Bukan Sawit RI, Malaysia Kini Hadapi Musuh yang Lebih Besar

6 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

05 June 2026 18:32

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar sempat memperkirakan perubahan tata kelola ekspor komoditas Indonesia akan menjadi kabar baik bagi industri sawit Malaysia.

Ketika pemerintah mulai menjalankan skema ekspor baru melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) pada 1 Juni 2026, muncul asumsi bahwa pembeli global akan mengalihkan sebagian pesanan ke Malaysia untuk menghindari potensi gangguan pasokan dari Indonesia.

Namun, sampai awal Juni, skenario tersebut belum terlihat di pasar. Permintaan dari negara pembeli utama sedang melemah.

India, konsumen minyak sawit terbesar dunia, mengurangi pembelian secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Solvent Extractors' Association of India (SEA) mencatat impor minyak sawit India pada April 2026 turun 26% menjadi 513.403 ton dari 689.462 ton pada Maret. Volume tersebut menjadi yang terendah sejak Desember 2025.

Penurunan pembelian terjadi ketika harga minyak sawit sempat menguat dan memangkas selisih harga dengan minyak nabati pesaing. Kondisi itu membuat banyak pengolah memilih menunda pembelian besar sambil menunggu harga terkoreksi.

Margin pengolahan yang negatif ikut menekan minat impor. Pada saat yang sama, India juga menghadapi krisis pasokan gas memasak komersial yang berdampak pada konsumsi minyak goreng sektor restoran dan usaha makanan.

Arah pembelian India pun berubah. Impor minyak kedelai pada April naik 25% menjadi 360.350 ton, tertinggi dalam empat bulan. Impor minyak bunga matahari melonjak 121% menjadi 434.240 ton, level tertinggi dalam 22 bulan. Total impor minyak nabati India memang masih naik 10% menjadi 1,31 juta ton, tetapi pertumbuhan tersebut berasal dari dua komoditas pesaing minyak sawit.

Kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa eksportir Malaysia belum menikmati tambahan permintaan setelah Indonesia memulai masa transisi kebijakan ekspor. Mpoc mencata pelaku pasar menyebut pembeli besar, terutama India, telah melakukan pembelian cukup besar pada kuartal pertama tahun ini sehingga kebutuhan impor pada kuartal kedua menjadi lebih rendah.

Tekanan mulai terlihat pada kinerja ekspor Malaysia. Survei Bloomberg terhadap pelaku industri memperkirakan ekspor minyak sawit Malaysia pada Mei turun 6,2% menjadi 1,22 juta ton. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Februari setelah pada April ekspor sudah lebih dulu merosot 14%. Ketika pengiriman melemah, persediaan di dalam negeri bertambah. Stok minyak sawit Malaysia diperkirakan naik 2,2% menjadi 2,36 juta ton.

Dari sisi produksi, pasokan Malaysia sebenarnya tidak sedang meningkat. Produksi crude palm oil (CPO) pada Mei diperkirakan turun 4,9% menjadi 1,55 juta ton. Namun penurunan produksi belum cukup mengimbangi lemahnya permintaan ekspor sehingga persediaan tetap bertambah.

Perhatian pasar kini beralih ke Indonesia. Masa transisi kebijakan ekspor masih berlangsung dan perusahaan tetap diperbolehkan menjalankan transaksi secara mandiri sampai pengambilalihan fungsi tertentu oleh Danantara, paling cepat September 2026 dan paling lambat Januari 2027. Dalam periode tersebut, sebagian pelaku pasar memperkirakan eksportir akan mempercepat pengapalan sebelum mekanisme baru berlaku penuh.

Jika volume ekspor Indonesia meningkat pada saat pembelian India masih tertahan, persaingan pasokan di pasar global akan semakin ketat. Indonesia saat ini juga memiliki keunggulan harga dibandingkan minyak sawit Malaysia. Selisih harga tersebut membuka ruang bagi eksportir Indonesia untuk mempertahankan atau memperbesar pangsa pasar di sejumlah negara tujuan.

Artinya, tantangan terbesar bagi Malaysia saat ini belum berasal dari perubahan tata kelola ekspor Indonesia.

Hambatan yang lebih dekat berada di sisi permintaan. Selama India masih membatasi pembelian dan beralih ke minyak nabati lain, tambahan ruang ekspor yang sempat diharapkan dari kebijakan Danantara belum terlihat. Pasar sawit global saat ini bergerak di bawah bayang-bayang permintaan yang melemah, sementara pasokan dari produsen utama tetap tersedia dalam jumlah besar.

CNBC Indonesia

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |