Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
02 January 2026 17:10
Jakarta, CNBC Indonesia- Sepanjang 2025, perdagangan global hidup di bawah bayang-bayang tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Washington menetapkan tarif dasar 10% untuk hampir seluruh negara dan mendorong tarif efektif AS ke kisaran 16-17%, tertinggi sejak 1930-an.
Tujuannya tentu memaksa mitra dagang menyesuaikan diri pada kepentingan industri dan geopolitik Amerika.
Namun satu hal yang tidak bisa dibantah, saat Trump mengguncang sistem, AS tetap harus mengimpor barang-barang tertentu agar ekonominya berjalan.
Indonesia termasuk di dalam jalur pasok itu. Kendati demikian, nilai ekspor RI ke AS tetap tumbuh 17% pada Januari-Oktober 2025 menjadi US$25,56 miliar.
Di balik garangnya tarif Trump, ternyata Indonesia mampu menumbuhkan ekspor komoditas baru. Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) menunjukkan ada beberapa komoditas RI yang ekspornya naik pada 2025 yang mencerminkan minat baru warga AS terhadap komoditas tertenty.
Satu Data Kemendag berbasis HS-2 memperlihatkan adanya kelompok komoditas yang mencatat pertumbuhan tercepat ke pasar AS. Seng (HS 79) menjadi yang paling mencolok, dengan nilai ekspor memang kecil US$0,45 juta namun tumbuh hingga 250,9% secara tahunan.
Seng adalah bahan penting dalam baja galvanis, baterai, dan konstruksi; ketika industri Amerika tetap berproduksi, permintaan seng akan selalu muncul, meski volumenya fluktuatif.
Di belakangnya, bahan kimia anorganik dan senyawa logam tanah langka (HS 28) menempati posisi paling strategis. Nilai ekspornya mencapai US$135,13 juta dengan pertumbuhan 23,4%.
Ini adalah kelompok input untuk industri semikonduktor, energi, dan pertahanan sektor yang secara politik justru ingin diperkuat oleh Amerika sendiri. Tarif mungkin menaikkan biaya, tetapi tidak menghapus kebutuhan.
Pulp dan kertas (HS 47) juga tumbuh 16,3%, meski nilainya kecil (US$0,12 juta). Produk ini tetap mengalir karena ekonomi AS semakin bertumpu pada e-commerce, logistik, dan kemasan. Farmasi (HS 30) pun naik 7% menjadi US$1,19 juta, sinyal bahwa bahkan di bawah proteksionisme, pasokan kesehatan lintas negara tetap berjalan.
Kelompok kecil lain-mulai dari produk anyaman nabati, buku dan barang cetakan, hingga tembaga-juga mencatat pertumbuhan positif.
Terdapat juga barang unik yang tengah diminati seperti tongkat, cambuk, pecut dan payung.
Namun cerita Indonesia di pasar AS tidak berhenti di pertumbuhan.
Dari sisi nilai absolut, struktur ekspor RI tetap sangat besar dan terkonsentrasi di sektor-sektor inti ekonomi Amerika. Mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) menjadi tulang punggung, dengan nilai ekspor US$4,92 miliar dan pertumbuhan 16,2%. Ini mencakup komponen elektronik, perangkat, hingga bagian dari rantai industri teknologi AS.
Di belakangnya ada pakaian rajut (HS 61) dan alas kaki (HS 64) yang masing-masing menembus US$2,3 miliar, meski secara YoY mengalami kontraksi. Ini menunjukkan satu hal penting: konsumen Amerika tetap bergantung pada pabrik dan rantai pasok Indonesia, bahkan ketika harga naik akibat tarif.
Minyak dan lemak nabati (HS 15) juga menyumbang US$1,78 miliar, diikuti mesin mekanik (HS 84) yang justru tumbuh kuat 20% menjadi US$1,22 miliar. Perabot rumah tangga, ikan dan seafood, serta aneka produk kimia yang bahkan melonjak 68% menjadi US$830,9 juta melengkapi gambaran bahwa Indonesia tetap berada di jantung rantai pasok manufaktur dan konsumsi Amerika.
Inilah mekanisme yang sering luput dari narasi perang dagang. Tarif bekerja di atas kertas kebijakan, tetapi produksi bekerja di atas realitas fisik. Jika pasokan terganggu, pabrik berhenti. Data Kemendag menunjukkan AS memilih membayar lebih mahal daripada memutus pasokan dari Indonesia.
Karena itu posisi tawar Indonesia sebenarnya lebih kuat daripada yang terlihat. Saat Washington menurunkan tarif RI dari ancaman 32% ke 19% pada Juli 2025, itu terjadi karena jalur pasok tidak bisa diganggu terlalu lama. Negosiasi yang berlanjut ke 2026 bergerak di atas realitas ini.
Perang tarif Trump mungkin mengubah peta politik dagang, tetapi daftar komoditas RI yang menyeberangi lautan selama periode 2025 memperlihatkan batasnya.
Selama ekonomi Amerika bertumpu pada industri, energi, kesehatan, dan konsumsi massal, Indonesia tetap berada di dalam mesinnya.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339916/original/010495200_1757135510-20250904AA_Timnas_Indonessia_Vs_China_Taipei-108.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)






