AS Bom Venezuela dan Tangkap Maduro, Begini Respons Petinggi Dunia

2 days ago 9
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Venezuela dilaporkan luluh lantak dalam hitungan jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim militer AS melancarkan serangan besar-besaran ke negara Amerika Latin tersebut. Trump bahkan menyebut Presiden Venezuela Nicolás Maduro telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negaranya.

Klaim mengejutkan itu disampaikan Trump pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat melalui media sosial Truth Social. Ia menyatakan operasi militer AS berjalan sukses dan langsung menargetkan pucuk pimpinan Venezuela.

"Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut," tulis Trump.

Ledakan mengguncang ibu kota Caracas serta sejumlah wilayah lain di Venezuela pada Sabtu pagi waktu setempat. Kepulan asap terlihat membubung di beberapa titik kota, sementara helikopter dilaporkan terbang rendah di atas area terdampak, memicu kepanikan warga.

Hal ini menjadi perhatian para petinggi dunia. Mereka merespons apa yang telah dilakukan AS di Venezuela. Begini respons mereka dikutip Aljazeera.

Kolombia

Presiden Kolombia Gustavo Petro ikut merespons dengan mengatakan:

"Memperingatkan seluruh dunia bahwa mereka telah menyerang Venezuela," tulis Presiden Kolombia Gustavo Petro dalam serangkaian pernyataan yang diunggah di platform media sosial X.

"Republik Kolombia menegaskan kembali keyakinannya bahwa perdamaian, penghormatan terhadap hukum internasional, dan perlindungan kehidupan serta martabat manusia harus diutamakan daripada segala bentuk konfrontasi bersenjata," kata Petro.

Dalam unggahan terpisah, ia mengatakan Kolombia menolak agresi terhadap kedaulatan Venezuela dan Amerika Latin. Petro kemudian mengumumkan pengerahan pasukan militer ke perbatasan Venezuela.

Kuba

Presiden Miguel Diaz-Canel mengeluarkan kecaman keras di media sosial, menuduh Washington melakukan "serangan kriminal" terhadap Venezuela dan menyerukan respons mendesak dari internasional.

Dalam sebuah unggahan di X, Diaz-Canel mengatakan apa yang disebut "zona perdamaian" Kuba sedang "diserang secara brutal", menggambarkan tindakan AS sebagai "terorisme negara" yang ditujukan tidak hanya kepada rakyat Venezuela tetapi juga kepada "Amerika kita" secara lebih luas.

Ia mengakhiri pernyataan tersebut dengan slogan revolusioner: "Tanah Air atau Kematian, Kita Akan Menang."

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah oleh berbagai kedutaan Kuba di seluruh dunia, Havana mengatakan bahwa mereka "mengecam serangan militer AS terhadap Venezuela". Pernyataan tersebut juga "menuntut reaksi mendesak dari komunitas internasional", menggambarkan serangan tersebut sebagai "terorisme negara".

Rusia

Moskow sangat prihatin dan mengutuk "tindakan agresi bersenjata" terhadap Venezuela yang dilakukan oleh AS, kata Kementerian Luar Negeri Rusia.

"Dalam situasi saat ini, penting... untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan fokus pada pencarian jalan keluar dari situasi ini melalui dialog," kata Kemlu Rusia tersebut dalam sebuah pernyataan.

Kemlu Rusia juga menyatakan Venezuela harus dijamin haknya untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan militer yang merusak dari luar.

"Kami menegaskan kembali solidaritas kami dengan rakyat Venezuela dan dukungan kami terhadap kebijakan kepemimpinannya dalam membela kepentingan dan kedaulatan nasional negara," tambahnya.

AS

Senator Republik Mike Lee mengatakan AS ikut bersuara soal aksi militer AS di Venezuela setelah menangkap pemimpinnya, Nicolas Maduro.

"Ia memperkirakan tidak akan ada tindakan lebih lanjut di Venezuela sekarang setelah Maduro berada dalam tahanan AS," tulis Lee di X setelah apa yang disebutnya sebagai panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Lee mengatakan pemerintahan Trump telah memberitahunya bahwa Maduro akan menghadapi tuntutan pidana di AS.

Uni Eropa

Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Kaja Kallas, mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan duta besar Uni Eropa di Caracas mengenai perkembangan terbaru di Venezuela.

"Uni Eropa memantau dengan cermat situasi di Venezuela," kata Kallas dalam sebuah pernyataan di X.

"Uni Eropa telah berulang kali menyatakan bahwa Bapak Maduro tidak memiliki legitimasi dan telah membela transisi damai. Dalam keadaan apa pun, prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam PBB harus dihormati. Kami menyerukan pengekangan. Keselamatan warga negara Uni Eropa di negara tersebut adalah prioritas utama kami."

Spanyol

Madrid menyerukan de-eskalasi, moderasi, dan penghormatan terhadap hukum internasional di Venezuela, kata Kementerian Luar Negeri Spanyol dalam sebuah pernyataan. Spanyol juga menawarkan diri sebagai negosiator untuk membantu menemukan solusi damai di Venezuela.

Italia

Perdana Menteri Giorgia Meloni mengatakan bahwa ia "memantau dengan cermat situasi di Venezuela", juga dengan tujuan "mengumpulkan informasi tentang warga negara kita" di negara tersebut. Meloni menambahkan bahwa ia terus berhubungan dengan Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani. Sekitar 160.000 warga Italia saat ini tinggal di Venezuela, sebagian besar memiliki kewarganegaraan ganda.

(wur/wur)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |