengadopsian Konfusianisme sebagai filosofi resmi negara di bawah Kaisar Wu. Langkah strategis ini membentuk etika pemerintahan dan moralitas keluarga yang menjadi ciri khas masyarakat Tionghoa selama dua ribu tahun.
Identitas budaya ini begitu kuat tertanam sehingga mayoritas etnis Tiongkok hari ini dengan bangga menyebut diri mereka sebagai "Orang Han".
Secara geopolitik, Dinasti Han berhasil memperluas wilayah hingga ke Korea, Vietnam, dan Asia Tengah. Inisiatif diplomatik utusan Zhang Qian membuka Jalur Sutra untuk pertama kalinya, menghubungkan ekonomi Tiongkok dengan peradaban Barat.
Era ini juga menyaksikan penemuan kertas oleh Cai Lun, sebuah inovasi yang merevolusi penyebaran pengetahuan global. Stabilitas jangka panjang yang diciptakan Han (Pax Sinica) memungkinkan pertanian dan populasi berkembang pesat, menjadikan Tiongkok kekuatan dominan tak terbantahkan di Asia Timur.
3. Dinasti Qin (221 - 206 SM): Arsitek Negara Kesatuan
Meskipun berumur sangat pendek, hanya 15 tahun, Dinasti Qin adalah titik balik paling krusial dalam sejarah politik Tiongkok. Sebelum Qin, wilayah ini terpecah belah menjadi berbagai kerajaan feodal yang saling berperang selama berabad-abad.
Qin Shi Huang, sang kaisar pertama, melakukan langkah radikal dengan menaklukkan seluruh negara saingannya dan menyatukan Tiongkok di bawah satu pemerintahan pusat yang absolut.
Kaisar Qin memberlakukan standarisasi yang masif untuk memastikan kesatuan ekonomi dan administrasi. Ia menyeragamkan aksara tulisan, mata uang, serta ukuran timbangan dan panjang poros roda kereta di seluruh wilayah kekaisaran.
Tanpa langkah ini, integrasi ekonomi antar wilayah mustahil terjadi. Proyek infrastruktur raksasa dijalankan, termasuk pembangunan jalan raya nasional dan penyambungan tembok-tembok pertahanan utara yang menjadi cikal bakal Tembok Besar Tiongkok.
Namun, pemerintahan Qin dikenal sangat otoriter dengan penerapan aliran Legalisme yang keras. Buku-buku filsafat yang dianggap membahayakan dibakar, dan para sarjana yang menentang dikubur hidup-hidup.
Kekejaman ini, ditambah beban kerja paksa untuk membangun makam kaisar (termasuk Pasukan Terakota yang terkenal), memicu pemberontakan petani yang segera meruntuhkan dinasti ini setelah kematian Qin Shi Huang.
Foto: Prajurit terakota terlihat di Museum Prajurit Terakota dan Kuda Kaisar Qin Shihuang di Xian, di Provinsi Shaanxi, China barat laut pada 8 Januari 2018. (AFP via Getty Images/LUDOVIC MARIN)
4. Dinasti Zhou (1046 - 256 SM): Fajar Intelektual Timur
Dinasti Zhou memegang rekor sebagai dinasti dengan masa pemerintahan terlama dalam sejarah Tiongkok. Sumbangan terbesar Zhou bukanlah pada penaklukan militer, melainkan pada warisan intelektual yang menjadi "sistem operasi" mentalitas bangsa Tiongkok.
Di era inilah konsep "Mandat Surga" (Tianming) diperkenalkan untuk melegitimasi pergantian kekuasaan; seorang penguasa berhak memimpin selama ia bermoral dan menyejahterakan rakyatnya.
Paruh kedua era Zhou, yang dikenal sebagai Periode Negara Berperang, adalah masa kekacauan politik namun sekaligus masa paling produktif bagi pemikiran manusia. Dalam upaya mencari solusi atas krisis sosial, lahirlah "Seratus Aliran Pemikiran". Tokoh-tokoh besar seperti Confusius (Kong Hu Cu), Lao Tzu (pendiri Taoisme), Mencius, dan Sun Tzu (penulis The Art of War) hidup dan mengajar pada masa ini.
Gagasan-gagasan mereka tentang etika, tata negara, strategi militer, dan harmoni alam menjadi tulang punggung budaya Tiongkok yang bertahan melampaui kebangkitan dan kejatuhan dinasti-dinasti setelahnya.
5. Dinasti Song (960 - 1279 M): Raksasa Ekonomi dan Teknologi
Sering kali diremehkan karena catatan militernya yang defensif, Dinasti Song sejatinya adalah raksasa ekonomi dan teknologi yang melampaui zamannya. Jika diukur dengan standar modern, PDB Tiongkok di era Song diperkirakan merupakan yang tertinggi di dunia saat itu.
Mereka memperkenalkan uang kertas pertama di dunia untuk memfasilitasi volume perdagangan masif yang tak lagi bisa ditangani koin logam, sebuah inovasi finansial yang revolusioner.
