Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Nvidia, Jensen Huang, melontarkan pernyataan kontroversial di tengah memanasnya debat keamanan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Ia dengan tegas menepis kekhawatiran bahwa teknologi pintar ini bakal memusnahkan umat manusia.
"Tahun 2030 bukanlah akhir dunia," ujar Huang kepada CBS News, dikutip dari MoneyWise, Senin (21/9/2026). "Peluang hal itu menjadi akhir dunia adalah 0%," Huang menambahkan.
Sebagai informasi, Nvidia merupakan salah satu penerima manfaat utama dari ledakan industri AI. Produsen chip AI kawakan tersebut terus-terusan mencatatkan laba yang memecahkan rekor.
Huang sendiri kecipratan rezeki melimpah. Menurut laporan Forbes, Huang kini tercatat sebagai orang terkaya ke-7 di dunia dengan harta kekayaan US$192,5 miliar atau setara Rp3.438 triliun.
Huang bahkan menyebut peringatan-peringatan yang dilontarkan oleh lab riset industri AI sendiri sebagai "narasi kiamat" yang mengada-ngada. Menurutnya, ketakutan tersebut sama sekali tidak didasarkan pada sains, sehingga tindakan menakut-nakuti publik dinilai tidak perlu dan tidak bertanggung jawab.
Pernyataan ini dilontarkan Huang hanya berselang beberapa hari setelah empat pelanggan berbayar mengajukan class action di pengadilan federal San Francisco terhadap raksasa AI, termasuk Anthropic, OpenAI, Google, dan SpaceXAI milik Elon Musk, atas dugaan persekongkolan ilegal untuk memperlambat laju industri AI.
Gugatan Hukum Menjerat Aliansi "Rem AI"
Gugatan yang didaftarkan pada 18 September ke Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara California itu menuduh para raksasa teknologi melanggar Pasal 1 Undang-Undang Sherman (Sherman Act). Para pengguna layanan berbayar ChatGPT, Claude, Grok, hingga Gemini menilai kesepakatan kolektif untuk mengerem perkembangan AI merupakan bentuk pelanggaran hukum antimonopoli.
Kontroversi ini berawal dari esai CEO Anthropic, Dario Amodei, pada 12 September lalu. Ia menyerukan koordinasi lintas industri untuk memperlambat laju pengembangan AI menyusul insiden bulan Juli, di mana agen uji OpenAI kedapatan membobol sistem perusahaan lain secara otonom.
Seruan Amodei langsung didukung oleh para petinggi industri lainnya, termasuk CEO OpenAI Sam Altman, Elon Musk (xAI), dan pendiri Google DeepMind Demis Hassabis.
Kendati demikian, para penggugat menilai langkah tersebut cacat hukum. "Undang-undang antimonopoli tidak mengizinkan para pesaing untuk memutuskan di antara mereka sendiri bahwa persaingan terlalu berbahaya," tegas Nick Rowley selaku pengacara utama para penggugat.
Kepentingan Bisnis Raksasa di Balik Perdebatan Keselamatan
Posisi Huang sendiri dalam perdebatan ini tidak bisa dibilang netral. Nvidia, perusahaan paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar mencapai US$5,3 triliun, merupakan pemasok utama chip yang menggerakkan model-model AI yang kini diminta untuk "direm" pertumbuhannya.
Terlebih lagi, Nvidia baru saja mengumumkan akuisisi platform AI Hugging Face senilai hampir US$13 miliar. Langkah ini dilakukan hanya beberapa pekan setelah agen uji OpenAI dilaporkan merobos sistem live Hugging Face tanpa arahan manusia.
Kendati insiden demi insiden terus bermunculan, termasuk laporan OpenAI pada 17 September terkait enam kasus perilaku model AI yang dianggap "mengkhawatirkan", Huang tetap bersikeras bahwa regulasi tambahan tidak diperlukan.
Ia menilai hukum siber dan pertanggungjawaban hukum yang sudah ada saat ini sudah cukup untuk menangani potensi pelanggaran. "Terapkan itu terlebih dahulu-jangan biarkan narasi kiamat ini membebaskan mereka dari hukum yang berlaku saat ini," cetus Huang.
Garis Batas Politik: Trump Pasang Badan, Washington Terbelah
Sikap keras Huang ini sejalan dengan pandangan Presiden Donald Trump. Dalam sebuah panggilan telepon yang diperdengarkan Huang di atas panggung All-In Summit di Los Angeles, Senin (14/9), Trump menyebut seruan untuk memperlambat AI sebagai strategi politik yang merugikan AS sekaligus "sebuah hoaks".
"Itu bisa berupa orang-orang politik. Bisa juga China. Dan kita tidak akan membiarkan itu terjadi. Itu adalah sebuah hoaks," tegas Trump, yang langsung disambut tepuk tangan hadirin, termasuk Huang.
Trump bahkan melontarkan serangan personal kepada Dario Amodei lewat media sosial Truth Social, menyebut isu keselamatan AI sebagai penipuan dan menegaskan tidak ada urgensi untuk menerbitkan regulasi tambahan.
Di sisi lain, para petinggi lab AI dan kalangan politikus di Kongres AS masih terbelah tajam. Kubu Demokrat terus mendesak pengawasan regulasi AI secara menyeluruh, sementara kubu Republik cenderung mengekor sikap skeptis pemerintahan Trump.
Di tengah silang sengketa regulasi, ancaman gugatan hukum di pengadilan federal kini siap menguji apakah para raksasa teknologi ini bisa terus mengatur standar keamanan secara mandiri atau justru tersandung palu hukum antimonopoli.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340905/original/042907900_1788529611-IMG_6511.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340290/original/025401600_1788499994-Raihan1.jpg)