Jakarta, CNBC Indonesia - Peneliti di Indonesia menemukan potensi tanaman lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai kandidat obat herbal untuk diabetes. Kayu raru yang selama ini dikenal dalam tradisi masyarakat Batak ternyata memiliki khasiat yang berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah.
Temuan ini berasal dari riset yang dilakukan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Mereka meneliti ekstrak kulit kayu raru (Vatica perakensis) sebagai kandidat bahan herbal antidiabetes berbasis kekayaan hayati Indonesia.
Penelitian tersebut berangkat dari pengetahuan tradisional masyarakat Batak yang telah lama menggunakan kayu raru sebagai campuran minuman tradisional, tuak. Dalam praktik tradisional itu, kayu raru dipercaya dapat membantu mengendalikan kadar gula darah.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Gunawan Trisandi Pasaribu menjelaskan, ekstrak kayu raru memiliki sifat antioksidan dan berpotensi menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase, enzim yang berperan dalam pemecahan karbohidrat menjadi glukosa.
"Untuk meningkatkan efektivitasnya, ekstrak kulit kayu raru kami kombinasikan dengan karbon aktif berbahan dasar mocaf (tepung singkong termodifikasi) yang berfungsi sebagai pembawa (carrier) zat aktif," ujar Gunawan dikutip dari rilis resmi BRIN, Minggu (15/3/2026).
Karbon aktif tersebut, ia bilang, diproduksi melalui proses pemanasan khusus hingga membentuk struktur berpori sangat halus. Struktur ini diharapkan mampu membawa dan melepaskan senyawa aktif dari ekstrak raru secara lebih efektif di dalam tubuh.
Uji Praklinis pada Model Hewan
Penelitian yang dilakukan tim BRIN menguji ekstrak kulit kayu raru pada tikus jantan yang dibuat mengalami diabetes. Hewan uji dibagi ke dalam beberapa kelompok, mulai dari kelompok kontrol, kelompok yang hanya diberi ekstrak raru, hingga kelompok yang mendapat kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif berbahan mocaf dengan komposisi berbeda.
Hasil pengujian menunjukkan ekstrak raru tunggal mampu menurunkan kadar gula darah hingga 21,94%. Sementara itu, kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif menghasilkan penurunan sebesar 18,85% pada rasio 75:25 dan 14,97% pada rasio 50:50. Meski kombinasi tersebut tetap menurunkan gula darah, efektivitasnya belum melampaui penggunaan ekstrak raru saja.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan ekstrak raru mampu menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase secara in vitro lebih dari 90%, yang diduga berkaitan dengan kandungan senyawa fenolik di dalamnya.
Meski hasilnya menjanjikan, Gunawan mengatakan riset ini masih memerlukan kajian lanjutan, termasuk analisis farmakokinetik, mekanisme kerja, serta aspek keamanan sebelum dapat diuji pada manusia.
"Ke depan, tim peneliti akan melakukan analisis fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif, mengoptimalkan sistem penghantaran zat aktif, serta memperdalam kajian mekanisme kerja dan aspek keamanan," pungkasnya.
(wur/wur)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277129/original/053973300_1751984892-persib.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425451/original/060959200_1764227597-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Persija_vs_PSIM_Jogja__1_.png)
