Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah studi terbaru menemukan, anak yang tumbuh dengan pola asuh keras, terutama yang melibatkan bentakan, agresi psikologis, hingga kekerasan fisik berat, lebih berisiko mengembangkan sifat kepribadian negatif saat dewasa.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences tersebut menyoroti kaitan antara pengalaman masa kecil dengan munculnya karakteristik yang dikenal sebagai Dark Tetrad, yakni narsisme, Machiavellianisme, psikopati, dan sadisme.
Narsisme ditandai dengan rasa percaya diri berlebihan dan kebutuhan untuk dikagumi. Machiavellianisme merujuk pada kecenderungan memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi. Sementara psikopati berkaitan dengan kurangnya empati dan perilaku antisosial, sedangkan sadisme merujuk pada kecenderungan memperoleh kepuasan dari penderitaan orang lain.
Peneliti utama David Pineda dari Miguel Hernández University of Elche, Spanyol menjelaskan, selama ini banyak penelitian telah menghubungkan pengalaman buruk masa kecil dengan perilaku antisosial saat dewasa. Namun, studi ini mencoba melihat lebih jauh bagaimana pola asuh membentuk perkembangan kepribadian seseorang.
Penelitian melibatkan 370 orang dewasa berusia 18 hingga 80 tahun di Spanyol. Para peserta diminta mengisi kuesioner mengenai pengalaman mereka saat kecil, termasuk cara orang tua memberikan disiplin, serta tes psikologi untuk mengukur tingkat narsisme, psikopati, Machiavellianisme, dan sadisme.
Hasil penelitian menunjukkan seluruh bentuk pola asuh keras memiliki hubungan dengan meningkatnya skor sifat Dark Tetrad. Namun, dampak terbesar ditemukan pada agresi psikologis dan kekerasan fisik berat.
Agresi psikologis seperti membentak, berteriak, atau memaki anak terbukti menjadi prediktor kuat munculnya sifat psikopati dan sadisme saat dewasa. Sementara kekerasan fisik berat, seperti mencekik atau menyerang secara fisik, berkaitan dengan meningkatnya sifat narsisme, Machiavellianisme, dan psikopati.
"Pengalaman masa kecil, khususnya paparan terhadap disiplin keras dari orang tua, dapat berperan dalam membentuk sifat kepribadian gelap," kata Pineda dikutip dari PsyPost, Jumat (19/6/2026).
Metode disiplin non-kekerasan, seperti menjelaskan kesalahan anak atau memberikan arahan secara tenang, tidak ditemukan sebagai faktor yang memprediksi munculnya sifat Dark Tetrad ketika dibandingkan dengan bentuk agresi yang lebih berat.
Meski demikian, peneliti mengingatkan studi ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Penelitian dilakukan berdasarkan laporan pengalaman masa lalu para peserta sehingga masih memungkinkan adanya bias ingatan. Selain itu, faktor genetik, budaya, lingkungan sosial, dan dukungan sosial juga dapat memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang.
(hsy/hsy)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506324/original/047698600_1771428617-1000366559.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522153/original/020711000_1772719961-Belum_waktunya_menyerah__penggawa______________DUBFC__BantenWarriors__BuiltForGlory__1_.jpg)



