Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
29 March 2026 19:45
Jakarta, CNBC Indonesia — Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF), total utang publik pemerintah di seluruh dunia tercatat mencapai US$ 111 triliun pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan dari posisi pada tahun 2000 yang berada di tingkat US$ 19,7 triliun.
Kenaikan nilai utang secara global ini utamanya dipengaruhi oleh kebijakan fiskal dan respons pemerintah di berbagai negara terhadap krisis keuangan tahun 2008 serta penanganan pandemi pada tahun 2020.
Porsi Utang Amerika Serikat dan China
Amerika Serikat dan China mencatatkan jumlah utang publik terbesar dibandingkan negara lainnya. Amerika Serikat saat ini memiliki utang sebesar US$ 38,3 triliun, sedangkan China berada di angka US$ 18,7 triliun.
Gabungan utang kedua negara ini mencakup sekitar 51% dari total utang pemerintah global. Pertumbuhan utang di Amerika Serikat mengalami peningkatan sejak tahun 2020 akibat alokasi dana pandemi, dan berlanjut karena defisit anggaran serta penambahan biaya bunga pinjaman.
Di China, utang pemerintah tumbuh rata-rata sekitar 18% per tahun sejak 2000. Mayoritas dana tersebut digunakan oleh pemerintah daerah setempat untuk membiayai proyek infrastruktur dan pengembangan sektor properti.
Berikut adalah rincian utang pemerintah dari tahun 2000 hingga 2025 dalam satuan triliun Dolar Amerika Serikat (US$) berdasarkan data IMF.
Fase Perubahan Utang Global Sejak 2000
Perjalanan utang publik global sejak tahun 2000 dapat dibagi ke dalam beberapa fase. Pada rentang waktu 2000 hingga 2007, pertumbuhan utang berjalan seiring dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global, naik dari US$ 19,7 triliun menjadi US$ 35,8 triliun.
Perubahan terjadi pada periode krisis keuangan 2008-2009, ketika pemerintah mengalokasikan dana untuk program stimulus dan talangan perbankan. Hal ini menaikkan total utang global dari US$ 35,8 triliun menjadi US$ 45,5 triliun dalam dua tahun.
Pada 2010 hingga 2012, terjadi krisis utang di Eropa, di mana negara seperti Yunani, Italia, dan Spanyol menghadapi kenaikan biaya pinjaman yang kemudian diikuti oleh penyesuaian anggaran di kawasan euro.
Memasuki 2013 hingga 2019, tingkat suku bunga yang relatif rendah di tingkat global memungkinkan pemerintah menambah alokasi utang tanpa tekanan fiskal yang berarti, membawa total utang dari US$ 60,7 triliun menjadi US$ 73,9 triliun.
Selanjutnya, pada tahun 2020, kebutuhan pendanaan selama pandemi Covid-19 menyebabkan utang global bertambah dari US$ 73,9 triliun menjadi US$ 84,9 triliun dalam kurun waktu satu tahun.
Saat ini, pada rentang 2022 hingga 2025, tingkat suku bunga yang lebih tinggi mengakibatkan bertambahnya biaya untuk melunasi utang tersebut, khususnya bagi Amerika Serikat dan kelompok negara berkembang.
Kondisi Utang Jepang dan Uni Eropa
Pergerakan utang di Jepang dan Uni Eropa memiliki pola tersendiri dibandingkan dengan total utang global. Utang Jepang mencapai angka tertinggi pada US$ 14,2 triliun pada tahun 2012 dan secara nominal turun ke tingkat US$ 9,8 triliun pada 2025.
Penurunan nilai dalam perhitungan dolar AS ini sebagian dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar yen terhadap dolar. Namun, dalam perhitungan mata uang domestik, rasio utang terhadap PDB Jepang tetap berada di atas angka 230%.
Di kawasan Eropa, nilai utang Uni Eropa sempat mengalami penurunan dari US$ 15,5 triliun pada tahun 2021 menjadi US$ 14,3 triliun pada tahun 2022 sebagai hasil dari konsolidasi anggaran pasca-krisis.
Angka tersebut kemudian kembali mencatatkan kenaikan menjadi US$ 17,6 triliun pada 2025. Kenaikan terbaru ini sejalan dengan keputusan negara-negara anggota Uni Eropa yang menambah alokasi anggaran belanja mereka untuk sektor pertahanan dan energi.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277129/original/053973300_1751984892-persib.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5416895/original/041798400_1763475083-20251118BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mali-1.JPG)


