Jakarta, CNBC Indonesia - Setiap hari kita melihat bibir sendiri di cermin, namun jarang sekali bertanya mengapa manusia memilikinya? Para ahli biologi mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan bahwa bibir berwarna merah yang dimiliki manusia tidak dimiliki oleh hewan primata lain. Bibir manusia adalah ciri khas unik yang hanya ada pada spesies kita, dikutip dari laman Forbes, Minggu (23/8/2026).
Simpanse, misalnya, memiliki bibir yang berotot dan bisa bergerak lincah. Namun, mereka tidak punya pita jaringan berwarna merah kemerahan yang terbentang ke luar pada mulut kita. Para ahli anatomi menyebut bagian itu sebagai vermilion.
Vermilion sebenarnya adalah lapisan dinding bagian dalam mulut yang melipat ke luar dan terpapar udara terbuka. Di bagian tubuh lain, jaringan lembap seperti itu tersembunyi di dalam. Hanya pada manusia, jaringan itu tampak terlihat jelas di wajah. Penelitian tahun 2021 yang diterbitkan jurnal Translational Research in Anatomy menegaskan bahwa batas vermilion itu khusus dimiliki oleh manusia di antara seluruh kera yang hidup saat ini.
Warna merah bibir bukanlah berasal dari zat pewarna atau pigmen seperti kulit lainnya, melainkan karena kulit bibir sangat tipis. Pembuluh darah di bawahnya tampak jelas menembus lapisan kulit yang tipis itu. Itulah sebabnya bibir tampak pucat saat kedinginan dan memerah setelah berolah raga.
Bibir tidak memiliki kelenjar minyak, sehingga tidak memiliki lapisan pelindung yang menjaga kelembapan seperti kulit wajah lainnya. Bibir mudah pecah-pecah saat musim dingin dan terbakar matahari saat panas. Bagian yang rapuh dan terbuka seperti itu seharusnya tidak dipertahankan oleh evolusi jika tidak memiliki manfaat yang jauh lebih besar. Lantas untuk apa sebenarnya bibir itu diciptakan?
Alasan manusia memiliki bibir
Para ilmuwan memiliki tiga penjelasan utama mengapa manusia berevolusi memiliki bibir seperti ini:
1. Untuk menyusu
Bayi manusia menyusu pada payudara yang relatif datar, bukan pada puting yang menonjol seperti kera lainnya. Untuk mendapatkan segel kedap udara saat menyusu, diperlukan bibir yang berotot dan melipat ke luar. Namun, kera lain juga menyusu dengan baik tanpa memiliki bibir vermilion seperti manusia. Jadi fungsi menyusu mungkin menjelaskan mengapa bibir kita berotot, tetapi belum menjelaskan mengapa bagian dalam mulut itu melipat ke luar.
2. Untuk berbicara
Bibir adalah katup terakhir yang dilewati udara sebelum berubah menjadi kata. Bunyi seperti huruf p, b, dan m tidak bisa diucapkan tanpa menutup bibir. Penelitian tahun 2012 menduga bahwa irama bunyi bahasa manusia berkembang dari gerakan bibir yang dilakukan kera saat berkomunikasi.
Namun, simpanse juga bisa menggerakkan bibirnya dengan sangat lincah. Hanya saja bibir mereka tetap berwarna sama dengan wajah lainnya. Jadi kemampuan berbicara saja belum sepenuhnya menjelaskan warna merah bibir kita.
3. Sinyal kesehatan dan sosial
Penjelasan ketiga dianggap paling mendekati kebenaran. Manusia kehilangan sebagian besar rambut tubuh dan memiliki wajah yang terbaca terus-menerus oleh sesamanya. Pada wajah yang tidak berbulu, pita jaringan yang warnanya berubah sesuai aliran darah menjadi sinyal alami.
Warna bibir berubah saat kita kedinginan, lelah, sehat, atau menua. Perubahan itu terbaca oleh orang lain sebagai tanda kondisi fisik seseorang. Sebagian besar ahli biologi evolusi sepakat bahwa fungsi sebagai sinyal sosial dan penanda kesehatan adalah alasan utama mengapa bibir vermilion itu dipertahankan oleh alam.
Bukan untuk berciuman
Satu hal yang perlu pasti, bibir bukan berevolusi untuk berciuman. Penelitian tahun 2015 yang meneliti 168 kebudayaan di dunia menemukan bahwa kebiasaan berciuman dengan penuh kasih sayang justru tidak ada pada mayoritas budaya. Jadi berciuman adalah sesuatu yang kita lakukan menggunakan bibir, bukan alasan mengapa bibir itu diciptakan evolusi.
Ada satu petunjuk terakhir. Bibir adalah salah satu bagian tubuh paling peka terhadap sentuhan, kepekatannya mendekati ujung jari. Sebagian besar wilayah otak yang mengatur perasaan pada wajah justru didedikasikan untuk bibir. Bayi menjelajahi dunia menggunakan mulut jauh sebelum tangannya bisa digunakan.
Tidak ada alasan tunggal manusia memiliki bibir. Bibir ada karena manusia makan, berbicara, merasakan sentuhan, dan dilihat orang. Evolusi tidak selalu menyusun tubuh kita dengan satu tujuan yang rapi. Bagian tubuh yang paling sulit dijelaskan, ternyata adalah bagian yang sudah lama berhenti kita perhatikan.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5312155/original/068813000_1754906267-1000195601.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5588928/original/089544700_1778143903-1000412385.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5399028/original/092705400_1761902993-mike.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5669124/original/011292600_1778417837-Nonton_bersama_Persija_vs_Persib_di_Se_Indonesia_sambil_menikmati_se_i_sapi.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/3162385/original/022516600_1593078778-20200625IQ_The_Jakmania_Esport_08.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569659/original/041138100_1777452638-Paul_Munster_vs_Bojan_Hodak.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347641/original/099453500_1757691462-Logo-Pegadaian-Championship-Liga-2-20252026.jpg)




