Jejak Selat Hormuz: dari Kekaisaran Persia hingga Jadi Urat Nadi Dunia

3 hours ago 2

amalia Zahira,  CNBC Indonesia

12 March 2026 13:26

Jakarta, CNBC IndonesiaSelat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia. Dari jalur perdagangan kuno hingga pusat geopolitik modern, Selat Hormuz memainkan peran penting dalam membentuk dinamika ekonomi dan politik dunia.

Hingga saat ini, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati selat ini setiap harinya. Posisi tersebut membuatnya menjadi titik kritis bagi stabilitas energi global.

Persimpangan Perdagangan Sejak Zaman Kuno

Sejarah Selat Hormuz dapat ditelusuri hingga masa kekaisaran Persia kuno. Kekaisaran Achaemenid Empire (550 BC) telah memanfaatkan jalur ini untuk memperlancar perdagangan dengan India dan wilayah Afrika.

Pada masa periode keemasan Islam, pedagang Arab menjadikan selat ini sebagai jalur utama perdagangan rempah. Kapal-kapal dari berbagai wilayah membawa barang dagangan sekaligus menjadi medium pertukaran budaya.

Beberapa pelabuhan penting di sekitar selat berkembang menjadi pusat perdagangan dan kekuasaan, seperti Pulau Hormuz dan Muscat. Menguasai wilayah ini berarti mengendalikan akses menuju Teluk Persia.

Perebutan Kekuasaan oleh Bangsa Eropa

Memasuki abad ke-16, Selat Hormuz menjadi sasaran ekspansi kekuatan maritim Eropa. Kekaisaran Portugis berhasil merebut wilayah tersebut dan membangun benteng di Pulau Hormuz untuk mengendalikan jalur perdagangan Timur-Barat.

Dominasi Portugal kemudian memicu persaingan dengan perusahaan dagang Eropa lainnya, seperti Dutch East India Company (VOC) dan British East India Company.

Pada akhirnya, kekuatan maritim British Empire menjadi dominan di kawasan Teluk. Pengaruh Inggris di wilayah ini kemudian membuka jalan bagi keterlibatan mereka dalam pengelolaan wilayah kaya minyak di Timur Tengah pada abad ke-20.

Titik Kunci Ekonomi Minyak Dunia

Signifikansi Selat Hormuz meningkat tajam pada abad ke-20 setelah ditemukannya cadangan minyak besar di negara Iran, Iraq, dan Saudi Arabia.

Saat ini, sekitar 17 juta barel minyak per hari melewati jalur ini. Meski lebarnya hanya sekitar 21 mil laut pada titik tersempit, selat ini menjadi salah satu "choke point" energi paling penting di dunia.

Ekonomi global, mulai dari Amerika Serikat, China, India, hingga negara-negara Eropa, memiliki ketergantungan terhadap jalur distribusi energi yang melewati Selat Hormuz.

Selain penting secara ekonomi, selat ini juga kerap menjadi pusat ketegangan geopolitik.

Salah satu konflik terbesar terjadi dalam Perang Iran-Iraq, ketika kapal tanker minyak menjadi target serangan dalam periode yang dikenal sebagai Tanker War pada 1980-an.

Ketegangan juga sering terjadi antara Iran dan Amerika Serikat, terutama terkait program nuklir Iran dan sanksi internasional. Iran beberapa kali mengancam akan menutup Selat Hormuz jika tekanan terhadap negaranya meningkat.

Masa Depan yang Masih Penuh Ketidakpastian

Dalam sistem ekonomi global modern, Selat Hormuz menjadi sekaligus jalur vital dan titik tekanan geopolitik. 

Beberapa negara Teluk juga mencoba mengurangi ketergantungan terhadap jalur ini dengan membangun pipa alternatif, seperti:

  1. Habshan-Fujairah Pipeline di Uni Emirat Arab

  2. East-West Pipeline di Arab Saudi.

Namun kapasitas pipa alternatif tersebut masih jauh lebih kecil dibanding volume minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Di masa depan, transisi energi menuju sumber terbarukan berpotensi mengurangi ketergantungan dunia terhadap minyak. Meski demikian, dalam beberapa dekade ke depan Selat Hormuz masih akan tetap menjadi jalur yang sangat krusial bagi perekonomian global.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |