Kenapa Mojtaba Khamenei Tak Datang saat Pemakaman Ayatollah Khamenei?

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Prosesi pemakanan mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei masih digelar. Rencananya memang, prosesi pemakan dilakukan sekitar enam hari, dari 4 Juli lalu hingga 9 Juli nanti.

Namun hingga kini ada satu hal yang menarik. Sebagaimana dimuat banyak laman media asing, sang putra yang sekarang menggantikannya sebagai pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, tak kunjung hari.

Mengutip Al-Jazeera Senin (6/7/2026), dilaporkan bagaimana hingga hari kedua lalu, tiga putra Ali Khamenei datang. Mereka telah melakukan penampilan publik yang jarang terjadi.

Televisi Iran menayangkan bagaimana Mostafa, Meysam, dan Masoud Khamenei berdoa di belakang peti mati yang diletakkan di halaman luas Mosalla Agung Imam Khomeini, sebuah kompleks keagamaan besar di Teheran. Selain Ayatollah Ali Khamenei, ada empat peti lain yakni putrinya, menantu laki-lakinya, menantu perempuannya, dan cucu perempuannya yang berusia 14 bulan.

Lalu Mengapa Mojtaba Khamenei Tidak Hadir?

Mengutip The New York Times, ketidakhadiran Mojtaba Khamenei dalam upacara berkabung diyakini disebabkan oleh bahaya ancaman Israel terhadap nyawanya. Ia belum terlihat atau terdengar di depan umum sejak pengangkatannya sebagai pemimpin tertinggi pada bulan Maret, sebuah keputusan yang menurut banyak analis adalah demi keselamatannya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth sempat mengatakan pada Maret bahwa Mojtaba Khamenei kemungkinan telah "terluka dan kemungkinan cacat". Hal ini akibat serangan yang sama 28 Februari lalu, yang juga menewaskan ayahnya.

Reuters melaporkan pada bulan April bahwa pemimpin tersebut sedang dalam masa pemulihan dari cedera wajah dan kaki yang parah. Laman itu bahkan mengatakan bahwa ia bahkan berpotensi kehilangan satu kakinya akibat serangan tersebut.

"Menghindari kemunculan di depan umum juga menghalangi proyeksi gambaran kerentanan pada saat negara sedang mencoba untuk menunjukkan ketahanan, persatuan, dan kekuatan," kata pengamat Center for International Policy ke majalah Time.

"Setelah pembunuhan ayahnya pada awal perang, Pemimpin Tertinggi yang baru akan menjadi salah satu target bernilai tertinggi bagi Israel, sehingga membuat penampilan publik menjadi berisiko," tambahnya.

Peti jenazah mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan anggota keluarganya dipajang pada hari delegasi internasional berpartisipasi dalam upacara perpisahan untuk Khamenei, yang tewas pada 28 Februari selama serangan udara Israel dan AS di Iran, di Masjid Agung Imam Khomeini di Teheran, Iran, Jumat (3/7/2026). (via REUTERS/Majid Asgaripour)Peti jenazah mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan anggota keluarganya dipajang pada hari delegasi internasional berpartisipasi dalam upacara perpisahan untuk Khamenei, yang tewas pada 28 Februari selama serangan udara Israel dan AS di Iran, di Masjid Agung Imam Khomeini di Teheran, Iran, Jumat (3/7/2026). (via REUTERS/Majid Asgaripour) Foto: via REUTERS/Majid Asgaripour

Sebenarnya, ketidakhadiran Mojtaba Khamenei tidak hanya saat ini saja. Ini pun terjadi saat gencatan senjata AS-Iran guna membuka kembali Selat Hormuz setidaknya selama 60 hari.

"Namun, sebenarnya pemakaman tersebut merupakan kesempatan untuk meyakinkan masyarakat domestik dan regional bahwa transisi dapat dikendalikan," tambahnya.

Nyanyian Balas Dendam?

Di sisi lain, nyanyian "Balas dendam, balas dendam," dan "Tidak ada kompromi, tidak ada penyerahan, hanya balas dendam," terdengar dari kerumunan massa di Iran. Ini saat penyair Mohammad Rasouli menyerukan kematian Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidato di depan jenazah Ali Khamenei.

"Memalukan bagi kami jika kami tidak membunuh pembunuh Anda," kata Rasouli, berbicara kepada jenazah Khamenei.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |