Review Sepekan
Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
03 January 2026 08:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas global terpantau kurang menggembirakan sepanjang pekan ini, karena adanya aksi ambil untung (profit taking) menjelang pergantian tahun 2025 ke 2026. Namun cenderung bangkit di perdagangan terakhir pekan ini atau perdagangan perdana di 2026.
Merujuk Refinitiv, harga emas di perdagangan terakhir pekan ini sekaligus perdagangan perdana 2026, Jumat (2/1/2026) ditutup di posisi US$ 4.329,89 per troy ons. Harganya menguat 0,37%. Dalam sepekan terakhir, emas ambles 4,47% secara point-to-point.
Harga emas sempat anjlok Senin lalu, karena Aksi taking profit menjelang pergantian tahun. Penutupan perdagangan tersebut menghapus reli emas yang dicapai selama lima hari beruntun. Harga emas drop usai menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada level US$ 4.549,71 per troy ons.
Logam mulia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin, dimana perak juga terjatuh dari rekor tertinggi yang dicapai sebelumnya dalam sesi perdagangan. Hal ini disebabkan karena investor mengambil keuntungan setelah reli baru-baru ini.
"Semua logam naik ke level tertinggi baru-baru ini dan sepanjang masa. Kita melihat aksi ambil untung dari level yang sangat tinggi tersebut," ujar David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures.
Emas telah melonjak sekitar 65% pada 2025. Perak telah mengungguli semuanya dengan kenaikan 147% sejauh ini, didorong oleh status mineral kritisnya, kekurangan pasokan, dan meningkatnya permintaan industri dan investor.
Namun di akhir pekan ini, atau perdagangan perdana di 2026, di mana kenaikannya didukung oleh pelonggaran kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) dan pembelian oleh bank sentral.
Emas muncul sebagai aset unggulan pada 2025, didukung oleh pergeseran kebijakan moneter The Fed. Bank sentral AS memangkas suku bunga tiga kali selama tahun tersebut, menurunkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil dan meningkatkan daya tarik emas.
Pasar juga memperkirakan penurunan suku bunga lebih lanjut pada tahun 2026, memperkuat sentimen bullish.
Pembelian oleh bank sentral memberikan pilar dukungan utama lainnya, dengan beberapa negara pasar berkembang terus menambah emas ke cadangan mereka sebagai bagian dari strategi diversifikasi dari dolar AS.
"Kita terus melihat pasar membicarakan pemangkasan suku bunga pada bulan Maret dan mungkin pemangkasan lainnya di akhir tahun ini... kombinasi itu dengan pembicaraan signifikan tentang potensi risiko pasar akibat tarif dan utang AS yang berkelanjutan semuanya mendorong harga emas, perak, platinum, dan paladium naik," kata Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, dikutip dari Reuters, Sabtu (3/1/2026).
Pada saat yang sama, ketegangan geopolitik yang terus-menerus, termasuk konflik di Eropa Timur dan Timur Tengah, mendukung permintaan emas sebagai aset safe-haven sepanjang tahun.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/chd)































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339916/original/010495200_1757135510-20250904AA_Timnas_Indonessia_Vs_China_Taipei-108.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)






