Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi daya beli masyarakat Indonesia cenderung menurun, di tengah ketidakpastian kondisi global yang mempengaruhi tingkat harga barang meski beberapa data masih menunjukan angka yang cukup baik.
Terindikasi dari tingkat inflasi periode Juni 2026 yang meningkat baik secara bulanan maupun tahunan, seiring dengan angka indeks keyakinan konsumen (IKK) yang menurun, meski masih berada di zona optimis.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di Indonesia sebesar 0,44% secara bulanan atau month to month (mtm) pada Juni 2026. Adapun, inflasi tahun kalender mencapai 1,79% dan inflasi tahunannya sebesar 3,34%.
Tekanan inflasi yang tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan itu lebih tinggi dibanding kondisi Mei 2026 yang mengalami inflasi 0,28% mtm.
BPS mencatat kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar ialah sektor transportasi dengan nilai 2,29%. Kelompok pengeluaran ini memberikan andil inflasi 0,28%.
"Terjadi inflasi sebesar 0,44%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Sepanjang tahun ini, mulai dari Januari hingga Juni 2026, inflasi tahunan Indonesia berada dikisaran 3%. Bahkan Februari lalu, inflasi tahunan mencatatkan paling tinggi dalam tiga tahun terakhir, mencapai 4,76%.
Sedangkan inflasi bulanan sepanjang tahun ini, yang paling tinggi tercatat pada periode Februari 2026 yakni mencapai 0,68%.
Inflasi pada Februari 2026 disebabkan oleh dampak lanjutan normalisasi tarif listrik pada Februari 2026, setelah pada Februari 2025 pemerintah menerapkan diskon tarif listrik sebesar 50 persen. Kondisi ini dikenal sebagai efek basis rendah (low-base effect).
"Saat pemberlakuan diskon listrik pada Januari-Februari 2025, Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk tarif listrik turun menjadi 68,40 pada Januari 2026 dan 53,83 pada Februari 2026. Kondisi tersebut menyebabkan deflasi tahunan sebesar 0,09% pada Februari 2026, dengan komoditas listrik mengalami deflasi hingga 46,45%," kata Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam keterangan tertulis, dikutip kembali Senin (6/7/2026).
Kendati begitu, bila dibandingkan dengan Februari, inflasi Juni 2026 justru masih lebih baik, di mana angkanya sudah dikisaran 3% (tahunan) dan 0,4% (bulanan).
Selain inflasi, data IKK juga perlu menjadi sorotan karena angkanya mengalami penurunan, meski masih berada di zona optimis. Sepanjang tahun ini, angka IKK masih berada dikisaran 120. Namun, terlihat mengalami penurunan sejak Januari 2026.
Pada Januari lalu, IKK berada diangka 127, sedangkan di Februari mulai menurun menjadi 125,2. Pada Maret 2026, angka IKK Kembali turun menjadi 122,9. Namun di April, sedikit meningkat menjadi 123. Sayangnya di Mei 2026, angkanya Kembali menurun menjadi 120,9.
Menurunnya angka IKK menunjukkan bahwa masyarakat makin pesimis terhadap kondisi ekonomi saat ini dan masa depan. IKK menggunakan angka 100 sebagai ambang batas. Jika di atas 100 menandakan masyarakat masih optimis, sedangkan di bawahnya menandakan masyarakat pesimis.
Namun, penurunan IKK sejak Januari 2026 perlu menjadi perhatian karena masyarakat makin tidak percaya dengan kondisi ekonomi.
Penjualan Mobil dan Semen Masih Kencang
Meski angka IKK terus menurun sepanjang tahun ini, yang menandakan masyarakat makin pesimis, tetapi dari sisi penjualan mobil, sepanjang tahun ini masih mencatatkan pertumbuhan.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil pada Mei 2026 naik 14%, dari sebelumnya pada Mei 2025 yang mencapai 60.697 unit.
Secara bulanan, penjualan Mei memang masih lebih rendah dibanding April yang mencapai 80.779 unit. Namun, angka tersebut tetap menunjukkan permintaan kendaraan yang relatif terjaga di tengah tantangan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Secara kumulatif, penjualan mobil nasional sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai 359.015 unit. Angka tersebut tumbuh sekitar 12,6% dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat 318.944 unit.
Begitu juga dari penjualan semen, di mana volumenya secara industri pada Januari-Mei 2026 mengalami pertumbuhan positif sekitar 10% secara tahunan (yoy). Pada Januari-Mei 2025, penjualan semen justru menurun 2%.
Pemulihan ini didorong oleh peningkatan aktivitas pembangunan dan proyek infrastruktur.
Pemerintah Jaga Daya Beli Masyarakat
Untuk menjaga daya beli masyarakat, Pemerintah dan DPR telah menyepakati fokus kebijakan dalam jangka pendek, untuk memastikan pengendalian inflasi dan daya beli masyarakat, imbas masih besarnya tekanan ekonomi global.
Hal ini merupakan kesepakatan usai pertemuan antara Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sufmi Dasco bersama Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti dan Deputi Gubernur Filianingsih Hendarta, hingga Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu di Gedung DPR RI, sejak pagi ini.
"Ada kesepakatan yang tercapai bahwa menjaga kestabilan makro ekonomi di jangka pendek," kata Mari Elka seusai pertemuan, Senin (29/6/2026).
Mari Elka mengatakan, fokus pengendalian inflasi dan menjaga daya beli masyarakat ini menjadi sangat penting karena ketidakpastian ekonomi telah memberi sinyal yang jelas terkait potensi naiknya harga-harga barang. Terutama imbas dari ketidakpastian harga komoditas, akibat konflik di Timur Tengah.
"Karena kita sudah lihat dari ketidakpastian global seperti harga minyak yang pengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat," paparnya.
Pemerintah juga memastikan tidak ada kenaikan tarif listrik bagi 13 golongan pelanggan nonsubsidi PLN pada periode Juli hingga September 2026.
Tak hanya itu saja, pemerintah juga telah memberikan stimulus pada semester kedua 2026.
Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan dalam menghadapi ketidakpastian kondisi global, Pemerintah terus mengambil langkah-langkah proaktif dan antisipatif guna memitigasi berbagai risiko eksternal yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional. Dia menegaskan upaya ini dilakukan guna menjaga stabilitas dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
"Oleh karena itu, sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto, pada kesempatan ini kami akan mengumumkan stimulus ekonomi di semester kedua. Sebagian besar sudah disampaikan sesudah rakortas dan juga sebagian lagi merupakan arahan daripada Bapak Presiden," tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Konferensi Pers terkait Stimulus Ekonomi Q2 dan Semester II-2026 di Kantor Kemenko Perekonomian, dikutip Rabu (24/6/2026).
Ada delapan stimulus yang disiapkan untuk menjaga daya beli masyarakat.
Pertama, untuk mendukung industri kreatif dan kesejahteraan para pembuat karya, Pemerintah menetapkan insentif Pajak Penulis berupa tarif khusus Pajak Penghasilan (PPh) Final Royalti sebesar 1,5% bagi penulis nasional.
Kedua, untuk mendorong mobilitas masyarakat dan pergerakan ekonomi selama periode libur sekolah, Pemerintah memberikan Insentif dan Diskon Transportasi berupa diskon sebesar 30% harga tiket untuk kereta api tanggal 20 Juni - 5 Juli 2026 dan 30% tarif dasar untuk Kapal Pelni tanggal 20 Juni - 15 Agustus 2026, gratis tarif jasa kepelabuhan ASDP tanggal 20 Juni - 5 Juli 2026, dengan total alokasi anggaran sebesar Rp190,5 miliar dan target 3 juta penumpang, serta subsidi penuh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) DTP 100% untuk tiket pesawat domestik berjadwal kelas ekonomi dengan anggaran Rp472,7 miliar untuk target 2,3 juta penumpang.
