Kabur dari Saham, Ramai-Ramai Beli Surat Utang Purbaya

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan imbal hasil (yield) obligasi Indonesia tenor 10 tahun tengah melandai, mengindikasikan adanya aksi beli oleh pelaku pasar.

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan terakhir, Senin (3/2/2026), yield SBN pemerintah tenor 10 tahun ditutup turun ke level 6,330% atau turun 0,25%. Penurunan ini melanjutkan tren pelemahan yield pada perdagangan sebelumnya, Jumat (30/1/2026), ketika yield SBN tenor 10 tahun ditutup di level 6,346%.

Sebagai catatan, yield obligasi bergerak berlawanan arah dengan harganya. Artinya, saat yield turun, harga obligasi justru naik karena tengah diburu investor.

Permintaan Menguat, Yield SBN 10 Tahun Melandai

Melandainya yield SBN tenor 10 tahun sejalan dengan menguatnya permintaan dari beberapa kelompok investor utama. Data DJPPR menunjukkan kepemilikan SBN rupiah yang dapat diperdagangkan meningkat di tiga kategori pemilik besar, yakni asuransi dan dana pensiun, perbankan, serta investor asing. Kenaikan kepemilikan ini mendorong harga obligasi naik sehingga yieldnya turun.

Faktor sentimen risk-off dari pasar modal juga ikut membuka ruang arus masuk ke SBN. Pada Rabu (28/1/2026), pasar modal terkoreksi cukup dalam setelah pengumuman oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara penyesuaian terkait saham Indonesia dan menyoroti isu investability serta transparansi.

Tekanan di pasar saham tersebut lantas mendorong pergeseran portofolio ke instrumen yang lebih defensif seperti SBN, sehingga permintaan obligasi menguat dan yield cenderung melandai

Kepemilikan Asuransi dan Dapen Meningkat

Penguatan permintaan SBN datang dari investor berprofil jangka panjang, yakni asuransi dan dana pensiun.

Kepemilikan nya menunjukkan tren naik dari Rp1.314,31 triliun pada Selasa (27/1/2026) atau sebelum rilis berita MSCI, menjadi Rp1.317,38 triliun pada Jumat pekan lalu, atau bertambah sekitar Rp3,07 triliun.

Kenaikan ini memperkuat sinyal bahwa investor institusional domestik ikut mengakumulasi SBN di tengah gejolak pasar saham, sehingga menopang harga dan menekan yield.

Bank Ikut Menambah Porsi

Selain itu, bank juga tercatat menjadi salah satu yang terlihat mempertebal porsi kepemilikan nya di SBN. Kepemilikan bank naik dari Rp1.444,40 triliun menjadi Rp1.453,83 triliun atau bertambah sekitar Rp9,43 triliun.

Penambahan porsi ini menggambarkan relokasi portofolio ke aset yang lebih defensif saat pasar saham tertekan.

Kepemilikan Asing di SBN Cukup Stabil

Adapun, investor asing cenderung lebih berhati-hati. Kepemilikan asing naik tipis dari Rp878,63 triliun pada Kamis (28/1/2026) menjadi Rp878,75 triliun pada Jumat pekan lalu, atau bertambah sekitar Rp120 miliar. Meski kenaikannya kecil, sinyal ini mengindikasikan arus keluar mulai mereda dan minat terhadap SBN kembali muncul secara bertahap, ikut memperkuat harga obligasi dan menahan yield tetap melandai.

Dengan kenaikan kepemilikan oleh beberapa kelompok di atas, melandainya yield SBN 10 tahun dalam dua hari terakhir bukan sekadar pergerakan teknikal, melainkan ikut dipengaruhi perubahan selera risiko pasar.

Saat pasar saham tertekan dan investor cenderung panik, relokasi portofolio ke SBN meningkat. Kenaikan kepemilikan oleh bank, disusul akumulasi yang konsisten dari asuransi dan dana pensiun, serta mulai stabil nya posisi asing menjadi rangkaian faktor yang memperkuat harga SBN dan menahan yield tetap melandai.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
| | | |