Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
17 April 2026 09:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah mulai reboundnya pergerakan pasar modal, mencari saham dengan valuasi murah selalu memunculkan risiko tersendiri bagi pelaku pasar, terutama ancaman terjebak dalam saham yang fundamentalnya memang memburuk.
Untuk menghindari jebakan valuasi tersebut, diperlukan pendekatan penyaringan fundamental yang komprehensif.
Pendekatan ini tidak hanya mencari harga saham yang sedang terdiskon, tetapi juga memastikan emiten tersebut memiliki mesin pencetak laba yang efisien, neraca keuangan yang tangguh, serta komitmen untuk membagikan kas kepada pemegang saham.
Metrik Penyaringan Defensif
Untuk mencari saham dengan valuasi yang murah namun berkualitas, penyaringan dilakukan dengan menggabungkan metrik valuasi, profitabilitas, solvabilitas, dan arus kas.
Langkah pertama adalah menggunakan rasio EV to EBITDA untuk menilai harga perusahaan secara keseluruhan, karena metrik ini sudah memperhitungkan posisi utang dan kas bersih.
Selanjutnya, kualitas saham tersebut diuji menggunakan Return on Equity (ROE) guna memastikan perusahaan tetap efisien dalam mengelola modal operasionalnya.
Agar terhindar dari saham bermasalah, tingkat keamanan keuangan diukur melalui Debt to Equity Ratio (DER) yang rendah dan Interest Coverage Ratio yang memadai untuk memastikan kemampuan membayar utang tetap aman.
Terakhir, indikator Dividend Yield digunakan untuk membuktikan bahwa laba perusahaan benar-benar berwujud uang kas nyata yang dibagikan kepada pemegang saham berupa dividen.
Jajaran Saham Undervalued Pilihan
Penerapan penyaringan ketat tersebut menghasilkan sejumlah daftar emiten lintas sektoral yang saat ini dihargai sangat konservatif oleh pasar. Berikut adalah rekapitulasi data fundamental emiten terkait.
Dari tabel tersebut, PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) memimpin dari sisi efisiensi modal dengan ROE mencapai tingkat delapan puluh tujuh persen, namun hanya diperdagangkan pada kelipatan EV to EBITDA sebesar enam kali.
Pada sektor komoditas energi, PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menawarkan imbal hasil dividen dua digit yang melebihi sebelas persen.
Khusus untuk BSSR, tingkat solvabilitasnya sangat prima dengan rasio penutupan bunga menembus seribu kali lipat, mengindikasikan perusahaan beroperasi nyaris tanpa beban utang berbunga.
Di sektor manufaktur, farmasi, dan infrastruktur penunjang, emiten seperti PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA), PT Citra Tubindo Tbk (CTBN), dan PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) menunjukkan profil fundamental yang identik.
Ketiganya mencatatkan ROE belasan hingga dua puluhan persen dengan valuasi EV to EBITDA terdiskon di kisaran empat hingga enam kali. Indikator DER dari ketiga emiten ini yang berada di bawah level nol koma dua menegaskan bahwa ekspansi dan operasional mereka didanai sepenuhnya melalui kas internal yang kuat.
Penilaian Pasar dan Momentum
Munculnya deretan emiten ini membuktikan adanya asimetri informasi atau sentimen sektoral yang membuat harga saham mereka tertinggal dari realita fundamentalnya.
Kelipatan valuasi di rentang empat hingga enam kali EV to EBITDA untuk perusahaan yang rutin mencetak ROE dua digit menandakan bahwa pasar sedang mengabaikan kualitas aset perusahaan-perusahaan tersebut.
Karakteristik utama dari emiten-emiten yang tersaring ini adalah posisi mereka sebagai entitas bisnis yang sudah sangat matang.
Dengan siklus belanja modal (CapEx) besar yang umumnya telah terlewati, perusahaan memiliki kapasitas untuk mengonversi laba operasional menjadi arus kas bebas yang didistribusikan kepada investor.
Secara strategis, hal ini menempatkan emiten-emiten tersebut pada posisi defensif yang solid, menawarkan proteksi dari volatilitas pasar sekaligus memberikan aliran pendapatan pasif selagi menunggu pasar kembali mengapresiasi harga sahamnya ke nilai intrinsik yang wajar.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450746/original/023400300_1766159119-national-773x380.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307862/original/009171400_1754487646-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15-2.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102047/original/017122200_1737427568-safee-sali_30ea701.jpg)




