Jakarta, CNBC Indonesia - Dekan dan CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan daftar negara yang mampu lepas dari jebakan status negara berpendapatan menengah menjadi negara maju atau middle income trap.
Deretan negara ini kata dia dapat menjadi model bagi Indonesia untuk melakukan pembenahan struktur ekonomi untuk keluar dari status negara berpendapatan menengah atas menjadi negara berpendapatan tinggi. Pemerintah menargetkan Indonesia bisa menjadi negara berpendapatan tinggi alias negara maju sebelum 2045.
"Saat ini ADBI sedang melakukan studi unggulan (flagship study) kami mengenai cara menghindari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) bagi negara-negara Asia berpendapatan menengah atas. Dan tentu saja, Indonesia termasuk di dalamnya," kata Bambang dalam acara Indonesia Economic Summit, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Bambang mengatakan setidaknya ada 38 negara yang berhasil lepas dari middle income trap. Hampir separuhnya berasal dari Eropa, terutama Eropa Timur. Hal itu tentu tidak lepas dari manfaat menjadi anggota Uni Eropa (UE).
Namun, dari 38 negara itu, Bambang mengatakan, setidaknya ada 3 negara yang memiliki karakteristik ekonomi seperti Indonesia, yang bisa menjadi contoh untuk memperbaiki kondisi fundamental ekonomi supaya bisa menjadi negara maju. Tiga negara itu kata dia adalah Korea Selatan, Polandia, dan Chili.
"Ketiganya berasal dari tiga benua yang berbeda, namun negara-negara tersebut bukanlah negara kecil dan juga bukan negara yang hanya bergantung pada satu mesin ekonomi saja. Maksud saya, mereka bukan negara yang semata-mata kaya minyak atau sumber daya tertentu," kata Bambang.
Khusus untuk Korea, Bambang mengatakan, sangat menekankan sektor manufaktur untuk lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah. Namun, mereka tidak hanya sekadar melakukan manufaktur, melainkan juga berupaya memanfaatkan inovasi melalui investasi yang sangat besar di bidang riset dan pengembangan atau R&D.
Rasio investasi R&D terhadap PDB di Korea Selatan merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, dengan lebih dari 5% PDB mereka dialokasikan untuk R&D. Dengan pendekatan tersebut, Korea Selatan mampu menjadi negara yang berhasil keluar dari middle income trap.
Adapun Polandia, merupakan negara yang mampu memanfaatkan keanggotaannya di Uni Eropa untuk bisa memajukan perekonomiannya. Kata Bambang, negara itu mampu melakukan integrasi ekonomi dengan organisasi kawasan, ditambah dengan penguatan modal manusia yang sangat kuat.
Modal manusia ini, bisa dibilang, telah dibangun sejak sebelum runtuhnya Uni Soviet. Setelah itu, Polandia memanfaatkan modal manusia tersebut dengan dukungan institusi yang kuat.
"Perlu diingat, untuk bergabung dengan Uni Eropa, sebuah negara harus memenuhi banyak persyaratan yang sangat ketat. Namun, persyaratan tersebut justru membantu memperkuat institusi negara. Dengan institusi yang kuat dan modal manusia yang kuat, Polandia kini mencatat pertumbuhan pendapatan per kapita tertinggi di dunia," tegasnya.
Sedangkan Chile, menurut Bambang bisa menjadi contoh karena sama-sama dianugrahi sumber daya alam yang melimpah, sebagaimana Indonesia. Chile adalah produsen tembaga terbesar di dunia, baik dari sisi pertambangan maupun pengolahan tembaga.
Namun Bambang mengingatkan, keberhasilan Chile tidak semata-mata karena tembaga. Mereka mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alamnya. Plus memperkuat ekspor di sektor lain seperti pertanian dan perikanan.
"Bukan hanya tembaga, Chile juga cukup kuat dalam ekspor produk lain, misalnya anggur dan salmon. Ini berkaitan dengan sektor pertanian dan perikanan. Namun, tujuan utama Chile adalah memperoleh nilai setinggi mungkin dari produk sumber daya alam mereka," tegasnya.