Kelemahan militer Song melawan suku-suku utara justru memicu ledakan inovasi teknologi pertahanan. Bubuk mesiu disempurnakan untuk peperangan, dan kompas magnetik ditemukan untuk navigasi maritim.
Budaya literasi dan seni lukis mencapai tingkat kehalusan estetika yang tinggi di kota-kota seperti Kaifeng dan Hangzhou, yang digambarkan sangat makmur oleh pelancong asing.
Sayangnya, kekayaan finansial ini tidak dibarengi dengan kekuatan militer yang cukup untuk menahan gelombang invasi bangsa Mongol yang akhirnya meruntuhkan mereka.
Foto: West Lake, Hangzhou, China. (Dok. whc.unesco)
6. Dinasti Qing (1644 - 1912 M): Ekspansi Wilayah Maksimal
Dinasti Qing didirikan oleh bangsa Manchu dari timur laut yang berhasil menembus Tembok Besar dan menggulingkan Dinasti Ming. Sebagai penguasa asing, Qing menghadapi tantangan besar untuk memerintah populasi Han yang jauh lebih besar.
Mereka menerapkan kebijakan hibrida: mempertahankan sistem ujian pejabat dan birokrasi Han, namun tetap menjaga identitas Manchu di level elite militer.
Puncak kejayaan Qing terjadi pada abad ke-18 di bawah pemerintahan tiga kaisar besar yaitu Kangxi, Yongzheng, dan Qianlong. Periode ini dikenal sebagai "High Qing Era", di mana Tiongkok menikmati stabilitas politik, pertumbuhan populasi yang meledak hingga 400 juta jiwa, dan ekspansi wilayah yang masif.
Peta wilayah Tiongkok modern, termasuk integrasi Tibet, Xinjiang, Mongolia, dan Taiwan, dikonsolidasikan pada masa ini. Namun, isolasi diri dan keengganan untuk mengadopsi teknologi industri Barat membuat Qing tertinggal di abad ke-19, berakhir dengan jatuhnya sistem kekaisaran pada tahun 1912.
7. Dinasti Ming (1368 - 1644 M): Restorasi dan Monumen Megah
Dinasti Ming lahir dari gerakan nasionalis yang berhasil mengusir bangsa Mongol (Dinasti Yuan) dan memulihkan kekuasaan etnis Han. Trauma akan invasi asing membuat Ming membangun kembali Tembok Besar dengan struktur batu bata yang kokoh dan megah seperti yang kita lihat saat ini.
Di bidang arsitektur, Ming juga membangun Kota Terlarang (Forbidden City) di Beijing, kompleks istana terbesar di dunia yang menjadi simbol kekuasaan absolut.
Salah satu aspek paling menarik dari awal Dinasti Ming adalah ekspedisi maritim Laksamana Zheng He (Cheng Ho). Dengan armada kapal harta karun yang jauh lebih besar daripada kapal-kapal Eropa masa itu, Zheng He berlayar hingga ke Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika Timur.
Namun ekspedisi ini dihentikan oleh faksi konservatif istana yang memilih kebijakan isolasi (Haijin). Meski demikian, ekonomi domestik tetap tumbuh berkat perdagangan perak global dan produksi porselen biru-putih yang menjadi komoditas global.
Foto: Wisatawan mengunjungi salah satu bangunan bagian dari situs bersejarah Kota Terlarang atau Forbidden City di Beijing. AP/Mark Schiefelbein
8. Dinasti Yuan (1271 - 1368 M): Jembatan Timur dan Barat
Dinasti Yuan mencatat sejarah sebagai kali pertama seluruh wilayah Tiongkok diperintah oleh bangsa non-Han, yaitu bangsa Mongol di bawah Kubilai Khan. Yuan menjadikan Beijing (saat itu disebut Dadu) sebagai ibu kota utama, keputusan strategis yang menetapkan Beijing sebagai pusat politik Tiongkok hingga sekarang.
Keunikan era ini terletak pada integrasi globalnya. Sebagai bagian dari Kekaisaran Mongol yang membentang dari Pasifik hingga Eropa, Tiongkok menjadi sangat terbuka bagi dunia luar.
Marco Polo adalah salah satu saksi mata yang mencatat kemegahan Tiongkok di era ini. Transfer teknologi seperti penyebaran teknik cetak dan bubuk mesiu ke Barat terjadi secara masif melalui jalur aman Pax Mongolica.
Meskipun berumur pendek karena konflik internal dan diskriminasi rasial, Yuan berhasil menghubungkan Tiongkok ke dalam jaringan perdagangan global pra-modern.
Foto: Pixabay
ilustrasi kekaisaran China
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)





:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5048041/original/074776600_1734010897-20241212AA_Asean_Cup_2024_Indonesia_vs_Laos-17.JPG)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2363657/original/084760200_1537434835-Vietnam.jpg)
