Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
27 June 2026 05:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Yordania dipastikan sudah tersingkir dari kompetisi Piala Dunia 2026. Kendati demikian, kiprah di Piala Dunia menjadi prestasi besar bagi negara seperti mereka yang selama ini bahkan harus bergelut memenuhi kebutuhan dasar manusia, yakni air.
Piala 2026 menjadi debut bersejarah bagi Yordania karena untuk pertama kalinya bisa dan tampil di putaran final Piala Dunia. Yordania akan menghadapi partai terakhir sekaligus laga hiburan melawan raksasa Argentina pada hari ini, Sabtu (27/6/2026) pukul 09.00 WIB.
Prestasi membanggakan ini menjadi pelipur lara di tengah banyaknya persoalan hidup di negara tersebut, terutama persoalan air.
Air selama ini dianggap sebagai kebutuhan dasar yang selalu tersedia. Keran dibuka, air mengalir.
Di Yordania, asumsi itu sudah lama hilang. Di salah satu negara paling kering di dunia tersebut, air menjadi komoditas yang harus ditunggu, disimpan, dan diperebutkan. Yordania adalah negara termiskin kedua dalam soal air.
Krisis air di Yordania sering dikaitkan dengan faktor geografis. Curah hujan rendah, suhu tinggi, dan perubahan iklim membuat negara ini memiliki sumber daya air yang sangat terbatas.
Melansir data yang dikutip UNICEF Jordan, ketersediaan air per kapita di Jordan hanya sekitar 61 meter kubik per tahun. Angka tersebut jauh di bawah ambang kemiskinan air yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebesar 500 meter kubik per orang per tahun.
Masalahnya tidak berhenti pada kelangkaan sumber air. Sebagian besar air yang sudah berhasil diproduksi bahkan tidak pernah sampai ke konsumen.
Kajian London School of Economics (LSE) mengungkapkan sekitar 40%-50% pasokan air Yordania hilang di dalam jaringan distribusi sebelum mencapai pelanggan yang membayar tagihan.
Kehilangan ini berasal dari kombinasi kebocoran pipa, pencurian air, sambungan ilegal, serta kerusakan infrastruktur yang telah berumur puluhan tahun.
Akibatnya, pasokan air rumah tangga di banyak wilayah berlangsung secara bergilir. Di Amman, ibu kota Yordania yang dihuni jutaan penduduk, sebagian besar rumah hanya menerima aliran air dalam waktu tertentu setiap pekan. Setelah jadwal distribusi berakhir, warga bergantung pada tangki penyimpanan di atap rumah. Saat cadangan habis, pilihan yang tersisa adalah membeli air dari truk tangki swasta dengan harga yang jauh lebih mahal.
Ketimpangan akses air terlihat jelas antara kelompok kaya dan miskin. Rumah tangga berpenghasilan tinggi mampu membangun tangki berkapasitas besar dan membeli tambahan pasokan kapan pun diperlukan. Sementara itu keluarga berpendapatan rendah harus mengatur penggunaan air selama berhari-hari. Di sejumlah daerah pedesaan, aliran air bahkan hanya berlangsung beberapa jam dalam seminggu.
Kelangkaan air juga berkaitan erat dengan sektor pangan. Data dalam laporan Economist Impact yang disusun untuk UNICEF Jordan memperlihatkan sektor pertanian mengonsumsi lebih dari 51% air tawar negara tersebut. Padahal kontribusi pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) hanya sekitar 5%.
Ketika tekanan air meningkat, produksi pertanian diperkirakan turun 0,8%-1,2% per tahun. Nilai tambah bruto sektor pertanian berpotensi berkurang sekitar US$20 juta hingga US$29 juta setiap tahun.
Dampaknya merambat ke ketahanan pangan. Yordania selama ini sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan. Data dalam laporan tersebut mencatat kecukupan pasokan energi pangan atau Average Dietary Energy Supply (ADES) turun dari sekitar 125% pada pertengahan 2000-an menjadi hanya 117%. Posisi Yordania tertinggal dibanding sejumlah negara kawasan seperti Turki, Israel, Aljazair, dan Tunisia.