Dari situ, Bambang mengatakan, setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa menjadi kunci Indonesia untuk segera lompat menjadi negara berpendapatan tinggi.
Pertama, Indonesia harus memperdalam sektor manufaktur, termasuk hilirisasi, dengan mengikuti pendekatan Korea Selatan. Tentu saja, hal ini harus didukung oleh pemanfaatan teknologi.
Investasi R&D Indonesia terhadap PDB masih di bawah 0,5%, bahkan jauh di bawah standar negara berpendapatan menengah atas, yang rata-rata sekitar 2,1%.
"Jadi, meskipun kita tergolong negara berpendapatan menengah atas, saya bisa mengatakan bahwa kita agak beruntung berada di posisi tersebut bukan karena inovasi, melainkan karena sumber daya alam. Inilah alasan mengapa pendalaman manufaktur dan hilirisasi menjadi sangat penting," ucap Bambang.
Kedua, memajukan perekonomian juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan perbaikan institusi sebagaimana yang dilakukan Polandia. Indonesia membutuhkan institusi yang kuat untuk menjamin kesinambungan kebijakan, koordinasi, serta peningkatan kredibilitas, dengan diiringi kualitas modal manusia atau human capital yang tinggi.
Terakhir, menerapkan teknologi untuk memperoleh nilai tambah yang lebih tinggi dari sumber daya alam, termasuk di sektor pertanian. Jadi, menurut Bambang jangan mengesampingkan pertanian sebagai sektor potensial untuk membantu Indonesia menghindari ancaman jebakan pendapatan menengah.
"Karena beberapa negara, termasuk Jepang, telah membuktikan bahwa mengekspor produk pertanian bernilai tambah tinggi dapat sangat membantu meningkatkan daya saing suatu negara," ucapnya.
Sebagai informasi, Bank Dunia menetapkan Indonesia sebagai negara berpenghasilan menengah atas. Hal ini berdasarkan klasifikasi terbaru Bank Dunia dari Gross National Income (GNI) atau Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita.
Bank Dunia membagi perekonomian dunia menjadi dalam empat kelompok, yakni pendapatan rendah, menengah ke bawah, menengah ke atas, dan pendapatan tinggi. Kalsifikasi diperbarui setiap tahun pada tanggal 1 Juli berdasarkan GNI per kapita.
Diukur berdasarkan GNI per kapita pada tahun sebelumnya, maka Bank Dunia menetapkan Indonesia sebagai negara kelas menengah atas dengan nilai pendapatan per kapita US$ 4.580 pada 2022.
Untuk diketahui, Indonesia sudah pernah masuk ke dalam kelompok negara menengah atas pada 2019, namun karena pandemi Covid-19 membuat Indonesia kembali turun ke kategori menengah bawah selama dua tahun beruntun, dan kini kembali naik.
Kendati demikian, untuk mencapai target berpenghasilan tinggi, Indonesia masih jauh dari angan. Karena untuk mencapai negara berpenghasilan tinggi, rata-rata pendapatan masyarakatnya harus mencapai US$ 13.845.
Berikut kategori atau klasifikasi pendapatan negara menurut Bank Dunia per 1 Juli 2023 sampai 2024:
- Negara berpendapatan rendah US$ 1.135 ke bawah, ambang batas ini naik dari sebelumnya US$ 1.085
- Negara pendapatan menengah bawah US$ 1.146 sampai US$ 4.465, ambang batas ini naik dari sebelumnya US$ 1.086 sampai US$ 4.255.
- Negara pendapatan menengah atas US$ 4.466 sampai US$ 13.845, ambang batas ini naik dari sebelumnya US$ 4.256 sampai US$ 13.205
- Negara pendapatan tinggi memiliki US$ 13.845, ambang batas ini naik dari sebelumnya US$ 13.205.
(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5372801/original/040806000_1759769523-1000224866.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376586/original/086524400_1760009433-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_15.16.27.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5379723/original/026526700_1760356768-1000294045.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5338912/original/039061000_1756988370-2N3A9178.JPG)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378193/original/050455500_1760219906-TIMNAS_INDONESIA.jpg)