Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan RI tampaknya masih akan goyang pada pekan pertama Februari 2026. Tantangan masih datang dari dalam dan luar negeri.
Dari negeri Paman Sam, pemerintah-nya kembali mengalami shutdown, tetapi kali ini secara parsial dan dinilai akan lebih singkat.
Sementara dari dalam negeri masih memantau lagi terkait pergantian pejabat tinggi di pasar modal Indonesia sampai beberapa data ekonomi utama, seperti inflasi, neraca dagang, manufaktur, dan pertumbuhan ekonomi. Berikut ulasannya:
US Shutdown Kembali Lagi
Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi memasuki fase partial shutdown sejak Sabtu dini hari waktu setempat. Situasi ini terjadi meski Senat telah lebih dulu menyetujui paket pendanaan federal hanya beberapa jam sebelumnya. Proses kini bergantung sepenuhnya pada House of Representatives, yang belum memberikan persetujuan akhir.
Melansir dari CNBC International, melalui voting 71-29, Senat meloloskan paket yang mencakup lima rancangan undang-undang anggaran, disertai skema pendanaan sementara dua minggu.
Skema ini dirancang untuk memberi waktu tambahan bagi legislator menyelesaikan perbedaan pandangan, terutama terkait alokasi anggaran Department of Homeland Security (DHS).
Kendala muncul karena House belum kembali bersidang di Washington hingga awal pekan. Kondisi ini membuat pemerintah federal tetap memasuki fase penghentian layanan terbatas, meskipun secara substantif kesepakatan politik di Senat sudah tercapai.
Shutdown kali ini diperkirakan singkat, berbeda dengan penutupan 43 hari tahun lalu yang mencatatkan rekor terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat.
Ketua House Mike Johnson menyampaikan dukungan terhadap paket yang telah disahkan Senat setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan persetujuannya. Johnson menargetkan pemungutan suara di House pada Senin.
Jika lolos, paket anggaran tersebut akan langsung dikirim ke Gedung Putih untuk ditandatangani Presiden Trump.
Pada pekan depan, pasar juga akan memantau bagaimana pergerakan harga metal, terutama terkait emas, perak, dan tembang.
Tiga komoditas metal itu turun tajam secara bersamaan pada akhir pekan lalu, mengakhiri euphoria pasar setelah sempat terbang ke level All Time High mereka.
Secara historis, setelah mencapai puncak, harga emas biasanya akan turun sekitar 20-40%, artinya pada pekan depan ruang penurunan masih terbuka.
Nicky Shiels, Head of Metals Strategy MKS PAMP SA kepada BBC, juga menyebut Januari 2026 sebagai bulan paling volatil dalam sejarah logam mulia.
Ia menilai koreksi masih berpotensi berlanjut hingga level yang lebih sehat secara teknikal. Dalam catatannya, emas di kisaran US$4.600, perak US$80, dan platinum US$2.000 dipandang sebagai target penurunan yang realistis untuk mereset tren bullish jangka menengah.

Penurunan harga komoditas ini patut diantisipasi karena biasanya akan menjalar ke aset lain seperti saham-saham perusahaan tambang, termasuk di Indonesia.
Beberapa perusahaan tambang di Indonesia yang terkait metal sebagai berikut:
Menanti Pejabat Baru OJK dan BEI
Beralih ke dalam negeri, perhatian tak luput dari langkah pergantian sejumlah pejabat tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), setelah pekan lalu ada lima orang mengundurkan diri bersamaan, diantaranya :
-
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengundurkan diri.
-
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar.
-
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara.
-
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi.
-
Deputi Komisioner Pengawas Emiten I.B. Aditya Jayaantara
Mundurnya sejumlah pimpinan di pasar modal Indonesia, dipicu oleh gejolak tajam di pasar saham dan kekhawatiran soal tata kelola serta kepercayaan investor, terutama setelah MSCI menuntut transparan data dan ancaman menurunkan kategori Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Untuk menjaga kelangsungan fungsi pengaturan dan pengawasan sektor keuangan, OJK telah menunjuk pejabat pengganti yang efektif per 31 Januari 2026:
-
Friderica Widyasari Dewi ditetapkan sebagai Pejabat Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK.
Ia sebelumnya menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, dan memiliki pengalaman panjang di industri pasar modal. -
Hasan Fawzi ditunjuk sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon.
-
Jeffrey Hendrik diduga kuat sebagai Pejabat Sementara Direktur Utama BEI (diumumkan Senin).
Menanti rilis data ekonomi RI
Memasuki pekan pertama Februari, perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada rilis sejumlah data ekonomi utama, mulai dari inflasi, neraca perdagangan, pertumbuhan ekonomi, hingga aktivitas manufaktur.
Rangkaian data ini menjadi penting karena akan membentuk ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter serta prospek ekonomi Indonesia ke depan.
Dari sisi inflasi, Badan Pusat Statistik melaporkan inflasi tahunan Indonesia naik menjadi 2,92% pada Desember 2025, dari 2,72% pada November. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak April 2024, namun masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%.
