Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan ini, termasuk rupiah.
Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan terakhir pekan ini dengan penguatan terhadap dolar AS. Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026), rupiah terapresiasi 0,11% ke posisi Rp17.630/US$. Posisi tersebut membuat rupiah kini berada di posisi terkuatnya dalam 15 pekan terakhir. Dalam sepekan, rupiah menguat 0,31%. Dengan demikian, rupiah tidak pernah melemah lagi dalam lima pekan terakhir.
Yen Mendadak Terbang, Filipina Ambruk
Tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia menguat pekan ini. Mayoritas mata uang menguat setelah adanya tekanan terhadap dolar juga membesar setelah Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller membuka peluang suku bunga dipertahankan dalam pertemuan bulan ini. Waller mengatakan dirinya cenderung mendukung keputusan mempertahankan suku bunga apabila data ekonomi berikutnya menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda. Yen menjadi mata uang dengan penguatan terkencang pekan ini.
Enam pekan setelah mencapai level terendah dalam empat dekade terhadap dolar AS, nasib yen yang terpuruk tampaknya mulai berbalik. Sejumlah faktor akhirnya membuat para trader yang selama bertahun-tahun bertaruh terhadap pelemahan mata uang Jepang mulai mengubah strategi mereka.
Kenaikan suku bunga bank sentral dan intervensi mata uang dalam skala rekor sebelumnya gagal memberikan dukungan yang bertahan lama bagi yen.
Namun kini, sejumlah angin segar mulai muncul, mulai dari repatriasi modal, pembalikan carry trade, hingga tekanan politik dari Amerika Serikat, yang mendorong para spekulan yang bertaruh terhadap pelemahan yen untuk mempertimbangkan kembali strategi jangka panjang mereka.
"Psikologi pasar terhadap yen tampaknya mulai berubah," ujar Rong Ren Goh, manajer portofolio pendapatan tetap di Eastspring Investments, kepada The Japan Times.
Menurutnya, investor semakin enggan melakukan aksi jual yen secara agresif, terutama karena adanya prospek kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) pada September yang menambah risiko dalam perdagangan tersebut.
BOJ diperkirakan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) bulan ini. Pasar bahkan mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan 50 bps atau serangkaian kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Meski demikian, kenaikan 50 bps pada September masih dianggap sangat kecil kemungkinannya, terutama di bawah kepemimpinan Gubernur BOJ Kazuo Ueda yang cenderung berhati-hati.
Perubahan sentimen tersebut juga didukung oleh arus dana. Data Citigroup menunjukkan posisi investor terhadap yen telah berubah dari bearish menjadi bullish sejak awal Agustus. Data arus antarbank menunjukkan dana leverage, bank, dan investor real money semuanya melakukan pembelian bersih yen pada pekan ini.
Perpaduan antara kebijakan bank sentral, arus investasi, dan perubahan posisi spekulatif tersebut meningkatkan volatilitas yen. Mata uang Jepang itu juga menguat hampir 2% terhadap euro dan dolar Australia sepanjang pekan ini.
Stephen Jen, CEO sekaligus co-CIO Eurizon SLJ Asset Management, mengatakan risiko pembalikan carry trade berbasis yen secara cepat semakin meningkat. Kondisi tersebut dinilai mirip dengan 1998 ketika runtuhnya Long-Term Capital Management (LTCM) memaksa bank dan hedge fund melakukan deleveraging secara cepat.
Yen selama ini menjadi mata uang favorit untuk carry trade, yakni ketika investor meminjam dana dalam yen dengan biaya rendah untuk kemudian berinvestasi di aset lain.
"Ketika sebuah mata uang sangat undervalued dan posisi investor sudah sangat ekstrem, pergerakan seperti ini akan semakin sering terjadi sebelum muncul pergerakan besar," kata Jen.
Sebaliknya, mata uang Filipina terus ambruk.
Peso Filipina berada di sekitar level terendah sepanjang sejarah di tengah perpaduan berbagai tantangan ekonomi domestik dan gejolak geopolitik global.
Pada Jumat, mata uang tersebut mencapai level terendah sepanjang masa, yakni PHP 62,71 per dolar AS.
Peso terus mengalami tren pelemahan sejak awal tahun, dengan nilainya telah turun sekitar 6% terhadap dolar AS sejak 1 Januari.
Mata uang tersebut telah mencetak sejumlah rekor terendah dalam beberapa bulan terakhir, di tengah kenaikan harga minyak dan berbagai tekanan negatif lainnya akibat perang AS-Israel dengan Iran.
Peso sebelumnya menyentuh rekor terendah PHP 61,847 per dolar AS pada 24 Juli, sebelum kembali melemah menjadi PHP 62,265 pada Jumat pekan lalu.
Pelemahan berlanjut pekan ini. Peso ditutup di level PHP 62,565/US$ pada Rabu dan kembali merosot hingga 62,71 pada Jumat.
Mengapa Peso Jatuh Begitu Dalam?
Peso menghadapi sejumlah tren negatif dalam perekonomian Filipina, ditambah dengan penguatan dolar AS.
Sebelum perang, Filipina mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyaknya dari kawasan Teluk. Pada Maret, Manila bahkan terpaksa menetapkan status darurat nasional ketika penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengganggu pasokan minyak.
Ketika harga minyak naik, importir Filipina harus menukarkan lebih banyak peso ke dolar AS untuk membeli minyak mentah yang dihargai dalam dolar. Kondisi ini semakin menekan nilai mata uang domestik.
Di sisi lain, kenaikan imbal hasil US Treasury atau surat utang pemerintah AS mendorong investor internasional menukar mata uang negara berkembang dengan aset berdenominasi dolar yang dianggap lebih aman. Hal ini semakin menekan peso.
Tekanan tersebut diperburuk oleh kondisi keuangan pemerintah Filipina yang ketat dan defisit perdagangan yang besar.
"Pelemahan peso Filipina terutama berasal dari besarnya defisit fiskal dan transaksi berjalan yang dialami perekonomian, ditambah inflasi yang tinggi yang sedang ditangani bank sentral Filipina (BSP)," kata Philip McNicholas, Asia sovereign strategist di Robeco Singapore, kepada Reuters.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat peso rentan terhadap perubahan sentimen risiko global. Sentimen tersebut memburuk dalam beberapa pekan terakhir karena konflik di Timur Tengah membuat harga minyak tetap tinggi.
Salah satu titik terang bagi Filipina adalah besarnya remitansi dari lebih dari dua juta warga Filipina yang bekerja di luar negeri.
Warga Filipina mengirimkan uang ke tanah air sebesar rekor US$35,63 miliar pada tahun lalu, sebagian besar dalam bentuk dolar, berdasarkan data bank sentral negara tersebut.
"Remitansi, yang menyumbang sekitar 8%-9% PDB, memberikan penyangga yang kuat bagi peso dan membantu meredam guncangan eksternal. Namun, remitansi bukanlah perlindungan yang sepenuhnya mampu menahan dampak tersebut," kata Loo.
(mae/mae)


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5588928/original/089544700_1778143903-1000412385.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5669124/original/011292600_1778417837-Nonton_bersama_Persija_vs_Persib_di_Se_Indonesia_sambil_menikmati_se_i_sapi.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405356/original/074050200_1762458033-1000096973.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418556/original/081909100_1763622046-bojan.jpg)


