Anak Laki-laki Kidal Lebih Sering Lahir di Musim Hujan, Ini Alasannya

22 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Pernahkah Anda menyadari bahwa jumlah orang yang kidal tampaknya berbeda-beda tergantung bulan kelahirannya? Sebuah penelitian besar dari Universitas Wina, Austria, kini memberikan jawaban ilmiah atas pengamatan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa anak laki-laki yang lahir pada bulan November, Desember, dan Januari memiliki kemungkinan lebih besar menjadi kidal dibandingkan dengan anak laki-laki yang lahir pada bulan-bulan lainnya.

Temuan ini membuka wawasan baru mengenai bagaimana lingkungan saat di dalam kandungan dapat memengaruhi perkembangan otak dan kebiasaan tangan seseorang, dikutip dari laporan Science Daily, Kamis (17/9/2026).

Secara umum, hanya sekitar 10 persen dari seluruh populasi manusia yang kidal. Angka ini relatif stabil di berbagai belahan dunia, tetapi di balik angka tersebut tersembunyi pola yang baru saja terungkap. Peneliti menggunakan data dari hampir 13.000 orang dewasa di Austria dan Jerman, kemudian membandingkan tanggal kelahiran dengan kecenderungan tangan yang digunakan sehari-hari. Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten dan tidak dapat dijelaskan sebagai kebetulan semata.

Dari data yang dikumpulkan, terlihat perbedaan yang nyata antara dua periode dalam setahun:

  • Februari hingga Oktober - Rata-rata 8,2 persen anak laki-laki yang lahir pada periode ini menjadi kidal.
  • November hingga Januari - Angka tersebut naik menjadi 10,5 persen, atau meningkat sekitar seperempat dibandingkan periode lainnya.

Menariknya, kecenderungan ini hanya terlihat secara nyata pada anak laki-laki. Pada anak perempuan, persentase kelahiran anak kidal relatif sama sepanjang tahun, yaitu sekitar 7,5 persen, tanpa perbedaan yang berarti dari satu bulan ke bulan lainnya.

"Kami terkejut melihat ketidakseimbangan ini," ujar peneliti utama Ulrich Tran. "Peningkatan khususnya pada tiga bulan akhir tahun sangat jelas dan tidak dapat diabaikan."

Alasan anak laki-laki kidal lahir di musim hujan

Peneliti menjelaskan pola ini melalui teori yang telah dikemukakan sejak tahun 1980-an oleh ahli neurologi Amerika Serikat, Norman Geschwind dan Albert Galaburda. Teori tersebut menyatakan bahwa kadar hormon testosteron yang tinggi saat janin berkembang dapat menunda pematangan belahan otak kiri. Akibatnya, belahan otak kanan justru lebih dominan, dan ini berkaitan erat dengan kecenderungan menggunakan tangan kiri.

Karena janin laki-laki secara alami memiliki kadar testosteron yang lebih tinggi dibandingkan janin perempuan, pengaruh faktor luar terhadap kadar hormon ini terasa lebih kuat pada laki-laki. Salah satu faktor luar yang diduga berperan adalah paparan sinar matahari. Sinar matahari dapat memengaruhi kadar hormon dalam tubuh ibu, yang kemudian berpengaruh pada lingkungan di dalam kandungan.

Di kawasan Eropa tempat penelitian ini dilakukan, bulan November hingga Januari adalah musim dengan jumlah jam sinar matahari paling sedikit dalam setahun. Para peneliti menduga perubahan durasi cahaya matahari ini memengaruhi keseimbangan hormon ibu, yang kemudian berdampak pada perkembangan otak janin laki-laki.

Makna Penelitian bagi Indonesia

Hasil penelitian ini menjadi perhatian khusus bagi kita yang tinggal di Indonesia. Berbeda dengan Eropa yang memiliki perbedaan musim sangat tajam, Indonesia terletak di garis khatulistiwa dengan durasi siang dan malam yang hampir sama sepanjang tahun. Artinya, perbedaan jumlah sinar matahari dari bulan ke bulan jauh lebih kecil dibanding di Austria atau Jerman.

Hal ini menimbulkan pertanyaan soal pola yang sama juga terjadi di Indonesia. Jika faktor sinar matahari memang menjadi penyebab utamanya, kemungkinan besar tidak akan ada perbedaan mencolok jumlah anak kidal berdasarkan bulan kelahiran di tanah air.

Namun belum ada penelitian khusus yang menguji hal ini di wilayah tropis. Fakta bahwa kecenderungan ini hanya muncul pada anak laki-laki juga mengingatkan kita bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh banyak hal sekaligus. Bukan hanya genetik, tetapi juga lingkungan tempat ibu tinggal, musim, dan kondisi selama di dalam kandungan.

Sebelumnya sudah ada beberapa penelitian yang mencoba mencari hubungan antara musim kelahiran dan kecenderungan tangan kidal. Namun hasilnya beragam dan belum ada kesimpulan yang pasti. Penelitian kali ini dengan jumlah sampel yang besar memberikan bukti yang lebih kuat. Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa ini hanyalah satu faktor dari sekian banyak hal yang menentukan apakah seseorang kidal atau tidak.

Artinya, jika Anda lahir di bulan November hingga Januari dan Anda laki-laki, kemungkinan menjadi kidal memang sedikit lebih besar. Namun hal itu tidak menjadi ketentuan mutlak. Banyak hal lain yang ikut berperan, dan setiap anak tetap unik dengan jalur perkembangannya masing-masing.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |