Cuan Wisata di Tengah Ketegangan Jepang dan China

2 hours ago 2

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Meningkatnya ketegangan hubungan Jepang-China memberikan peluang sektor wisata Indonesia. Peluang ini muncul dari pembatalan 49% penerbangan atau sekitar 400-an ribu tiket wisata China ke Jepang selama awal tahun 2026. Jika Indonesia pandai memanfaatkan peluang ini, maka sektor wisata Indonesia akan mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit.

Ketegangan dimulai dari pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Pada November 2025, Perdana Menteri Jepang perempuan pertama ini menyebut bahwa serangan China ke Taiwan bisa menjadi ancaman bagi Jepang. Bagi Beijing, ucapan ini dibaca sebagai sinyal keterlibatan langsung Jepang dalam isu yang selama ini dianggap sebagai urusan domestik China. Alhasil, gelombang kritik tajam dari pemerintah China tidak terbendung.

Imbasnya, pemerintah China mengeluarkan peringatan perjalanan dan meminta warganya menunda bepergian ke Jepang. Alasan utamanya adalah masalah keamanan serta memburuknya iklim hubungan kedua negara.

Tidak berhenti di situ, otoritas pariwisata dan regulator penerbangan China kemudian meminta agen biro perjalanan dan maskapai memangkas hingga sekitar 40 persen wisatawan dan penerbangan ke Jepang, lengkap dengan opsi pengembalian dan perubahan jadwal gratis sampai setidaknya Maret 2026.

Dampak
Polemik ini menimbulkan kerugian nyata bagi sebagian warga China dan Jepang. Bagi warga China, kerugian terbesar dirasakan para pelancong dan pebisnis biro perjalanan yang terlanjur merencanakan perjalanan ke Jepang.

Banyak wisatawan harus membatalkan liburan, mengatur ulang jadwal, hingga menanggung biaya nonrefund untuk hotel atau paket tur yang sudah dipesan. Sementara itu, agen perjalanan harus memutar otak menjual ulang rute dan mengalihkan pelanggan ke destinasi lain.

Dari sisi Jepang, polemik ini merembes ke turunnya saham perusahaan pariwisata, ritel, dan transportasi karena pasar mengantisipasi berkurangnya wisatawan China yang selama ini menjadi penyumbang belanja terbesar. The Nomura Research Institute menyebutkan bahwa kerugian yang diderita ekonomi Jepang sekitar 2,2 triliun yen atau setara Rp242 triliun. Angka ini akan memangkas produk domestik bruto Jepang sebesar 0,36 persen.

Indonesia harus bersiap menangkap peluang di tengah polemik geopolitik dua raksasa ekonomi Asia tersebut. Mengalihkan opsi wisata pelancong China ke Indonesia bisa menjadi langkah yang bisa diambil pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Pemerintah pusat bisa menggencarkan promosi wisata di Negeri Tirai Bambu ini, misalnya dengan memberikan ataupun menempel stiker 'Wonderful Indonesia' di transportasi dan tempat umum di kota-kota besar seperti Guangzhou.

Kemudian jika ada pemerintah daerah di Indonesia yang menjadi sister city dengan pemerintah kota di China, maka hal ini bisa menjadi salah satu jalan promosi wisata yang tidak kalah penting. Penulis kira dua hal ini bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam tempo yang singkat.

Beberapa kota di Indonesia memiliki beberapa kota kembar dengan kota-kota di Tiongkok, misalnya Bandung dengan Liuzhou & Yingkou. Kemudian sister city antara Semarang dengan Beihai, Fuzhou dan Nanjing. Surabaya dengan Guangzhou dan Xiamen, Manado dengan Qingdao dan Anyang serta Mataram dengan Pengzhou di Sichuan.

Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Swasta, terutama yang bergerak di sektor wisata, harus ikut dalam usaha menarik wisatawan China ke Indonesia. Beberapa Langkah yang bisa dilakukan oleh swasta antara lain menggencarkan promosi wisata ke Indonesia melalui biro perjalanan rekanan mereka di China. Bisa saja biro travel Indonesia melakukan kerja sama dengan biro travel lokal China untuk mengalihkan penerbangan yang batal ke Jepang ke dialihkan ke Indonesia.

Penawaran perubahan rute wisata harus dibarengi dengan analisa minat wisatawan China. Penawaran harus dipastikan sepadan dengan apa yang didapat jika berwisata ke Jepang. Misalnya terkait dengan ongkos. Jika dengan 10 juta rupiah turis China bisa menghabiskan empat malam di Jepang, maka apakah mungkin dengan 10 juta itu, turis China bisa menginap di Indonesia selama empat hari atau bahkan mungkin lima hari.

Indonesia bisa bersaing dengan Jepang dalam hal wisata budaya dan alam. Sebagian besar atraksi wisata di Jepang adalah budaya dan alam semisal Kyoto dengan kota tuanya, Gifu dengan Shirakawa-Go dan Hokkaido dengan atraksi saljunya. Di Indonesia, Kota Solo dan Yogyakarta bisa menjadi alternatif bagi yang gagal ke Kyoto. Bali bisa menjadi alternatif yang menyediakan wisata budaya dan alam sekaligus. Labuan Bajo, Bromo dan Bunaken, bisa menjadi alternatif bagi pecinta wisata alam.

Namun, Indonesia belum bisa bersaing dalam hal wisata belanja dan penunjangnya. Tidak sedikit turis yang memang ke Jepang itu ingin menikmati belanja dan juga menikmati kebersihan kota-kota Jepang. Dua hal ini Indonesia belum bisa bersaing dengan Jepang.

Semoga ketegangan Jepang-China bisa dikelola dengan baik oleh Indonesia, menjadikannya sebagai peluang, bukan sekadar tontonan geopolitik di layar berita. Jika kelolaan ini berhasil maka tahun 2026 bisa menjadi tahun ketika peta wisata kawasan bergeser tipis.

Aliran turis China yang biasa mendarat di Tokyo dan Osaka, berbelok mendarat di Denpasar, Manado, atau Yogyakarta. Dan pastinya, bisa meninggalkan jejak cuan yang bisa terasa sampai ke warung kopi pinggir Pantai Kuta.


(miq/miq)

Read Entire Article
| | | |