Saat Petani Terlelap, Ini Cara Burung Hantu Selamatkan Sawit - Sawah

6 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Penggunaan burung hantu sebagai biological predator, dengan campur tangan manusia,  untuk mengendalikan hama tikus menjadi salah satu cara untuk menjaga produktivitas kebun pertanian dan perkebunan, termasuk kelapa sawit. 

Spesies yang paling banyak dimanfaatkan adalah Tyto alba atau serak jawa. Burung pemangsa nokturnal ini memiliki kemampuan pendengaran dan penglihatan dalam kondisi minim cahaya yang membuatnya efektif memburu tikus pada malam hari.

Dalam praktik di perkebunan kelapa sawit, satu ekor Tyto alba disebut mampu memangsa sekitar tiga hingga lima ekor tikus dalam satu malam.

Burung hantu di perkebunan. (Dok. Asian Agri)Burung hantu di perkebunan. (Dok. Asian Agri) Foto: Burung hantu di perkebunan. (Dok. Asian Agri)

Pemanfaatannya bukan sekadar upaya membasmi hama. Kehadiran predator alami juga menjadi bagian dari pendekatan pengendalian hama terpadu atau Integrated Pest Management (IPM), yang mengutamakan pencegahan, pemantauan, dan metode biologis sebelum menggunakan pestisida kimia.

Hama Kecil dengan Kerugian Besar

Tikus menjadi salah satu hama penting bagi berbagai tanaman perkebunan karena dapat menyerang sejak fase awal tanaman hingga hasil produksi. Pada kelapa sawit, tikus memakan buah dan dapat merusak tandan yang sedang berkembang sehingga menekan produktivitas kebun.

Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat serangan tikus pada kelapa sawit terjadi secara berulang sepanjang 2016-2021.

Burung hantu di perkebunan. (Dok. Asian Agri)Burung hantu di perkebunan. (Dok. Asian Agri) Foto: Burung hantu di perkebunan. (Dok. Asian Agri)

Dalam kondisi tertentu, populasi tikus di kebun sawit dapat sangat tinggi. Data yang dikutip Direktorat Jenderal Perkebunan menyebut populasi tikus dapat mencapai 537 ekor per hektare, sementara rata-rata jumlah pohon kelapa sawit dalam satu hektar dapat mencapai 130 batang. Penelitian juga mencatat seekor tikus dapat memakan buah kelapa sawit berkisar antara 5,5-13,6 gram per hari.

Pestisida Bukan Satu-satunya Solusi

Pengendalian tikus secara konvensional umumnya dilakukan menggunakan rodentisida atau racun tikus. Namun menurut berbagai riset termasuk IML Research, rodentisida sifatnya sangat beracun, bahkan terhadap organisme non-target.

Penggunaan rodentisida antara lain berpotensi mencemari lingkungan termasuk air, tanah, dan udara, serta membutuhkan pengawasan ketat dalam penyebaran umpan.

Ini menciptakan persoalan tersendiri. Ketika predator alami ikut berkurang, keseimbangan ekosistem dapat terganggu dan pengendalian hama justru semakin bergantung pada intervensi manusia.

Di sinilah peran Tyto alba memberi pendekatan berbeda.

Burung Hantu dalam Integrated Pest Management 

Agar dapat bertahan di area pertanian, petani atau perusahaan biasanya menyediakan rumah burung hantu atau nest box. Di perkebunan Asian Agri, misalnya, satu kotak sarang ditempatkan untuk sekitar 25 hektare lahan.

Dalam IPM, populasi hama dijaga tetap di bawah tingkat yang merugikan secara ekonomi melalui kombinasi predator alami, pemantauan, perangkap, agen biologis, serta penggunaan pestisida secara lebih selektif. Peran manusia tetap diperlukan terutama pada tahap awal melalui penyediaan nest box, pelatihan, serta pemantauan hingga burung hantu mampu beradaptasi dan berburu secara mandiri.

Metode biologis lain juga dapat digunakan, seperti tanaman penghasil nektar dan jamur Metarhizium anisopliae.

Dari Pengendalian Hama Menuju Sustainable Agriculture

Penggunaan predator alami menawarkan dua keuntungan sekaligus. Dari sisi bisnis, populasi hama dapat ditekan sehingga kerusakan tanaman dan potensi kehilangan hasil berkurang. Pada saat yang sama, berkurangnya ketergantungan terhadap pestisida juga dapat menekan kebutuhan input kimia dan biaya pengendalian dalam jangka panjang.

Efisiensi biaya juga terlihat dalam studi yang dikutip University of California Agriculture and Natural Resources (UCANR).

Pengendalian menggunakan Barn Owl diperkirakan hanya membutuhkan biaya sekitar US$0,34 atau sekitar Rp6.000 (US$1 = Rp17.700) untuk setiap hewan pengerat yang dikendalikan.

Sebagai perbandingan, metode perangkap atau trapping terhadap pocket gopher, salah satu jenis hewan pengerat yang menjadi hama pertanian, membutuhkan biaya sekitar US$8,11 atau Rp143.500 per ekor. 

Burung hantu di perkebunan. (Dok. Pexels)Burung hantu di perkebunan. (Dok. Pexels) Foto: Burung hantu di perkebunan. (Dok. Pexels)

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa sustainable agriculture tidak hanya berbicara soal mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan sistem produksi yang lebih efisien dan resilien.

Dengan menjaga keseimbangan ekosistem, menekan penggunaan input kimia, serta mengurangi risiko kehilangan hasil, pengendalian biologis dapat menjadi salah satu cara meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

(Salma Laiqa/slm)

Read Entire Article
| | | |