Saham Tambang Nikel RI Kompak Melejit, Ternyata Karena Ini

1 day ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten tambang nikel RI kompak melesat pada perdagangan hari ini, melanjutkan reli yang telah terjadi dalam sepekan terakhir. Kenaikan harga saham nikel terjadi setelah harga patokan global melesat menyentuh level tertinggi dalam nyaris dua tahun terakhir akibat pembatasan kapasitas produksi di Indonesia.

Hingga pukul 10.55 WIB pada sesi pertama hari ini, saham Ifishdeco (IFSH) memimpin kenaikan dengan penguatan 24,19% ke Rp 1.155 per saham atau menyentuh batas auto rejection atas. Dalam sepekan saham NICL telah melesat 460%. Lalu diikuti oleh saham Vale Indoensia (INCO)  yang naik 12,89% ke Rp 6.350 dan saham Harita Nickel atau Trimegah Bangun Persada (NCKL) yang lompat 12,31% ke Rp 1.460 per saham.

Adapun saham emiten tambang nikel milik BUMN, Aneka Tambang (ANTM), hari ini menguat 12,17% ke RP 3.870 per saham dan dalam sepekan telah menguat 23,17%.

Saham Merdeka Battery Materials (MBMA) hari ini naik 8,33% ke Rp 715 per saham, diikuti saham Central Omega Resources (DKFT) yang menguat 6,77% ke Rp 1.025 per saham dan telah menguat 43% dalam sepekan.

Kemudian saham Sinar Terang Mandiri (MINE) dan Adhi Kartiko Pratama (NICE) yang masing-masing naik 6% dan 5%.

Terakhir ada saham PAM Mineral (NICL) yang hari ini terkoreksi tipis, namun dalam sepekan telah naik 48%.

Diketahui, Harga nikel dunia kembali menyentuh level US$ 18.000 per ton untuk pertama kalinya dalam 15 bulan terakhir. Harga nikel nikel kontrak tiga bulan di Bursa Logam London (LME) ditutup di level US$ 18.524 per ton pada perdagangan Selasa (6/1/2025). Sebelumnya, harga kontrak nikel 3 bulan di LME terakhir kali mencapai level tersebut pada Mei 2024.

Kenaikan harga nikel global yang melonjak hampir 40% dalam tiga minggu terakhir terjadi di tengah pengurangan pasokan global dari Indonesia, produsen nikel terbesar di dunia. Pemerintah RI baru-baru ini mengusulkan pengurangan produksi nikel sebesar 34% dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 untuk mengatasi kekhawatiran yang meningkat tentang kelebihan pasokan dan peringatan dari para penambang bahwa kualitas bijih semakin memburuk.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, tren harga komoditas saat ini, khususnya batu bara dan nikel, tengah mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan di pasar global, termasuk yang berasal dari Indonesia.

Oleh karena itu, pihaknya akan berupaya menjaga pasokan dari Indonesia agar tidak berlebih di pasar, sehingga bisa mendongkrak harga.
Selain pertimbangan harga, Bahlil menekankan, rencana pembatasan produksi tersebut juga lantaran agar cadangan dalam negeri tidak ditambang secara berlebihan.

Selain itu, lewat pemangkasan RKAB pemerintah juga berupaya untuk memastikan cadangan mineral dan batu bara tetap tersedia untuk masa depan, sekaligus menggunakan RKAB untuk menertibkan perusahaan-perusahaan yang abai terhadap aturan lingkungan.

Ini adalah langkah besar terbaru untuk mengekang kelebihan pasokan nikel sejak ekspansi signifikan sektor tambang nikel ketika Pemerintah RI melarang ekspor bijih pada tahun 2020.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |