Terungkap! Petani di Provinsi Ini Paling Sejahtera di Indonesia

4 hours ago 3

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

01 May 2026 15:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai Tukar Petani (NTP) menunjukkan pola yang beragam di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu indikator kunci untuk melihat kesejahteraan petani ini melonjak di sebuah wilayah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan di awal era pemerintahan Prabowo Subianto, NTP yang tidak seragam antar wilayah. Ada provinsi yang melonjak tinggi, tapi ada juga yang justru tertekan cukup dalam.

2025: Jawa Melonjak, Sulawesi Tertekan

Pada periode Desember 2025 terhadap Desember 2024, wilayah Jawa mencatat kinerja paling impresif dengan kenaikan NTP tahun ke tahun sebesar 4,27 persen. Kondisi ini didukung dengan kenaikan NTP pada semua provinsi di wilayah tersebut.

Provinsi dengan kenaikan tertinggi adalah Jawa Timur, sementara kenaikan NTP terendah dialami oleh DKI Jakarta yaitu sebesar 2,20% yang sepenuhnya ditopang oleh peningkatan pada subsektor perikanan.

Sementara itu, Wilayah Sulawesi menjadi satu-satunya kawasan yang mengalami kontraksi dengan NTP turun sebesar 5,62% secara tahunan.

Di wilayah Sumatera, Kep. Bangka Belitung menjadi provinsi dengan peningkatan NTP paling tinggi, sementara Riau menjadi provinsi dengan NTP paling buruk.

Di wilayah Bali dan Nusa Tenggara, Nilai Tukar Petani (NTP) secara tahunan meningkat sebesar 4,21%. Kenaikan terjadi di seluruh provinsi.

  1. Bali naik 2,15%

  2. Nusa Tenggara Timur (NTT) naik 0,49%

  3. Nusa Tenggara Barat (NTB) naik 8,79%,

 Lonjakan di NTB didorong oleh peningkatan tajam pada subsektor hortikultura yang didukung oleh subsektor lainnya:

  1. hortikultura (41,77%),

  2. tanaman pangan (3,76%),

  3. peternakan (3,33%),

  4. perikanan (1,17%). 

Wilayah Maluku dan Papua secara umum mencatat kenaikan NTP tipis sebesar 0,17% secara tahunan dengan topangan Papua Selatan yang naik sebesar 4,71%.

 Peningkatan tersebut didorong oleh lonjakan subsektor hortikultura sebesar 16,25%, serta didukung peningkatan pada perkebunan rakyat (+0,17%) dan peternakan (+3,36%). Provinsi lainnya turut mendukung peningkatan NTP di Wilayah ini.

Di wilayah ini, hanya Provinsi Maluku dan Papua Pegunungan yang mengalami penurunan NTP masing-masing sebesar 5,96% dan 2,74%.

 2024: Sumatera Memimpin, Jawa Paling Terpuruk

Pada periode Desember 2024 terhadap 2023 NTP Wilayah Sumatera melesat tinggi sebesar 16,91% ditopang oleh kenaikan NTP semua provinsinya. Provinsi dengan kenaikan NTP tertinggi di wilayah ini adalah Bengkulu (+27,93%) dan terendahnya adalah Kep. Riau (+0,44%).

Perkebunan Rakyat menjadi subsektor penopang utama di Bengkulu dengan kenaikan sebesar +35,32%. Pendukung lainnya datang dari subsektor Peternakan (+1,46% ) dan Perikanan (+2,43% ).

 Sementara itu wilayah Jawa menjadi wilayah paling terpuruk dengan penurunan NTP hingga -2,29%, hal ini disebabkan oleh penurunan NTP pada semua provinsi.

Penurunan NTP terdalam di wilayah Jawa terjadi di Jawa Tengah sebesar 3,53%, yang terutama disebabkan oleh kontraksi pada subsektor tanaman pangan (-6,25%), diikuti hortikultura (-2,76%) dan perikanan (-2,80%).

Di sisi lain, penurunan NTP terkecil dialami oleh DKI Jakarta yaitu sebesar -1,17% yang sepenuhnya disumbangkan oleh subsektor perikanan.

Selain Jawa, wilayah Maluku dan Papua juga mengalami penuruan NTP sebesar -0,49. Penurunan ini terjadi karena NTP mayoritas provinsi terdepresiasi dengan Maluku sebagai provinsi yang mengalami depresiasi terdalam (-5,28%).

Penurunan tajam yang dialami Maluku disebabkan oleh penurunan subsektor berikut:

  1. Tanaman Pangan -3,10%

  2. Hortikultura -6,12%

  3. Perkebunan Rakyat -7,42%

  4. Peternakan -1,68%

  5. Perikanan -1,44%

Meski begitu, masih ada dua provinsi yang mengalami kenaikan. Papua Barat Daya naik 1,63%. Sementara itu Papua Selatan mencatat kenaikan hingga 4,10% yang didorong oleh kenaikan NTP di subsektor Hortikultura (+9,04%), Peternakan (+4,31%), dan Perikanan (+8,64%).

 Di wilayah Bali dan Nusa Tenggara, NTP tahunannya meningkat tipis sebesar 0,37% yang didorong oleh kenaikan NTP di Nusa Tenggara Timur (+2,54%) dan Nusa Tenggara Barat (+0,40%).

 Kenaikan di NTT didukung signifikan oleh subsektor Perkebunan Rakyat yang meningkat hingga 13,72%. Selain itu, Tanaman Pangan (+0,14% ) dan Perikanan (+0,01% ) turut mendukung peningkatan ini meski tipis.

Di wilayah ini, Bali justru mengalami penurunan sebesar 1,59%. Penurunan ini disebabkan oleh depresiasi NTP di beberapa subsektor:

  1. Tanaman Pangan -7,22%

  2. Perkebunan Rakyat -1,46%

  3. Perikanan -1,20%

Sementara itu kenaikan NTP hingga 9,87% dialami oleh wilayah Kalimantan, di mana semua provinsinya mengalami kenaikan. Kalimantan Barat menjadi pemimpin di wilayah ini dengan kenaikan 20,32%, kenaikan ini ditopang oleh Perkebunan Rakyat (+28,76%).

Meski masih mengalami kenaikan, Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan kenaikan terendah di wilayah ini. Kenaikannya hanya sebesar 2,01% dengan Perkebunan Rakyat sebagai penopang utama (+25,89%) yang di dukung oleh subsektor

Peternakan (+1,67%) juga Perikanan (+0,64%).

Kenaikan di wilayah Sulawesi tidak lebih besar dari Kalimantan, hanya naik 7,61% saja. Terdapat lima provinsi yang mendorong kenaikan ini, sementara satu provinsi masih mengalami penurunan NTP.

Sulawesi Barat menjadi provinis dengan peningkatan NTP tertinggi hingka 22,13%. Peningkatan ini didukung subsektor berikut:

  1. Perkebunan Rakyat +36,82% (pendukung utama)

  2. Peternakan +1,92%

  3. Perikanan +0,51% 

Di sisi lain, Gorontalo menjadi satu-satunya provinsi yang mengalami penurunan NTP di wilayah ini. Penurunannya mencapai 2,76% dengan penurunan NTP pada subsektor Tanaman Pangan (-9,34%) dan Hortikultura (-3,99% ) sebagai faktor utamanya.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |