Jakarta, CNBC Indonesia - Obat diabetes yang sudah digunakan selama lebih dari enam dekade, metformin, ternyata bekerja dengan cara yang lebih kompleks dari yang selama ini dipahami. Penelitian terbaru mengungkap obat ini tidak hanya bekerja di hati dan usus, tetapi juga langsung mempengaruhi otak.
Temuan ini berasal dari studi peneliti di Baylor College of Medicine pada 2025, yang menemukan jalur baru di otak yang berperan dalam efek metformin terhadap pengendalian gula darah. Hasil penelitian ini membuka peluang pengembangan terapi diabetes yang lebih spesifik dan efektif.
Selama ini, metformin dikenal menurunkan kadar gula darah dengan cara mengurangi produksi glukosa di hati serta meningkatkan sensitivitas insulin. Namun, peneliti yang dipimpin oleh ahli patofisiologi, Makoto Fukuda menemukan, otak juga memainkan peran penting dalam mekanisme tersebut.
"Selama ini kita mengetahui bahwa metformin menurunkan glukosa darah terutama dengan mengurangi produksi glukosa di hati. Studi lain menemukan bahwa obat ini bekerja melalui usus," kata Makoto Fukuda dikutip dari Science Alert, Kamis (26/3/2026).
"Kami meneliti otak karena secara umum diakui sebagai pengatur utama metabolisme glukosa seluruh tubuh. Kami menyelidiki apakah dan bagaimana otak berkontribusi pada efek antidiabetes metformin," ujarnya melanjutkan.
Dalam studi tersebut, para ilmuwan meneliti bagian otak bernama hipotalamus ventromedial (VMH), yang diketahui mengatur metabolisme glukosa tubuh. Hasil uji coba pada tikus menunjukkan, metformin dapat mencapai area ini dan bekerja dengan mematikan protein bernama Rap1, yang berpengaruh pada metabolisme gula.
Ketika tikus direkayasa tidak memiliki protein Rap1, metformin tidak lagi memberikan efek terhadap kondisi mirip diabetes. Hal ini memperkuat bukti kerja obat tersebut memang melibatkan mekanisme di otak, berbeda dengan obat diabetes lainnya.
Peneliti juga menemukan, metformin mengaktifkan jenis neuron tertentu yang disebut SF1 di area tersebut. Ke depan, temuan ini bisa membuka jalan bagi terapi yang lebih terarah, dengan menargetkan sel-sel saraf spesifik.
"Kami menemukan euron SF1 diaktifkan ketika metformin dimasukkan ke dalam otak, menunjukkan bahwa neuron tersebut terlibat langsung dalam kerja obat," ungkap Fukuda.
Meski demikian, para ilmuwan menekankan temuan ini masih perlu diuji lebih lanjut pada manusia. Jika terbukti, pemahaman baru ini berpotensi meningkatkan efektivitas metformin dan bahkan memperluas penggunaannya di luar pengobatan Type 2 diabetes.
Selain itu, metformin juga dikenal memiliki manfaat lain, seperti memperlambat penuaan otak dan meningkatkan harapan hidup. Beberapa studi sebelumnya bahkan menunjukkan obat ini dapat mengurangi kerusakan DNA serta mendukung aktivitas gen yang berkaitan dengan umur panjang.
Dalam studi lain pada lebih dari 400 perempuan pascamenopause, penggunaan metformin dikaitkan dengan penurunan risiko kematian sebelum usia 90 tahun hingga 30% dibandingkan obat diabetes lain.
Meski relatif aman, metformin tetap memiliki efek samping, terutama gangguan pencernaan seperti mual, diare, dan ketidaknyamanan perut yang dilaporkan hingga 75% pengguna. Risiko lain juga bisa muncul pada pasien dengan gangguan ginjal.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science Advances dan dinilai dapat mengubah cara pandang dunia medis terhadap metformin.
"Penemuan ini mengubah cara kita memahami metformin. Kami menemukan bahwa meskipun hati dan usus membutuhkan konsentrasi obat yang tinggi untuk merespons, otak bereaksi terhadap kadar yang jauh lebih rendah," ujar Fukuda.
(hsy/hsy)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277129/original/053973300_1751984892-persib.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5416895/original/041798400_1763475083-20251118BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mali-1.JPG)


