AS Ambil Alih Industri Migas Venezuela, Apa Dampak ke Harga Minyak?

1 day ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan akan mengambil alih industri minyak Venezuela, seusai menangkap Presiden negara itu Nicolas Maduro pada Sabtu malam waktu setempat.

Saat konferensi pers terkait penangkapan Maduro tentang tuduhan peredaran narkoba dan senjata ke AS, Trump mengatakan, industri minyak Venezuela akan "menghasilkan banyak uang" dengan dukungan Amerika Serikat.

Trump menilai industri minyak Venezuela telah "benar-benar gagal" untuk waktu yang lama, sambil mengatakan, "Mereka hampir tidak memompa apa pun dibandingkan dengan apa yang seharusnya bisa mereka pompa."

Para analis mengatakan peningkatan produksi minyak Venezuela tidak akan murah. Energy Aspects memperkirakan bahwa penambahan produksi setengah juta barel per hari akan menelan biaya $10 miliar dan memakan waktu sekitar dua tahun.

Jika perusahaan minyak AS diberi akses lebih besar di Venezuela, mereka dapat membantu secara bertahap memulihkan industri tersebut. "Tetapi ini bukan hal yang mudah," kata Richard Bronze, kepala geopolitik di Energy Aspects, sebuah perusahaan riset.

Peningkatan besar mungkin memerlukan "puluhan miliar dolar selama beberapa tahun," kata perusahaan itu.

Penggulingan pemerintahan Venezuela mungkin menawarkan peluang bagi perusahaan minyak Amerika, tetapi mereka juga bisa terseret ke dalam situasi yang rumit, kata para analis industri.

Tekanan dari Trump dapat "memaksa mereka untuk memainkan peran semi-pemerintah di bidang peningkatan kapasitas dan pembangunan," tulis Helima Croft, kepala komoditas di bank investasi RBC Capital Markets, pada hari Sabtu dalam sebuah catatan investasi.

Dia menambahkan bahwa mengurangi pengaruh militer terhadap industri minyak dan perekonomian secara lebih luas "bisa jadi merupakan tantangan."

Intervensi Trump di Venezuela pasti akan menimbulkan gejolak di pasar minyak, tetapi analis mengatakan bahwa lonjakan harga yang signifikan kemungkinan tidak akan terjadi.

Venezuela adalah produsen yang relatif kecil dan banyak analis memperkirakan pasar minyak saat ini mengalami kelebihan pasokan. Minyak mentah Brent, patokan internasional, diperdagangkan pada harga US$ 60,80 per barel pada hari Jumat, mendekati titik terendah tahun ini.

Setelah Washington melakukan operasinya untuk menggulingkan Maduro, Third Bridge, sebuah perusahaan riset, mengatakan dalam sebuah catatan bahwa mereka "tidak melihat peristiwa ini akan segera berdampak pada harga minyak mentah atau biaya bensin yang biasa dilihat pengemudi di SPBU."

Venezuela diketahui memiliki lebih dari 300 miliar barel cadangan minyak di bawah tanah dan merupakan yang terbesar di dunia. Namun, negara ini kesulitan memproduksi satu juta barel per hari, atau sekitar 1% dari produksi global.

Selain itu, sebagian besar minyak Venezuela adalah minyak ekstra berat, sehingga mencemari lingkungan dan mahal untuk diproses.

Akibatnya, kemampuan produksi minyak negara itu tak kunjung membaik setelah mampu memompa 2 juta barel per hari pada era 2010-an.

BUMN pengelola minyak mentah Venezuela, yang dikenal sebagai PDVSA, kekurangan modal dan keahlian untuk meningkatkan produksi.

Ladang minyak negara itu sudah usang dan menderita akibat "bertahun-tahun kurangnya pengeboran, infrastruktur yang bobrok, seringnya pemadaman listrik, dan pencurian peralatan," menurut sebuah studi terbaru oleh Energy Aspects.

Amerika Serikat telah memberlakukan sanksi terhadap minyak Venezuela, yang sekarang diekspor terutama ke China.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |