Lupakan Emas, 3 Harta Karun Dunia Ini Lagi Jadi Rebutan Global

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia- Sejumlah logam tambang dan mulia harganya melonjak di awal tahun. Lithium, perak, dan platinum mencatatkan kenaikan di atas 30% sepanjang tahun ini (year to date/ytd) bahkan sebagian sudah menembus level historis, sementara emas bergerak lebih terkendali di kisaran belasan persen.

Harga perak sepanjang tahun ini sudah melonjak 51,7% secara dan 258% secara tahunan (year on year/YoY), menyentuh area di atas US$107 per troy ons. Lithium karbonat di China naik 53,8% (ytd) dan 133% YoY, menembus CNY 181.500 per ton. Platinum melesat 38,3% (ytd) dan 203% (YoY).

Kenaikan tiga "harta karun" dunia ini lebih tinggi dibandingkan emas yang melesat 17,6% (ytd) dan 85,34% (YoY).

Perak menjadi contoh paling gamblang tentang bagaimana mekanisme pasar fisik kini kembali menentukan harga. Lonjakan lebih dari 4% dalam satu hari tidak didorong spekulasi derivatif semata, melainkan oleh keketatan pasokan fisik yang berkepanjangan.

Di China dan India, kenaikan harga justru memicu permintaan ritel, terutama untuk batangan 1 kilogram. Produsen China bahkan mengalihkan lini produksi dari perhiasan ke produk investasi. Dalam pasar sekecil perak fisik, pergeseran permintaan seperti ini langsung menggerakkan harga.

Konsekuensinya, perak tidak lagi sebagai "emas versi murah".

Dengan basis permintaan investasi yang menguat dan risiko geopolitik serta ekspektasi penurunan suku bunga AS, perak mulai diposisikan sebagai aset lindung nilai yang lebih agresif.

Volatilitasnya lebih tinggi, tetapi sensitivitasnya terhadap arus dana jauh lebih besar dibanding emas.

Lithium bergerak lewat mekanisme yang berbeda, namun implikasinya tak kalah struktural. Reli hampir 30% hanya dalam Januari mencerminkan kombinasi permintaan energi dan kebijakan industri China. Penurunan insentif ekspor baterai mulai April mendorong produsen melakukan front-loading pembelian bahan baku.

Pergerakan Harga LithiumFoto: Trading Economics
Pergerakan Harga Lithium

Di saat yang sama, pemerintah China meningkatkan belanja penyimpanan energi dan pusat data, serta menargetkan kapasitas pengisian kendaraan listrik mencapai 180 gigawatt pada 2027.

Pasokan tidak mampu mengimbangi. Pembatalan 27 izin tambang di Jiangxi dan penghentian sementara operasi tambang CATL Jianxiawo memperketat suplai di saat permintaan justru dipercepat oleh kebijakan.

Di sini, harga lithium merefleksikan siklus komoditas, juga arah industrial policy. Konsekuensinya, volatilitas lithium cenderung bertahan selama intervensi negara masih menjadi faktor utama pasar.

Platinum, dengan ukuran pasar hanya sekitar 250 metrik ton per tahun jauh di bawah emas menjadikan harga platinum sangat sensitif terhadap arus beli fisik.

Kenaikan menuju US$2.900 per ons tidak sepenuhnya tercermin di ETF atau posisi futures. Lonjakan lebih banyak datang dari pembelian batangan fisik, tercermin dari tingginya lease rate di London. Biaya masuk yang lebih rendah dibanding emas membuat investor bisa mengakumulasi lebih banyak ons, memperbesar efek permintaan.

Emas sendiri tetap memainkan perannya, meski bukan sebagai pemimpin reli. Kenaikan ke atas US$5.060 per ons didorong oleh eskalasi ketegangan geopolitik, ancaman tarif AS terhadap Kanada, friksi AS-Eropa, hingga risiko penutupan pemerintah AS.

Namun secara struktur, emas bergerak lebih sebagai penyeimbang portofolio dibanding mesin pertumbuhan. Kenaikan YTD 17% mencerminkan fungsi lindung nilai yang bukan sebatas euforia.

Tembaga menunjukkan cerita yang lebih industrial. Harga bertahan di sekitar US$5,9 per pon, ditopang pelemahan dolar dan front-loading permintaan jelang Tahun Baru Imlek di China. Penawaran batangan tembaga investasi oleh pedagang China menunjukkan meningkatnya minat aset riil, meski pasar sekunder masih terbatas.

Permintaan dari transisi energi dan AI menjaga dasar harga, tetapi tanpa katalis pasokan ekstrem, tembaga bergerak lebih rasional dibanding logam lain.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
| | | |