10 Produk Paling Banyak Diimpor RI dari Venezuela: Ada Bonggol Sayur

2 days ago 6

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

05 January 2026 13:40

Jakarta, CNBC Indonesia- Sepanjang Januari-Desember 2025, impor Indonesia dari Venezuela hanya US$14 juta, turun 31,12% secara tahunan (YoY). Pada saat yang sama, ekspor Indonesia ke Venezuela mencapai US$69 juta, sehingga neraca perdagangan Indonesia surplus US$55 juta dan melonjak 91,70% (yoy).

Angka ini langsung menunjukkan bahwa Venezuela bukan pemasok strategis bagi kebutuhan hulu industri Indonesia, melainkan hanya pemasok ceruk untuk beberapa komoditas spesifik.

Struktur impornya sangat terkonsentrasi. Dua komoditas menyerap hampir seluruh nilai impor Indonesia dari Venezuela. Kakao dan olahan kakao (HS 18) bernilai US$6,89 juta, sementara sayuran dan umbi-umbian hingga bonggol sayur (HS 07) sebesar US$6,80 juta.

Secara gabungan, keduanya membentuk hampir 97% dari total impor RI dari Venezuela. Di luar itu, volumenya langsung jatuh ke skala yang jauh lebih kecil, aluminium (HS 76) hanya US$0,25 juta, biji dan buah berminyak (HS 12) sekitar US$0,04 juta, sementara komoditas manufaktur seperti mesin dan tekstil berada di bawah US$0,02 juta.

Arah perubahannya juga tegas. Impor kakao dari Venezuela turun 47,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Aluminium juga menyusut hampir 48%. Artinya, pasokan bahan baku dari Venezuela ke Indonesia sedang melemah, bukan menguat. Satu-satunya kelompok besar yang masih bertahan adalah sayuran dan umbi yang tumbuh tipis 1,64%, yang menunjukkan pola perdagangan berbasis kebutuhan pangan, bukan kebutuhan industri.

Di lapisan bawah, memang ada lonjakan ekstrem dalam persentase pertumbuhan, terutama pada mesin dan peralatan listrik (HS 85) yang tercatat tumbuh 10.958% dan pakaian non-rajut (HS 62) yang naik 540%. Namun secara nilai, itu hanya US$0,014 juta dan US$0,00029 juta. Lonjakan ini mencerminkan efek basis yang sangat kecil, bukan pergeseran struktur impor. Venezuela tetap tidak berfungsi sebagai pemasok manufaktur ke Indonesia.

Mekanismenya berangkat dari realitas ekonomi Venezuela. Negara itu memang produsen minyak besar, tetapi dalam praktik perdagangan Indonesia, jalur impor yang terbuka justru berada di komoditas pangan dan hasil kebun seperti kakao dan umbi.

Komoditas ini relatif mudah diperdagangkan, tidak memerlukan pembiayaan kompleks, dan cocok dengan kebutuhan rantai pasok industri makanan Indonesia. Sebaliknya, barang modal dan manufaktur dari Venezuela tidak kompetitif baik dari sisi volume, harga, maupun konsistensi suplai.

Konsekuensinya, hubungan dagang Indonesia-Venezuela semakin asimetris. Indonesia menjual barang bernilai tambah tinggi seperti kendaraan, produk rumah tangga, dan tekstil, sementara Venezuela memasok Indonesia dengan bahan pangan dan bahan mentah bernilai terbatas. Ini menjelaskan mengapa meskipun Venezuela adalah negara kaya minyak, Indonesia tidak menggantungkan satu pun jalur strategis energinya pada negara tersebut. Venezuela, bagi Indonesia, berfungsi sebagai pemasok pinggiran, bukan penyangga utama rantai pasok nasional.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
| | | |