Sarinah: Dari Departement Store Jadi Pusat Pelestarian Budaya

16 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Sarinah menyimpan sejarah panjang sebagai salah satu pusat perbelanjaan modern pertama di Indonesia. Hingga sekarang, Sarinah masih menjadi tempat favorit bagi masyarakat untuk berbelanja, kulineran, ataupun sekadar jalan-jalan.

Saat ini, Sarinah telah berkembang pesat menjadi cultural experience center yang mengedepankan nilai budaya, kurasi produk, hingga pemberdayaan UMKM lokal. Transformasi tersebut membuat Sarinah terus relevan di tengah perubahan zaman dan kemunculan pusat-pusat perbelanjaan modern lain di Tanah Air.

Direktur Utama PT Sarinah, Raisha Syarfuan menuturkan, di balik transformasi Sarinah terdapat sejumlah pertimbangan. Bahkan, ada beberapa keputusan tidak biasa yang perlu diambil oleh Manajemen Sarinah.

"Tapi, makin sekarang dengan kondisinya dan visi Sarinah juga, yang saya rasa harus diubah menjadi cultural experience center, disitulah beberapa decision yang memang harus diambil," ujar Raisha dalam Top Women Fest 2026, dikutip Selasa (28/4/2026).

Raisha bilang, salah satu langkah yang ditempuh oleh Sarinah adalah melakukan scale up atau pengembangan bisnis dengan mengedepankan integritas. Upaya ini pun dilakukan melalui pemberdayaan para pelaku UMKM agar produknya bisa ditampilkan di Sarinah.

"Kita bicara mengenai pengrajin-pengrajin mama-mama di desa-desa di Indonesia Timur, ibu-ibu bapak-bapak pengrajin batik, untuk bisa kita display barangnya dengan integritas yang lebih tinggi. Jadi untuk Sarinah bisa menjadi cultural experience center, kami pun melakukan beberapa kurasi-kurasi yang jauh lebih cepat," terang dia.

Di samping itu, Raisha menjelaskan, pihaknya telah mengkurasi produk-produk yang ditawarkan di Sarinah secara rinci dan komprehensif. Dari situ, Sarinah mengambil langsung dari pengrajin, brand lokal yang memang memiliki integritas terhadap barangnya sendiri baik dari segi autentik mapun desain.

Namun, perlu diingat bahwa semua desain produk pasti berasal dari inspirasi produk lain, sehingga tidak ada yang benar-benar original secara harfiah. Keaslian itu akan datang pada saat para pelaku UMKM percaya diri dengan produk-produknya. Sebagai contoh, mama-mama di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) optimistis dengan hasil ikatnya.

Raisha menjelaskan, setiap keputusan bisnis yang ditujukan untuk memajukan Sarinah dipastikan selalu melalui proses diskusi yang mendalam. Biasanya, Manajemen Sarinah mengandalkan data yang kemudian dikombinasikan dengan penilaian kualitatif sebelum menentukan keputusan. Pendekatan seperti ini turut diterapkan Raisha ketika Sarinah tengah melakukan proses kurasi produk berlangsung.

"Jadi kalau mungkin saya bisa share, dulu setahun yang lalu saya masuk ke Sarina itu ada sekitar 1.200 class brand. Itu very strong fashion, wastra, makanan, dan lainnya. Lalu saya bertanya, dari 1.200 ini, mana yang paling terbaik? Dari kurasi tersebut, akhirnya kita pakai data. Of course, dengan data kita tahunya top brands yang paling membantu kita secara revenue," terang dia.

Di sisi lain, sebagai seorang perempuan, Raisha mengaku dirinya tidak hanya mengandalkan insting dan hati dalam mempimpin Sarinah. Lebih dari itu, sifat perempuan yang cenderung sensitif juga mempengaruhi setiap langkahnya dalam memimpin perusahaan. Namun, sifat itulah yang membuatnya mampu untuk mengawal transformasi Sarinah.

"Kalau saya bilang kalau perempuan mungkin sedikit lebih sensitif, kita akan cari tahu. Kalau ini dibikin sama siapa? Saya selalu nanya, saya tidak butuh brand-brand yang terkenal, saya butuh kita di sini bisa memberikan, bisa membantu perempuan-perempuan, laki-laki di daerah untuk bisa memberikan kehidupannya lebih layak di daerahnya," jelas dia.

Berkat dedikasinya dalam transformasi Sarinah, Direktur Utama PT Sarinah, Raisha Syarfuan berhasil mendapatkan penghargaan Top Woman in National Brand Revitalization dalam Top Women Fest 2026 yang diselenggarakan CNBC Indonesia.

Sebagai informasi, Raisha Syarfuan menjabat sebagai Direktur Utama PT Sarinah sejak 14 Mei 2025, dengan visi kuat untuk memajukan ritel Indonesia. Ia mendapat gelar Bachelor of Business Administration dari Parsons School of Design, New York, jurusan Desain, Manajemen Bisnis, dan Luxury Business, termasuk studi di Paris.

Sebelumnya, Raisha pernah menjabat sebagai Direktur dan Konsultan Senior di PT Indo Siber Telematika (2021-2025), serta Senior Manager Corporate Marketing di PT Swisstime Perkasa International (2014-2018), menangani kemitraan dengan brandpremium seperti Rolex dan Chanel. Di Bank Mandiri (2010-2014), ia juga sempat memimpin rebranding Kartu Platinum dan ekspansi layanan premium di pasar domestik dan kawasan ASEAN.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |