Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terus melandai meskipun tipis.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (9/9/2026) ditutup di posisi US$ 151,1 per ton, harganya melandai 0,03%.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan turun tiga hari beruntun.
Harga batu bara melandai setelah kekhawatiran mengenai pasokan mereda. Lonjakan harga minyak bahkan gagal mengangkat harga batu bara.
Reli harga batu bara termal di China mulai kehilangan tenaga. Sentimen di pelabuhan-pelabuhan China utara melemah seiring kenaikan stok dan mulai surutnya aktivitas pembelian.
Pasokan batu bara di pelabuhan China utara naik 1,12% pada Rabu kemarin yang menunjukkan pasokan mulai bertambah. Stok di Qinhuangdao naik 1,68%, sementara stok Jingtang naik 2,29%.
Pengiriman batu bara dari pelabuhan China utara turun 9,72%, menandakan aktivitas pembelian dan pengiriman mulai melemah.
Kedatangan batu bara melalui kereta api di Jingtang justru melonjak 60,13%, sehingga pasokan ke pelabuhan kembali bertambah.
Sxcoal juga mencatat impor batu bara China pada Agustus masih relatif tinggi meski sedikit menurun. Sementara itu, impor thermal China tetap menjadi salah satu penopang pasar internasional.
China mengimpor 42,09 juta ton batu bara dan lignit pada Agustus 2026, turun 1,49% secara bulanan dari 42,73 juta ton pada Juli.
Meski turun, impor kumulatif Januari-Agustus mencapai 310,19 juta ton, naik 3,4% secara tahunan.
Kenaikan impor masih didukung oleh produksi batu bara domestik yang turun 2,9% pada Januari-Juli. Namun, permintaan belum sepenuhnya kuat. Produksi baja mentah dan semen masing-masing turun 3,1% dan 8,6%, sementara pertumbuhan pembangkit listrik melambat.
Memasuki September, impor batu bara China berpotensi kembali tertekan. Berakhirnya musim puncak kebutuhan listrik musim panas dapat menurunkan permintaan batu bara termal. Jika produksi domestik pulih bersamaan dengan melemahnya permintaan, impor batu bara China berpeluang turun lebih lanjut.
Berbeda dengan termal, harga batu bara kokas di China masih mendapat dukungan dari pasokan yang ketat, terutama setelah gangguan produksi dan lambatnya pemulihan sejumlah tambang di Shanxi.
Namun, pembeli mulai menahan diri karena harga sudah terlalu tinggi. Ini menjadi ujian apakah reli harga masih bisa berlanjut.
Dari sisi hilir, produsen kokas dan perusahaan baja menghadapi tekanan biaya. Kenaikan harga bahan baku tidak selalu bisa diteruskan ke harga produk.
Pergerakan pasar juga menunjukkan tanda bahwa kenaikan harga kokas berpotensi melambat, meskipun fundamental pasokan coking coal masih relatif ketat.
Produksi Batu Bara India Naik 67%, Pasokan Pulih Usai Musim Hujan
Kekhawatiran pasokan di India juga turun. Produksi batu bara Northern Coalfields Limited (NCL), anak usaha Coal India, melonjak 67%, sementara pasokan naik 75% per 8 September 2026 dibandingkan rata-rata 1-3 September.
Kinerja membaik setelah hujan mereda dan aktivitas tambang di Uttar Pradesh serta Madhya Pradesh kembali normal. Hingga 8 September, produksi NCL mencapai 51,43 juta ton, sedangkan pasokan mencapai 55 juta ton.
Sekitar 87% pasokan NCL ditujukan untuk pembangkit listrik. Dengan kondisi tambang membaik, pasokan batu bara ke pembangkit mulai kembali mendekati level sebelum musim hujan.
Pemerintah India juga menyebut persediaan batu bara mencapai 123 juta ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 51 hari.
(mae/mae)






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405356/original/074050200_1762458033-1000096973.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)