Ketiga, Pemerintah akan memberikan insentif dan diskon transportasi serupa untuk periode Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) berupa Diskon sebesar 30% harga tiket untuk Kereta Api tanggal 22 Desember 2026 - 4 Januari 2027 dan 30% tarif dasar untuk Kapal Pelni tanggal 17 Desember 2026 - 10 Januari 2027, Gratis tarif jasa kepelabuhan ASDP tanggal 22 Desember 2026 - 10 Januari 2027 dengan total alokasi anggaran Rp161,4 miliar dan target 2,8 juta penumpang, serta subsidi PPN DTP 100% untuk penerbangan domestik berjadwal kelas ekonomi juga kembali diberikan dengan anggaran Rp722 miliar yang menyasar target 3,7 juta penumpang.
Keempat, untuk sektor industri, Pemerintah meluncurkan beberapa insentif. Insentif Impor LPG dan Bahan Baku Plastik dengan menetapkan Bea Masuk Nol Persen atas impor LPG bagi industri petrokimia, yang diharapkan dapat meningkatkan nilai manfaat bagi sektor ekonomi sebesar Rp2,25 triliun berupa pengurangan kos bagi industri terkait dan efek multiplier efek atau efek pengganda yang bisa didorong.
Selain itu, kata Airlangga, Pemerintah juga menetapkan Bea Masuk Nol Persen atas bahan baku plastik. Kedua kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan biaya produksi industri dan mencegah lonjakan harga barang konsumsi yang lebih luas. Sebelumnya, Pemerintah telah menurunkan tarif Bea Masuk impor suku cadang pesawat udara menjadi 0% untuk mendukung industri penerbangan melalui penurunan biaya operasional maskapai, guna memperkuat daya saing industri MRO.
Kelima, Program Magang Nasional atau MagangHub tahap II akan dimulai pada bulan Juli 2026 dengan alokasi anggaran sebesar Rp4,14 triliun yang akan menyasar 150.000 peserta fresh graduate perguruan tinggi.
Keenam, Pelatihan Vokasi. Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp2,12 triliun untuk mendanai program-program peningkatan keterampilan dan kompetensi ketenagakerjaan.
Menurut Airlangga, target prioritas dari program ini difokuskan secara khusus kepada 220.000 lulusan SMK agar mereka siap kerja, serta perlindungan bagi 50.000 pekerja yang terdampak PHK agar mereka mendapatkan jembatan keterampilan baru untuk kembali ke dunia kerja.
Ketujuh, Bantuan Beras 10 kg yang dimulai bulan Juli 2026. Pemerintah akan mendistribusikan bantuan beras masing-masing sebesar 10 kg kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat selama 3 bulan berturut-turut. Anggaran yang dialokasikan diperkirakan mencapai Rp17,54 triliun.
Kedelapan, Bantuan Stabilisasi Harga dan Pasokan Pangan (SPHP) Kedelai. Pemerintah memberikan bantuan kepada pengrajin tahu dan tempe paling tinggi sebesar Rp2.000/kg untuk total kuota 250.000 ton pada tahap pertama ini, untuk daerah yang harga kedelainya di atas Harga Acuan Pembelian (HAP).
"Jadi total stimulus yang dikeluarkan oleh Pemerintah untuk di semester kedua ini nilainya sekitar Rp26,34 triliun, terdiri dari stimulus insentif transportasi sekitar Rp2,04 triliun, anggaran Magang dan Vokasi sekitar Rp6,26 triliun dan bantuan pangan sebesar Rp18,04 triliun," pungkas Menko Airlangga.
(arj/arj)
Addsource on Google






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449843/original/037142600_1766116592-teja_3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523027/original/000294000_1772785878-5.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461718/original/089739600_1767433302-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_15.59.48.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5174269/original/058441100_1742913019-20250325BL_Timnas_Indonesia_Vs_Bahrain_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026-15.JPG)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5508843/original/080072800_1771622792-20260220AA_Persija_Jakarta_vs_PSM_Makassar-14.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307862/original/009171400_1754487646-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15-2.jpeg)