Tekanan terbesar sebenarnya muncul pada sektor jasa. Sektor ini menyumbang lebih dari 60% PDB Jordan dan menyerap sekitar 70% tenaga kerja. Pariwisata menjadi salah satu industri yang paling sensitif terhadap ketersediaan air. Hotel, restoran, hingga fasilitas rekreasi membutuhkan pasokan air yang stabil untuk beroperasi.
Analisis Economist Impact memperkirakan peningkatan tekanan air dapat memangkas output sektor jasa sebesar 2,8%-4,1%. Potensi kehilangan nilai tambah bruto sektor ini mencapai US$800 juta hingga US$1,2 miliar.
Dampak ekonomi berjalan beriringan dengan persoalan kesehatan. Organisasi internasional mencatat akses terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai berpengaruh langsung terhadap angka kematian bayi, penyakit menular, dan produktivitas masyarakat.
Analisis dalam laporan UNICEF memperkirakan peningkatan konsumsi air sebesar 3% dapat menurunkan angka kematian bayi dari 13,4 kematian per 1.000 kelahiran menjadi sekitar 10 kematian per 1.000 kelahiran.
Kelangkaan air turut memengaruhi pendidikan. Sejumlah sekolah di Yordania masih memiliki fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan yang terbatas. Kondisi ini meningkatkan risiko absensi akibat penyakit serta mengganggu aktivitas belajar.
Data UNESCO yang dikutip dalam laporan memperlihatkan tingkat partisipasi sekolah dasar perempuan turun dari lebih dari 95% pada awal 2000-an menjadi sekitar 80% pada 2018. Tekanan air yang terus meningkat diperkirakan memperburuk tren tersebut hingga akhir dekade ini.
Di tingkat regional, persoalan air berkembang menjadi isu geopolitik. Sekitar 40% sumber air Yordania berasal dari cekungan lintas batas negara. Sungai Yordania dan Sungai Yarmouk menjadi sumber kehidupan bagi beberapa negara sekaligus. Posisi Yordania sebagai negara hilir membuat pasokan air sangat bergantung pada hubungan dengan negara tetangga. Melansir kajian LSE, Yordania bahkan membeli tambahan pasokan air dari Israel setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Arus pengungsi memperberat tekanan yang sudah ada. Yordania menjadi salah satu negara penerima pengungsi terbesar di Timur Tengah. Pertumbuhan penduduk yang cepat meningkatkan kebutuhan air untuk rumah tangga, pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi. Infrastruktur yang sejak awal menghadapi keterbatasan kapasitas harus menanggung beban yang semakin besar.
Karena itu pemerintah Yordania mulai mengandalkan proyek-proyek besar untuk memperluas pasokan. Salah satu yang paling ambisius adalah pengembangan fasilitas desalinasi di Aqaba yang akan mengubah air Laut Merah menjadi air minum. Proyek ini diharapkan menjadi sumber air baru bagi kota-kota utama yang selama puluhan tahun bergantung pada akuifer yang terus menyusut.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518107/original/009843500_1772463822-Persebaya_vs_Persib_Bandung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522153/original/020711000_1772719961-Belum_waktunya_menyerah__penggawa______________DUBFC__BantenWarriors__BuiltForGlory__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496722/original/026716900_1770597145-5.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5174269/original/058441100_1742913019-20250325BL_Timnas_Indonesia_Vs_Bahrain_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026-15.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5249375/original/065795600_1749635323-viet_3.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5519387/original/022712600_1772553400-20260303IQ_Persija_Jakarta_vs_Borneo_Fc-7.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5458846/original/094448900_1767093805-sakti.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5515885/original/062448700_1772202581-mariano__thom__allano.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5320148/original/037889300_1755588308-IDN_3825.jpg)