Tekanan inflasi terutama datang dari kenaikan harga pangan yang meningkat paling cepat dalam tiga bulan terakhir menjadi 4,58%, disusul perumahan, transportasi, serta rekreasi.
Di sisi lain, beberapa kelompok justru mencatat perlambatan inflasi, seperti pakaian, perabot rumah tangga, kesehatan, akomodasi dan restoran, serta pendidikan. Penurunan harga pada kelompok komunikasi juga masih berlanjut. Inflasi inti berada di 2,38%, tertinggi sejak Mei, sementara secara bulanan inflasi melonjak 0,64%, menjadi kenaikan terkuat dalam delapan bulan terakhir. Data inflasi Januari 2026 dijadwalkan rilis pada Senin, 2 Februari 2026.
Sementara itu, dari sektor riil, aktivitas manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansi meski mulai melambat. Indeks Manajer Pembelian manufaktur Indonesia versi S&P Global tercatat turun ke 51,2 pada Desember 2025, dari posisi tertinggi sembilan bulan di 53,3 pada November. Meski melemah, angka ini menandai lima bulan berturut-turut ekspansi aktivitas pabrik.
Laju pertumbuhan pesanan baru dan penyerapan tenaga kerja tercatat melambat, sementara penjualan ke luar negeri kembali turun untuk bulan keempat berturut-turut. Tekanan kapasitas produksi masih terasa, tercermin dari kenaikan backlog pesanan untuk bulan kedua berturut-turut. Produksi memang kembali meningkat, namun tertahan oleh keterbatasan bahan baku.
Di sisi lain, aktivitas pembelian naik moderat karena perusahaan mulai membangun persediaan pra-produksi. Stok pasca-produksi bahkan naik ke level tertinggi bersama dalam enam tahun terakhir.
Waktu pengiriman juga kembali memanjang untuk bulan ketiga, sebagian dipengaruhi oleh cuaca buruk. Tekanan biaya input masih cukup tajam, meski melandai ke level terendah empat bulan terakhir, seiring naiknya harga bahan baku dan gangguan pasokan.
Perusahaan kembali menaikkan harga jual, walau lebih terbatas dibanding November. Menariknya, sentimen pelaku usaha justru menguat ke level tertinggi sejak September, didorong ekspektasi peluncuran produk baru serta permintaan pelanggan yang diperkirakan membaik.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, pemerintah optimistis Indonesia mampu mencapai target 5,2% pada 2025, meskipun sempat terdampak banjir di akhir tahun lalu. Optimisme ini ditopang oleh perkiraan penguatan ekonomi pada kuartal IV.
Data menunjukkan produk domestik bruto kuartal III 2025 tumbuh 5,04%, sedikit melambat dari 5,12% pada kuartal II, namun masih menjadi laju tercepat sejak kuartal II 2023. Rilis resmi PDB kuartal IV 2025 dijadwalkan pada Rabu, 4 Februari 2026, yang akan menjadi penentu akhir capaian pertumbuhan tahun lalu. Pemerintah juga mempertahankan target pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,4%.
Di tengah dinamika tersebut, bank sentral masih menjaga sikap akomodatif. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% pada Januari 2026, demi menjaga stabilitas rupiah, setelah sebelumnya memangkas suku bunga secara kumulatif 150 basis poin sejak September 2024 untuk mendukung pertumbuhan.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan juga menjadi perhatian pasar. Surplus perdagangan Indonesia menyempit menjadi USD 2,66 miliar pada November 2025, turun dari USD 4,34 miliar setahun sebelumnya dan berada di bawah ekspektasi pasar. Pelemahan ini dipicu oleh ekspor yang turun 6,6% secara tahunan ke USD 22,52 miliar, terendah dalam tujuh bulan, terutama akibat anjloknya ekspor migas serta melemahnya permintaan dari China dan Jepang.
Sebaliknya, ekspor ke Amerika Serikat justru meningkat. Impor tumbuh tipis 0,46% secara tahunan, berbalik dari kontraksi bulan sebelumnya. Secara kumulatif, selama sebelas bulan pertama 2025, Indonesia masih membukukan surplus perdagangan USD 38,54 miliar. Data neraca perdagangan Desember 2025 dijadwalkan rilis pada Kamis, 6 Februari 2026.
Dengan padatnya agenda rilis data tersebut, pasar diperkirakan bergerak lebih volatil di awal Februari. Pelaku pasar akan mencermati kekuatan permintaan domestik, ketahanan sektor manufaktur, serta kondisi eksternal, sambil menimbang ruang kebijakan moneter ke depan. Kombinasi inflasi yang mulai menghangat, manufaktur yang masih ekspansif, dan perdagangan yang melemah akan menjadi penentu arah pasar dalam jangka pendek.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5372801/original/040806000_1759769523-1000224866.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362119/original/035085500_1758837955-Calvin-Verdonk-Europa-League.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376586/original/086524400_1760009433-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_15.16.27.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5338912/original/039061000_1756988370-2N3A9178.JPG)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5379723/original/026526700_1760356768-1000294045.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)
