Alasan Sebenarnya Trump Tangkap Maduro, Bukan Cuma Minyak Tapi...

2 days ago 22

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka mengaitkan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan ambisi energi Washington.

Trump menyebut ingin membuka kembali akses perusahaan minyak AS ke Venezuela, negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Hal ini tentu bukan pepesan kosong. Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.

Cadangan Minyak Terbukti Terbesar Dunia

Menurut data OPEC, Venezuela tercatat memiliki cadangan terbukti sekitar 303,2 miliar barel. Ini melampaui Arab Saudi di posisi kedua dengan 267 miliar barel, Iran di posisi ketiga dengan 209 miliar barel, Irak di posisi keempat dengan 209 miliar barel.

Rusia saja hanya memiliki 80 miliar barel alias di posisi ketujuh. Sementara AS sendiri di posisi sembilan dengan 45 miliar barel.

Namun, produksi minyak negara anjlok tajam. Ini akibat sanksi AS, salah urus, serta minimnya investasi.

Saat ini Venezuela hanya memproduksi sekitar 1 juta barel per hari. Angka tersebut jauh di bawah level 3,5 juta barel per hari pada 1999 ketika Hugo Chavez pertama kali berkuasa.

Minyak Venezuela pernah sangat jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah 350.000 barel per hari pada 2020. Ini saat sanksi keras Trump diberlakukan pada 2019.

"Pengabaian, infrastruktur yang buruk, kurangnya investasi, dan korupsi juga telah mengurangi kapasitas produktif negara," kata Panalis dari Third Bridge, eter McNally, seperti dikutip AFP, Senin (5/1/2026).

Di bawah sanksi AS, ekspor minyak Venezuela mayoritas mengalir ke China, diperkirakan mencapai 80%. Sering kali minyak sampai ke China melalui jalur tidak langsung via Malaysia atau sebagian kecil lainnya dikirim ke Kuba.

Untuk menghindari embargo, Caracas menggunakan jaringan "kapal tanker hantu" dengan bendera dan rute palsu. Salah satunya, kapal M/T Skipper, dicegat Angkatan Laut AS dalam blokade minyak yang diumumkan bulan lalu, yang membawa lebih dari 1 juta barel minyak Venezuela.

Transaksi minyak juga dilaporkan dilakukan menggunakan mata uang kripto seperti USDT. Ini guna menghindari sistem keuangan berbasis dolar AS.

Kepentingan AS, Trump & China

Trump diketahui memang secara terang-terangan menyebut minyak sebagai alasan strategis. Setelah serangan, ia tegas menyebut ingin perusahaan AS menginvestasikan miliaran dolar ke minyak Venezuela.

"Kita harus dikelilingi oleh negara-negara yang aman dan juga memiliki energi.," ujarnya.

"Banyak uang keluar dari tanah, dan kita akan mendapatkan kembali semuanya," tambahnya.

Analis menilai minyak Venezuela yang dikirim ke negara lain dalam status embargo adalah "pencurian". Apalagi minyak diekstraksi dengan peralatan AS.

"Trump memandang minyak Venezuela yang diekspor di bawah embargo sebagai minyak yang dicuri dari komunitas internasional," kata analis Cite Gestion Private Bank, John Plassard.

"Dari sudut pandang Trump, minyak itu diekstraksi menggunakan peralatan dan investasi Amerika sebelum nasionalisasi era Chavez," tambahnya.

Selain faktor ekonomi, AS juga ingin menekan pengaruh China di kawasan Amerika Latin. Sebelumnya China juga dominan di Terusan Panama, yang menjadi rute utama pengiriman minyak Venezuela.

Dalam update Senin pagi, harga minyak mentah berjangka WTI malah turun di bawah US$57 per barel pada karena investor menilai implikasi serangan AS terhadap Venezuela dan penangkapan Maduro. Beberapa analis memperkirakan gangguan yang terbatas, mencatat bahwa Venezuela saat ini memproduksi kurang dari 1 juta barel minyak mentah per hari, yang kurang dari 1% dari produksi global.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |