20 Jam Penuh Guncangan: Bunga Utang-Minyak Melejit Jelang Putusan Fed

18 hours ago 4
  • Pasar keuangan Indonesia kembali berakhir di zona merah, bursa saham dan rupiah melemah
  • Wall Street kembali ambruk pada perdagangan Selasa
  • Keputusan The Fed dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali berakhir di zona merah pada perdagangan kemarin, Selasa (15/9/2026) di tengah guncangan eksternal. Baik saham ataupun rupiah sama-sama melemah pada perdagangan kemarin.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi banyak guncangan pada hari ini. Investor dan trader perlu memperhatikan sejumlah sentimen pasar hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (15/9/2026), ditutup di posisi 6.461,15, merosot 73,54 poin atau 1,13%.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, jumlah saham yang mengalami penguatan dan pelemahan relatif berimbang. Sebanyak 330 saham tercatat naik, sementara 332 saham turun dan 301 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pada perdagangan kemarin tercatat sekitar Rp11.261 triliun.

Dari sisi transaksi, total volume transaksi mencapai 26,4 miliar saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp12,7 triliun. Sementara itu, frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,8 juta kali.

Mengutip data Refinitiv, faktor pemberat IHSG berasal dari sektor energi yang melemah 2,44%, disusul sektor keuangan -1,56%, dan konsumer kritikal -1,16%.

Adapun yang menjadi saham-saham beban IHSG kemarin antara lain, PT. Satria Antaran Prima Tbk. (SAPX), PT. Summarecon Agung Tbk. (SMRA),PT. Rig Tenders Indonesia Tbk. (RIGS), PT. Leyand International Tbk. (LAPD), dan PT. Cipta Selera Murni Tbk. (CSMI).

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 349,28 miliar pada perdagangan Selasa kemarin.

Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah kembali melanjutkan tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan kemarin Selasa (15/9/2026), rupiah terdepresiasi 0,26% dan berakhir di posisi Rp17.685/US$. Sekaligus menjadi pelemahan dalam empat hari beruntun.

Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah konsisten bergerak di zona merah setelah dibuka melemah 0,06% di level Rp17.650/US$. Tekanan pun terus bertambah hingga mata uang Garuda sempat menyentuh posisi terlemah kemarin di Rp17.703/US$.

Adapun, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau mengalami penguatan 0,22% ke posisi 99,606.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di posisi 7,156% untuk tiga hari beruntun.

Read Entire Article
| | | |