Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Amerika Serikat (AS), kini benar-benar mengaku dalam "malapetaka". Bahkan ada krisis yang sedang menerjang dan lebih besar dari Covid-19.
Sejumlah pengusaha "teriak" akan sulitnya situasi yang mereka hadapi. Salah satunya CEO Dilworth Coffee, Jeff Vojta, yang berbasis di Raleigh, Carolina Utara.
Ia mengaku mendapatkan cobaan bertubi-tubi. Di 2024, ia menghadapi buruknya panen kopi Brasil yang memicu lonjakan harga kontrak berjangka kopi hingga ke rekor tertinggi.
Tahun berikutnya, kebijakan tarif global Presiden Donald Trump kembali mendongkrak harga kopi lebih tinggi lagi. Lalu, tahun ini, pecahlah perang dengan Iran, ditambah lagi dengan fenomena Super El Niño.
"Mulai dari gangguan pengiriman, kelangkaan kontainer, tingginya biaya akibat situasi di Laut Merah, hingga mahalnya harga pupuk," katanya merujuk CNN International, Senin (21/9/2026).
"Kita sedang menghadapi masa gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya," tambahnya."
"Situasinya benar-benar penuh ketidakpastian."
Vojta bukan satu-satunya. Di seluruh penjuru negeri, para pemilik bisnis dari berbagai sektor mengaku menghadapi situasi serupa.
Sebuah survei bulanan yang menjadi acuan penting dari Institute for Supply Management menunjukkan bagaimana sejumlah pemimpin bisnis membandingkan iklim bisnis saat ini dengan masa pandemi. Menurut mereka, kondisi saat pandemi justru lebih baik.
Gangguan besar-besaran dan ketidakstabilan harga memaksa pelaku bisnis mengambil keputusan yang sangat sulit. Mereka bingung harus menyusun rencana seperti apa, sementara pelanggan yang sudah waswas akibat inflasi tentu tidak ingin melihat kenaikan harga lagi.
"Ini jelas masalah yang lebih besar daripada Covid," kata Direktur Pogram University of Denver, Jack Buffington.
"Situasinya benar-benar berbeda. Ini adalah masalah energi," tambahnya.
Guncangan Ekonomi Sementara?
Sebenarnya, pemerintahan Trump berupaya menggambarkan perang dengan Iran hanya sebagai guncangan ekonomi sementara. Ia meyakini bahwa begitu masalah ini usai, lonjakan inflasi akan segera mereda dengan sendirinya.
"Harga minyak akan turun drastis begitu perang dengan Iran dimenangkan," ujar Trump dalam unggahan di Truth Social pada Hari Buruh AS.
"Semuanya akan terjadi dengan cepat," klaimnya.
Namun, berbagai kendala rantai pasok yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang dihadapi para pemilik bisnis di AS, menunjukkan mengapa inflasi yang kembali melonjak ini tidak akan mudah diatasi. Bahkan jika perang tersebut secara ajaib berakhir besok.
Kompleks
Pada pertengahan Juni, saat Selat Hormuz sempat dibuka kembali setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman, harga bensin turun hingga di bawah US$4 per galon dan harga minyak merosot ke bawah level sebelum perang. Namun, banyak hal telah berubah sejak bulan Juni.
Tingginya harga bahan bakar dan biaya pengiriman mulai berdampak pada sektor-sektor ekonomi lainnya. Inflasi inti-yang tidak memperhitungkan harga energi dan pangan yang fluktuatif-mengalami kenaikan terbesar bulan lalu sejak April.
Dampaknya terlihat pada kenaikan harga jasa. Padahal biaya ini biasanya tidak turun kembali setelah sempat naik.
Harga solar pun telah melonjak dua kali lipat sejak Maret akibat eskalasi perang di Timur Tengah dan serangan terus-menerus Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Di sisi lain, biaya pengiriman juga meningkat akibat semakin seringnya gangguan cuaca, termasuk terjangan badai topan berturut-turut yang sempat melumpuhkan operasional Pelabuhan Shanghai (pelabuhan peti kemas terbesar di dunia) selama dua minggu dan terus menyebabkan penundaan yang signifikan.
Mengakhiri konflik yang melibatkan Iran-sebuah tugas yang sangat berat-tidak akan menyelesaikan masalah larangan ekspor solar Rusia, yang telah memangkas 12% pasokan solar dunia yang didistribusikan melalui jalur laut. Langkah tersebut juga tidak dapat mengubah kondisi cuaca.
Selain itu, hal tersebut tidak akan menghentikan kembali maraknya aksi pemberontak Houthi (sekutu Iran) di Laut Merah dan pembajak laut Somalia di Teluk Aden. Kedua hambatan ini memaksa perusahaan pelayaran untuk mengubah rute kapal agar mengitari seluruh benua Afrika demi menghindari serangan.
"Akibatnya, kapasitas pengiriman global berkurang sebesar 15% tahun ini," kata Ryan Petersen, CEO Flexport, sebuah platform perangkat lunak logistik dan rantai pasok.
"Saya telah berkecimpung di dunia logistik selama 25 tahun, dan saya belum pernah melihat situasi seburuk ini," ujarnya.
Di Titik Kritis
Menurut CEO Ravenox, perusahaan produsen tali dan tali pengikat, Sean Brownlee, dunia usaha AS kini berada di titik kritis. Tentunya, tambahnya, usaha kecil adalah paling terdampak.
"Usaha kecil akan berupaya menanggung beban biaya semampu mereka hingga batas akhir," kata Brownlee.
"Saat ini, kami merasakan tekanan yang sangat berat... Masalah ini benar-benar berdampak langsung bagi kami," ujarnya."
"Kami hanya menginginkan kepastian."
Lebih Buruk dari Masa Covid-19
Survei ISM menunjukkan bagaimana situasi rantai pasok saat ini merupakan "krisis yang bahkan lebih besar dan lebih rumit dibandingkan masa selama dan setelah Covid". Bagaimana bisa?
Pada tahun 2020, kapal-kapal kontainer tertahan selama berminggu-minggu saat mencoba memasuki pelabuhan. Toko-toko kehabisan stok tisu toilet, masker, atau cairan pembersih tangan.
Memang, rantai pasok praktis terhenti total. Tapi, perlahan-lahan, hal ini mulai berjalan kembali.
Namun, masalah sekarang sangatlah berbeda. Pengiriman berjalan lalu berhenti, memburuk, membaik drastis, dan kemudian memburuk lagi secara signifikan, lalu harga naik, turun, serta melonjak tinggi kembali.
"Rantai pasok tetap berjalan, namun dengan biaya, hambatan, dan ketidakpastian yang jauh lebih besar dibandingkan masa Covid," ujar Brownlee menegaskan volatilitas ekstrem tersebut menciptakan kekacauan bagi para pemimpin bisnis.
"Covid sangat menakutkan," tambahnya.
"(Tapi) situasi ini lebih membuat stres. Kita sedang menghadapi periode gangguan yang belum pernah kita alami sebelumnya."
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340905/original/042907900_1788529611-IMG_6511.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340290/original/025401600_1788499994-Raihan1.jpg)