Awal Mula Kurma Tumbuh di Israel, Produknya Dijual Pakai Merk Samaran

6 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Pohon kurma tumbuh di habitat dengan suhu udara tinggi dan kelembapan rendah. Atas dasar ini, kurma tumbuh subur di daerah Timur Tengah yang dikenal beriklim panas dan banyak gurun. Praktis, wilayah Timur Tengah jadi tempat bermukim pohon kurma, tidak terkecuali Israel.

Di Israel, kurma sudah hadir sejak lama, tepatnya dari 2.000 tahun lalu. Saat itu kurma masih tumbuh liar dan mayoritas berada di daerah Yudea. Dari segi ukuran pun berukuran lebih kecil dengan panjang biji sekitar 1 cm.

Masyarakat saat itu pun menjadi kurma sebagai sumber makanan, baik itu konsumsi utama atau sebagai sarana pengobatan. Setidaknya ada 7 jenis kurma yang tumbuh, antara lain Metuselah, Hana, Adam, Judith, Boas, Yunus dan Uriel.

Singkat cerita, kurma kemudian jadi komoditas perdagangan penguasa. Mengutip Hareetz, Raja Salomo yang berkuasa pada abad ke-10 SM tercatat pernah memperdagangkan pohon kurma antara daerah kuasanya dengan Arab. Meski sudah ada sejak ribuan tahun lalu, kurma zaman dahulu berbeda jenis dengan masa kini.

Ekstensifikasi dan domestifikasi kurma yang dibawa dari Afrika Utara atau Irak pada tahun 1950-an memunculkan variasi kurma baru yang lebih besar dibanding kurma-kurma liar. Sejak saat itulah, kurma semakin tumbuh subur di Israel dan menghilangkan kurma-kurma liar yang lebih dulu muncul. Atas alasan ini, kurma Israel masa kini mirip dengan kurma-kurma yang berasal dari negara-negara Arab lain.

Sampai sekarang, mulai banyak kebun-kebun kurma di Israel. Dari kebun-kebun tersebut Israel melakukan ekspor kurma ke berbagai negara.

Bahkan, Israel tercatat sebagai salah satu negara pengekspor kurma terbesar di dunia. Sebagian produk kurma asal Israel bahkan juga masuk Indonesia.

Kurma Israel dijual dengan merek samaran

Di tengah masifnya gerakan boikot terhadap produk Israel akibat penjajahan Palestina, muncul dugaan bahwa sebagian kurma asal Israel, termasuk dari permukiman di Tepi Barat, dijual di Eropa dengan label asal yang disamarkan.

Mengutip Anadou Agency, sejumlah laporan industri, investigasi media, hingga kelompok pengawas konsumen di Eropa menyebut, produk kurma yang diproduksi di permukiman Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat diduga masuk ke pasar Uni Eropa melalui negara ketiga atau jalur logistik tidak langsung untuk menyembunyikan asal produksinya. Praktik ini oleh para kritikus disebut sebagai date laundering.Israel mengekspor sekitar 35.000 ton kurma per tahun. Namun data sektor pertanian yang dipublikasikan media Israel menunjukkan hanya sekitar 8.800 ton diproduksi di dalam wilayah yang diakui secara internasional, terutama di Lembah Arava.

Jika angka ini akurat, maka sekitar 75% volume ekspor diduga berasal dari perkebunan di permukiman Tepi Barat, yang secara luas dianggap ilegal menurut hukum internasional.

Beberapa laporan menyebut produk tersebut dilabeli sebagai "produk Israel" tanpa menyebut asal dari permukiman. Laporan juga menduga kurma Israel bahkan dipasarkan melalui negara perantara seperti Belanda, Maroko, Uni Emirat Arab, maupun Palestina.

Data Bank Dunia menunjukkan, sekitar setengah kurma yang dijual di Belanda dan lebih dari sepertiga di Prancis berasal dari Israel. Kedua negara ini juga dikenal sebagai pusat pengemasan dan re-ekspor di Eropa. Produk terkait Israel diperkirakan menyumbang sekitar 25% pasokan kurma di Jerman.

(hsy/hsy)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |